Tahun ini perayaan Hari Puisi Indonesia yang dilaksanakan rutin saban tahun oleh Yayasan Hari Puisi Indonesia (YHPI) ke-9 digelar secara luring dan daring. Kali ini YHPI merayakan HPI yang jatuh pada 26 Juli dengan berbagai macam kegiatan, yaitu; Lomba Baca Puisi Digital, Lomba menulis Puisi Grup FB Hari Puisi Indonesia, Pemilihan Komunitas dalam Penyelenggaraan Hari Puisi Indonesia, Seminar Internasional, Pekan Perayaan Hari Puisi Indonesia, Sayembara Buku Puisi Anugerah Hari Puisi dan pemberian Anugerah Kepenyairan Adiluhung 2021.

Puncak acara yang juga disiarkan daring lewat zoom kemarin malam (28/11) dihadiri ratusan orang dari berbagai kalangan, tidak hanya masyarakat sastra Indonesia. Acara yang dipandu oleh Ewith Bahar ini bertempat di Teater Kecil Taman Ismail Marzuki (TIM), Jakarta pada pukul 20.00-24.00 Wita.

Berikut pengumuman para pemenang perayaan Hari Puisi Indonesia 2021:

Lomba Baca Puisi Digital:

Juara 1 Ahmad Yani (Jambi)
Juara 2 Bilqisth Zakiyyah (Bali)
Juara 3 Hasan Maali (Jawa Timur)

Lomba Cipta Puisi Grup FB HPI:

Juara 1 Yudhistira ANM Masardi, Pertanyaanmu Menemukanku
Juara 2 Yahya Andi Saputra, Isolasi Virtual
Juara 3 Ewith Bahar, Imigran Digital
Favorit 1 Zulfaisal Putera, Kata Kata di Layar Gawai
Favorit 2 Warih Wisatsana, Unduh Unggah
Favorit 3 Kurnia Effendi, Candu

Anugerah Kepenyairan Adiluhung 2021 diberikan kepada Sutardji Calzoum Bachri

Anugerah Komunitas Penyelenggara HPI terbaik yang diraih oleh Pustaka Kabanti, Sulawesi Tenggara.

5 Buku Puisi Pilihan yang masing-masing mendapatkan hadiah berupa tropi, piagam, dan uang tunai Rp. 10.000.000,00 diberikan kepada;

  • Seiska Handayani (Medan), Lepas Muasal
  • Tatan Daniel (DKI Jakarta), Pada Suatu Hari yang Panjang
  • Oppa Rudi Fofid (Maluku), Suara-Suara dari Arafuru
  • Dedi Tarhedi (Tasikmalaya), Ibu, Kota, Kenangan
  • Adri Darmadji Woko, Poe (Depok)

Buku Puisi Terbaik Anugerah Hari Puisi Indonesia 2021 dimenangkan oleh Wayan Jengki Sunarta (Bali), Jumantara. Dengan demikian, Jengki berhak mendapatkan hadiah berupa tropi, piagam penghargaan, dan uang tunai Rp. 50.000.000,00

PERIHAL JUMANTARA

Saya berhasil mengontak jawara Sayembara Buku Puisi HPI 2021 yakni Wayan Jengki Sunarta lewat telepon. Jengki sapaan akrabnya mengaku terkejut karena panitia tidak ada menghubungi dirinya sama sekali. Ia beranggapan tahun ini tidak menang, apalagi panitia tidak ada mengumumkan daftar panjang nomine seperti tahun sebelumnya. Hal senada juga diungkapkan penyair Tasik, Dedi Tarhedi yang tidak menyangka sama sekali bukunya masuk sebagai 5 buku puisi pilihan. “Setiap tahun Om memang hadir ke acara HPI di Jakarta. Om gak tahu sama sekali kalau buku puisinya; Ibu, Kota, Kenangan terpilih menjadi Buku Puisi Pilihan 2021.” Ungkap Dedi Tarhedi saat dihubungi via telepon pagi kemarin dalam perjalanan pulang menuju Tasikmalaya.

