AKH… keterlaluan, sangat mengada-ada, hiperbola itu, yang lain juga ada bukan hanya dia, bukan hanya Isbedy. Kesadaran dan kesempatan, boleh jadi itu dua kata yang masih dipertanyakan di mana letak taut-nya, kesadaran dan kesempatan.

Isbedy dengan kesadaran penuh bahwa ada sesuatu ada hal ada peristiwa ada pikiran ada logika ada imajinasi ada ruang renung maka itu selalu membuka peluang untuk secepatnya menjadi kesempatan yang secara tegas harus ditangkap dikuasai diolah diimajinasikan diselami disetubuhi mengarah kepada titik penciptaan: puisi.

Dalam buku “DI ALUN-ALUN ITU ADA KALIAN, KUPU-KUPU DAN PELANGI” sangat kuat dan jelas betapa banyak serta ragam bentuk ragam sifat ragam rupa ragam warna. Kekuatan yang dibangun adalah kekuatan dari ragam-ragam itu.
Saya kutip bait awal puisi di halaman pertamanya:

maka berceritalah umur pada tubuhku
mengapa mata tak juga terpejam, mulut tak pernah diam
sedangkan waktu hampir fajar sebentar lagi berkawan
matahari jalanjalan akan menguap
embun jatuh di pelipis mataku

Bila dibaca tuntas keseluruhan puisi maka akan kita temukan diksi-diksi deskripsi sebagai tawaran dan juga sebagai pilihan penulisnya sebagai ruang peleburan proses kreatifnya. Peleburan aku lirik dalam puisi Isbedy sangat menggiring pembaca ikut dan bahkan bersatu terhadap apa yang sedang dilihatnya dilihat oleh kita.

Peristiwa melihat ini adalah kesempatan dan kesempatan pertama selayaknya dijadikan sumber utama oleh seorang penyair untuk diproses menjadi puisi.

Selain kuat dalam diksi-diksi juga keseluruhan puisi ada pula intensitas yang tinggi terbukti jelajah penayangan karya-karyanya di banyak terbitan tidak hanya di wilayah Indonesia tetapi juga di luar kepulauan negara kita.

Saya kutip pula bait akhir pada halaman akhir puisi Isbedy:

“semogalah kau mendapat terang”
Dari kebendaan (tubuh) berujung bukan kebendaan (doa)

Selamat menyelami ceruk-terdalam dari buku kumpulan.puisi Isbedy Stiawan ZS, penyair dari kota Lampung, [email protected]

Facebook Comments