Dalam acara diskusi tersebut, Munir menjelaskan bahwa peserta AFK diberi keleluasaan dalam pemilihan tema film pada tahun ini. Peserta hanya perlu mengirimkan karyanya dengan ketentuan sederhana, yakni harus digarap di Kalimantan dan menggunakan bahasa daerah masing-masing.

“Ini ditempuh untuk lebih meluaskan pembacaan terhadap karya para sineas dan hubungannya dengan situasi di Kalimantan itu sendiri, ” ujar Munir.

Adapun program kompetisi AFK 2020 bakal dibagi menjadi dua kategori. Pertama kategori ‘Mandau Perak’ untuk kalangan pelajar, serta kategori ‘Mandau Emas’ untuk mahasiswa/umum.

Selanjutnya, untuk program non-kompetisi, AFK 2020 kali ini akan menyajikan pemutaran layar dari sederet karya yang dikirimkan sineas lokal. Minimal mereka bakal memutarkan karya sineas dari lima provinsi yang ada di Kalimantan, masing-masing satu film.

Sajian utama dari program non-kompetisi adalah Bauntung Batuah (film pelajar), Lingkar Kalimantan (film perwakilan dari tiap provinsi di Kalimantan), Lestari (film bertema lingkungan), serta Jamu Tamu (film dari luar daerah Kalimantan).

“Format penyelenggaraan AFK 2020 kali ini bakal dikemas secara virtual saja. Maklum, Pandemi Covid-19 membuat semua kegiatan jadi harus serba daring. Hal ini pula yang harus ditaati pelaku sinema,” jelas Munir.

Kendati begitu, Munir mengatakan bahwa pihak AFK masih terus membaca kondisi penyebaran Covid-19.  Sehingga, jika ada situasi yang memungkinkan menggelar festival tahun ini secara offline (luring), maka pihaknya boleh jadi mengambil kesempatan tersebut, seperti tahun-tahun sebelumnya.

” Aruh Film Kalimantan punya visi dan misi yang besar, karenanya tidak sepantasnya ‘kalah’ dalam pertarungan melawan pandemi,” tandas Munir.@

Facebook Comments