Jumantara yang menjadi jawara buku puisi adalah kumpulan puisi Jengki yang dirilis Agustus 2021. Buku ini didedikasikan untuk mahaguru yaitu penyair Umbu Landu Paranggi yang kini berada di Ruang Sunyi, namun spiritnya tetap menyala dan bercahaya dalam jiwa.

“Sejak awal mula saya menapaki jalan puisi pada tahun 1990-an, puisi selalu memberikan banyak kemungkinan dan kejutan tak ternilai.” Lebih lanjut dalam pengantar Jumantara bagi Jengki puisi adalah anugerah Semesta yang memberkati pengembaraan batinnya menjelajahi rimba kehidupan.

Jumantara yang secara harfiah berarti awang-awang, udara, langit, atau angkasa.

Bagi Jengki, inspirasi dalam menulis puisi seringkali muncul tiada terduga dari awang-awang yang kemudian diwujudkan dalam proses dan kerja kreatif kepenyairan. Namun, tentu ia tidak menampik bahwa inspirasi juga bisa muncul dari pergaulan, pengalaman, maupun interaksi dengan berbagai segi kehidupan.

Ketika puisi tercipta dan dipublikasikan, pada akhirnya ia menjadi milik kehidupan, udara, langit, angkasa, bahkan semesta. Dari awang-awang ia kembali ke awang-awang, kembali kepada kesunyian puisi itu sendiri.

Buku Jumantara diterbitkan berkaitan dengan anugerah Bali Jani Nugraha 2020 yang Jengki terima dari  Pemerintah  Provinsi Bali melalui Dinas Kebudayaan Provinsi Bali atas dedikasi di bidang Sastra. Buku ini merangkum enam belas puisi panjang. Membukukan puisi-puisi panjang memang menjadi keinginan Jengki sejak lama. Tematik puisi-puisi dalam buku ini melingkupi persoalan karma, takdir, reinkarnasi, spiritualitas, pengembaraan dan dialog batin.

Puisi-puisi ini pernah dimuat secara terpisah di beberapa buku kumpulan puisi terdahulu. Namun, dalam buku ini puisi-puisi tersebut sebagian besar telah mengalami pengeditan ulang, terutama dalam hal diksi dan tipografi. Tiga puisi pernah bertransformasi menjadi prosa (cerpen), yakni Cakra Punarbhawa, Pengelana Tanah Timur, dan Balada Sang Putri.

Dua Puisinya berjudul Sarkofagus Alasangker dan Singaraja pernah masuk dalam rampai puisi Wajah Deportan, Antologi Puisi Penulis Muda Lintas Provinsi terbitan Komunitas Teras Puitika Banjarbaru bekerjasama dengan Pusat Bahasa Departemen Pendidikan Nasional Jakarta 2009.

Dalam buku ini, Jengki juga memuat seri puisi-prosa berjudul Igau yang belum pernah ia terbitkan. Karya ini ia tulis dengan cara mengigau mengikuti arus bawah sadar; tentu saja ia mengeditnya kembali setelah igauan usai ditumpahkan. Hal ini Jengki lakukan sebagai bagian dari bentuk eksperimen dan memberi kemungkinan baru dalam penciptaan sastra. Berikut Puisi Igau:

Igau

(i)

Aku telah berada di luar hitungan cuaca. Sepi masih sebatang kara ketika aku lahir dalam keabadian perjalanan. Perempuan itu telah kabur tadi malam. Ia menyulap dirinya menjadi garam. Ia larut dalam hamparan luas lautan.

Segala kesia-siaan membuntutiku dalam hitungan detik di mana kau merayakan kesuciannya. Hanya hati yang mengerti bahasa angin atau isyarat laut dalam kedukaan maha panjang.

