Apa boleh buat. Semenjak virus Covid-19 menginvasi bumi dua tahun ini, banyak kenormalan dalam hidup manusia yang telah hilang, atau terpaksa dilarang. Tak terkecuali ritual mudik menjelang lebaran Idul Fitri, yang dilarang untuk kali keduanya oleh pemerintah dengan dalih mengurangi penyebaran wabah.

Larangan mudik lebaran, berlaku 6-17 Mei 2021, tertuang dalam Surat Edaran Kepala Satgas Penanganan Covid-19 Nomor 13 Tahun 2021 tentang Peniadaan Mudik pada Bulan Ramadan dan Hari Raya Idul Fitri Tahun 1442 Hijriah.

Padahal, sekali dalam setahun kemewahan hidup manusia Indonesia itu salah satunya adalah mudik di saat menjelang lebaran Idul Fitri. Tidak ada negara lain yang ritual mudik lebarannya sedahsyat negeri ini; menjejali kereta-kereta api, menyesaki kapal-kapal laut, memenuhi bandar udara, berderap memadati jalan-jalan, semuanya menuju pulang ke kampung halaman, tempat seluruh kerinduan di kandung badan yang ingin ditumpahkan kala lebaran. Tetapi kini, pemandangan itu sudah tak ada lagi. Tidak kita lihat lagi di televisi. Dan sebagian kita pun sudah tak menjadi bagian dari mereka yang sepenuh gembira dalam perjalanan mudik itu.

Tahukah kita, barangkali ada banyak para perantau yang menabung dari uang keringatnya bekerja banting tulang siang malam hanya demi bisa mudik pulang kampung setahun sekali untuk berlebaran Idul Fitri? Seolah-olah itulah hal teristimewa dari seluruh perjalanan hidupnya selama setahun. Tapi kini, kita tahu, kemewahan itu telah dihempaskan. Untuk kedua kalinya. Dan tidak ada jaminan, tahun-tahun akan datang mudik tidak dilarang.

Tidak tahu, adakah kemewahan lain lagi selain mudik—yang sekali setahun itu, bagi manusia Indonesia yang hidupnya biasa-biasa saja?

Namun, dari beberapa obrolan dengan kawan asyikasyik yang berniat mudik, mereka tengah mengatur siasat bagaimana tetap bisa mudik dan lolos dari razia mudik. Berikut asyikasyik sarikan siasat yang disiapkan beberapa kawan itu. Sebagian siasat ini sepertinya hanya cukup ampuh untuk lokal Kalimantan Selatan, maklum kawan-kawan itu kebanyakan dari hulu sungai. Mudiknya dari Banjarmasin, Banjarbaru, atau Martapura, dengan tujuan hulu sungai atau ujung Kotabaru.

Bukan hendak menyarankan mudik, tetapi andai kamu memaksa untuk mudik, kiranya boleh dicoba 5 siasat mudik ala asyikasyik ini agar bisa sampai ke kampung halaman.

  1. Mudik Sebelum Tanggal 6 Mei

(Ini saran semua orang), karena larangan mudik lebaran berlaku mulai tanggal 6 Mei 2021, maka mudiklah sebelum tanggal itu. Jika Anda membaca tulisan ini saat awal tayang, tanggal 5 Mei, maka hari ini adalah waktunya, hari terakhir sebelum terjadi penjagaan dan razia mudik.

  1. Mudik dengan Pakaian Berkebun

Sebut saja nama pemberi saran ini Novy. Katanya, salah satu cara mudik ke daerah hulu sungai yang cukup aman adalah dengan berpakaian tukang kebun. Jadi, apabila di perbatasan atau pos penjagaan dicegat, bilang saja mau pergi berkebun. Untuk meyakinkan petugas bahwa memang mau ke kebun, maka sarannya lagi, jangan lupa bawa parang bungkul. Untuk bisa sukses menjalankan siasat ini, setidaknya Anda punya sedikit bakat acting.

  1. Mudik Pakai Kelotok

Kali ini saran oleh, kita sebut aja Agus. Menurutnya, mudik ke hulu sungai bisa pakai kelotok. Sebab tidak mungkin ada penjagaan atau razia mudik di sungai. Iya sih, ini masuk akal. Maka untuk cara mudik seperti ini, perlu disiapkan kelotoknya, entah disewa atau bagaimana.

  1. Mudik Jelang Sahur atau Malam Lebaran

Yang menyarankan ini namanya Takin—andai itu nama sebenarnya, mungkin Anda juga tidak kenal. Katanya, sebaiknya mudik menjelang sahur, karena di saat itu para penjaga mungkin sedang sahur, sehingga tak sempat mengawasi arus jalan. Atau, katanya, mudik pada malam lebaran, dengan pertimbangan malam itu para penjaga mungkin agak tak tega bila harus menyuruh putar balik karena sudah terbawa suasana lebaran. Dan akan lebih baik lagi, mudiknya sambil takbiran.

  1. Mudik Pakai Mobil Pemadam atau Ambulans

Ini tidak ada yang menyarankan, tiba-tiba terpikir saja. Mudik menggunakan mobil pemadam kebakaran atau ambulans memang antimainstream, tetapi peluang berhasil melewati petugas jaga mudik sangatlah besar. Jangan lupa nyalakan sirene—sudah pasti penjaga takkan menyetop. Soal bagaimana mendapatkan angkutan mobil pemadam dan ambulans, itu sepenuhnya terserah masing-masing pemudik.

Itulah 5 siasat bagaimana mudik di tengah larangan mudik yang patut dicoba, jika memang memaksa mudik. Namun, karena kemungkinan siasat ini juga dibaca oleh para petugas jaga itu, maka satu cara tambahan lagi yakni berdoa, semoga Allah SWT memuluskan jalan kalian mudik pulang ke kampung halaman.@

Facebook Comments