Apakah malam akan paham segala yang diceritakan angin? Hanya sebuah boneka lucu tergolek di sofa tanpa kau berani menyentuhnya dengan keindahan tubuhmu. Kau sendiri telah menjelma boneka molek tanpa kau sadari.  Seharusnya  kau tahu apa saja telah dikerjakan sunyi dalam diri kita. Betapa menyebalkan kemalasan hari senja. Tak ada kesalahan pada langkah dan perjalanan.

Aku melihat taman ditumbuhi lumut dan batu pagi. Taman itu mekar dalam hatimu yang paling kelam. Bunga-bunga tumbuh dari luka masa kecilmu. Ah, kau tidak akan mampu melukiskan apa pun dalam perjalanan yang telah kau lalui setelah senja itu sirna kembali ke asal waktu yang kau ciptakan dalam setiap angan.

Hujan telah lama henti. Kau kembali menemani hari yang beringsut ke kelam kehidupan. Sebatang rokok akan terjatuh dari jarimu. Kau akan melompat dari loteng. Jurang menganga dalam jiwamu paling indah. Kematian memang menanti dengan janjinya. Namun kau masih mengarungi kehidupan yang sesungguhnya telah lama henti.ku menuliskan jejak terindah yang telah kau rampungkan dalam setiap duka perjalananmu. Kau pergi ke dalam gua diri. Hanya sekuntum bunga rumput menemani sepimu. Kerikil berloncatan dari matamu yang menyala serupa fajar pagi di mana orang-orang melangkah gontai menggapaimu. Semua terasa semu dalam hari yang hampa. Kita hanya pejalan de- ngan jalan yang kita ciptakan sendiri. Hari akan segera lewat dengan kereta kencana berlumuran darah.

Aku tidak mampu lagi menulis kata-kata terindah yang pernah terekam dalam kepala sang nabi itu. Serupa bambu aku gontai bersama angin. Kau merentangkan sayap lukamu ke arahku serupa pendulum di meja tukang sihir yang telah menghasutmu dengan peta dan kompas tak terbaca.

Kitab-kitab usang telah ditumpuk di tungku pembakaran. Sebentar lagi akan musnah dalam kejam api. Lalu akan muncul sosok yang kau rindukan. Segumpal daging puisi dari abu masa silammu.

(ii)

Hanya suara di keheningan denting sitar. Hanya suara di keheningan nadi. Hanya suara di keheningan kelahiran. Dan malam merasuk ke dalam tembok istana. Dan kita tidak pernah bisa menduga apa yang telah diperbuat orang-orang yang menganggap dirinya suci.

Sebuah meja dengan darah berlumuran. Sebuah meja dengan mimpi indah. Tapi mengapa kau selalu rindu masa lalu. Apakah kematian akan datang mengendap-endap seperti pencuri. Kau sendiri berkhianat kepada dirimu.

Kematian menyamar dalam wajah perempuan yang merayumu tadi malam. Dan apakah kita telah sampai di situ. Aku rasa ganggang laut akan melumatmu ke dalam larutan garam. Di mana kau tambatkan perahu ketika Nuh tidak muncul dengan dayung patah?

(iii)

Senja mulai dengan angan-angan gilanya. Hari mendung dan hujan turun dengan jari-jari menawan. Aku sendiri. Secangkir kopi di meja terlihat kusam dan membosankan. Segeralah aku kembali kepada diri. Kemanakah segala yang telah terjadi? Semua menjadi perhentian akhir. Maka mari kita lari dari kenyataan yang lebih rumit. Kita membunuh waktu sepuas kita. Lalu kita akan tahu betapa hari begitu melelahkan ketika senja tiba dalam diri kita. Apakah waktu memintamu menjauh dariku?

Kita telah paripurna. Badai dan ombak mulai surut. Jangan berhenti, jangan berhenti, jangan berhenti.  Teruskan  jalanmu mencapai rumah kerang yang ternganga di tepian pantai itu. Lalu akan kau temukan mercusuar menyala di kegelapan hatimu yang menawan malaikat-malaikat bermata biru.

Akan kau bawa ke mana jiwa luka manusia, selain hanya mengajarkan hal sia-sia pada waktu yang terus merambat ke puncak hidupmu dan kau tidak pantas mendapatkan apa yang dijanjikan dewa kepadamu.

Beri saja sepotong jarimu untuk semua mahkluk yang kau ciptakan demi hujan yang terus berderai. Lewat cermin itu kau akan membuka tabir bumi dan langit di mana dirimu sendiri tiada.

Kita menjadi permainan itu. Lalu apa daya kita seusai percintaan memabukkan? Segeralah kejar apa yang kau rasa, apa yang kau ingin, apa yang kau damba dalam jiwamu paling kelam. Jangan berhenti, jangan berhenti.

(iv)

Hujan membiaskan bayang wajahmu di pelupuk mataku. Aku dengar musik kematian lamat-lamat mengalun dari kedalaman jiwamu. Jangan berhenti. Teruskan saja langkahmu. Tiriskan saja kesia-siaanmu. Ayo, kau orang punya jiwa. Mata menari seumur melodi. Tidakkah kau merasa sekutumu  menjauh? Kau akan ambruk dalam permainan ini. Oh, menarilah demi umurmu sendiri, demi waktumu, demi harimu, demi malaikatmu, demi iblismu.

Dan aku akan jalan. Dan kau akan diam. Persetan  dengan segala yang terjadi. Hari akan menepi seusai hujan dan janji airmata tidak akan tumpah di bias senja yang selalu jingga ketika kita terpana pada jiwa kelam sehingga kau mabuk setiap waktu di mana tuak membungkammu dalam kehampaan. Kau akan menjadi sekelumit bayangan.

Mabuklah kau dengan kata-kata api yang menyembur dari mulut Durga. Aku kira kau akan bernafas seperti kepiting atau keong comberan. Tapi apa yang kau kira kemalangan hansemu dari pikiran. Menari saja di deras hujan, kau akan temukan kebahagiaan yang telah dilupa orang. Hanya segelintir saja yang merasa hujan telah  membasuh  jiwanya. Kita telah menemukan kebahagiaan dalam segala macam bencana dan malapetaka.

(v)

Berikan saja milikmu demi menguras sampah dalam jiwamu. Tidak ada yang tak mungkin selama kau merasa mungkin. Cangkir kopi akan kembali kering dan kau tidak perlu ragu menjauh dari sisa-sisa waktu yang merongrong hidupmu dengan janji-janji busuk dan anjing-anjing jalanan akan membuka matanya demi jalan setapak itu. Lalu apa lagi kau tunggu? Seperti serigala buta, kau melolong ke arah purnama yang hampir lindap selama musim cinta.

Jalan hidupmu adalah cahaya dan kau menjauhi cahaya. Maka kegelapan adalah temanmu yang paling malang yang melintas dalam hidupmu lalu pergi dengan senyum paling setan. Dan apa pula makna di muka pintu kau taruh tanda duka sehingga mata perempuan itu hanya merunduk dalam senyumnya fana ketika kau tidak menyentuh segala yang ada dan terhidangkan di hadapanmu. Selalu saja kau sia-siakan nafasmu dalam perjalanan hidup yang makin rumit tanpa jeda.

Aku memikirkan segala lamunan dan halimun yang tak kunjung sirna di senja petaka negeri ini. Lalu apa yang kau tuangkan dalam bumbung waktu selain dukamu yang tidak abadi. Apa yang kau mau dari warna daun waru yang lindap dan berguguran. Kau ingin menjadi pusat segala cahaya matamu.

Mari kita kembali memasuki gua rahasia yang kita bangun bagi diri kita. Suatu saat gua itu boleh kita tingggalkan sebagai tanda mata kematian anak-anak kita. Kita telah terusir dari neraka dan mencoba mendambakan sorga di bawah kaki ibu yang malang, yang selalu kita khianati. Siapa ibu kita? Ia adalah ibu bumi yang senantiasa sabar menungggu kematianmu detik demi detik dan selalu tidak berdaya dengan dirinya sendiri.

Kau tak perlu melukai setiap manusia yang mampir ke dalam hidupmu. Apa pula yang kau harap dari bulan separuh menggantung di atas langit malam hidupmu? Semua akan kembali ke gua pengasingan yang paling kelam.

Aku kira kau akan menjadi fana dalam deras hujan dan hujan akan menjadi fana dalam kegaibanmu. Kau hanya menertawakan duka.  Apakah  batu  kubur  dan  arak  cukup  mampu melukiskan segala yang bernama kebenaran dalam setiap hidupmu dan setiap hitungan matahari yang mulai rabun oleh kegelapan dunia yang kita zolimi. Ah, aku hanya kesia-siaan, meratapi takdir di ujung pagi.

PUISI BAGI JENGKI

Jengki selalu beranggapan bahwa puisi-puisi yang ia ciptakan adalah anak-anak rohani. Mereka adalah bagian dari perjalanan hidup dan proses kreatifnya. Untuk itu, ia berkewajiban membuatkan ruang bagi keabadiannya.

16 Puisi dalam Jumantara adalah puisi-puisi yang ditulisnya di tahun 1998-2017. Puisi yang paling lawas adalah Candi Gunung Kawi (1998) dan paling mutakhir Yanwa Tanarsu (2017). Puisi Yanwa Tanarsu adalah kebalikan dari nama Jengki sendiri yakni Wayan Sunarta. Bagi kamu yang tertarik dengan buku puisi jawara HPI 2021 ini bisa menghubungi akun fb atau instagramnya. Selamat Jengki! Berikut puisi eksperimen Yanwa Tanarsu untuk kamu yang juga haus mencari, salam [email protected]

Yanwa Tanarsu

kau ada dalam diri-Ku
kita saling melengkapi
serupa madu pada sari bunga
seperti bintang dalam galaksi
lalu, mengapa kau
berjalan tidak tentu tuju

langkah letihmu telah mengikis waktu
dalam labirin itu kau serupa Minotaur
berapa tumbal lagi kau inginkan
untuk sampai pada kesejatian

sejak kau dilahirkan
kegelapan telah mengujimu
kau cuma menebar senyum
itulah sebab Aku mencintaimu

kau ingat, seekor monyet siluman
menjilati ari-arimu, lalu perutmu
digerogoti cacing-cacing desti
kau nyaris sekarat

sebilah keris kecil milik dukun sakti
merasuki keningmu begitu hangat
dia mati usai menyembuhkanmu
kau berutang kepadanya
karma bekerja dalam dirimu

kau meraung di siang lengang
sosok dukun yang lain
memberimu sekeping uang kepeng
dia juga mati usai menghiburmu
roda karma berputar dalam dirimu

sebagai kawan seperjalanan,
kematian begitu mengakrabimu
serupa langkah dan bayangan
seperti bibir dan senyuman

Aku merindukan kenakalan masa kanakmu
ketika kau bermain begitu riang
bersama memedi, dedemit, danyang
di tepi sungai, di ladang keramat, di gigir jurang,
di pesisir pantai, di petilasan tua,
di gunung dan hutan larangan

kau kasihi batu-batu,
kau cintai pohon-pohon
hatimu terharu pada hewan terlunta
dan kaum teraniaya
kau tumbuh dalam cahaya bulan
itulah sebab Aku mengasihimu

suatu waktu,
kau belajar mengenali diri
merambah jalan yoga-semadi
mengumpulkan cahaya niskala
dengan doa dan mantra
yang bergetar dan menggema
dalam bejana jiwa
empat saudara dari gua garba
memberi restu dan melindungimu

namun di lain waktu
kau melupakan empat saudaramu
bahkan kau lupakan dirimu
bagai kerbau dungu
kau berkubang dalam lumpur
yang kau buat sendiri

kini kau membangun labirin
menjebak diri dalam pusaran waktu
kau mendekam serupa Minotaur
menunggu pembebasan

bebaskan dirimu!
datanglah kepada-Ku
seperti dahulu

 

 

Facebook Comments