Sebagai penikmat film yang belum sama sekali kesampaian ngebikin film, senang aja gitu ada sekelompok anak muda yang terpontang-panting menyiapkan sampai mewujudkan gelaran ini. Bertajuk Aruh Film Kalimantan (AFK) yang digelar oleh Forum Sineas Banua, yang sekali lagi patut kiranya untuk digelorakan berapi-api dan bergejolak dada. Betapa tidak, kegiatan ini tak sekadar menjadi festival film fiksi pendek sebagai perayaan, melainkan juga sebagai pergerakan sinema “dari dan bagi” pegiat film terkhusus di masyarakat Banjar, Kalimantan Selatan.

Sebelum sampai pada tahapan yang sekarang dilaksanakan di Gedung Balairungsari Taman Budaya, AFK telah dimulai seperti pra festivalnya begitu, berlabel “Layar Tajak” pada 2 November 2018 lalu, yang isinya adalah program pemutaran kompilasi film pendek karya sineas banua.

Bersesuaian dengan visi memasyarakatkan film, Aruh Film Kalimantan melalui sejumlah programnya tampak getol sekali mendekatkan bahkan menghangatkan chemistry antara film dengan masyarakatnya. Pemutaran film pada program “Layar Tajak” dilaksanakan di 5 kecamatan di Banjarmasin.

Etapi diluar semua tetek-bengek teknik yang begituan, apa sebenarnya visi-misi mereka yang sudah memutar kepala sampai melelahkan kaki dalam hal perwujudannya?

Perlu diketahui bersama, gaes! Sebagai misi, mereka meletakkan penghadiran tubuh dan jiwa sinema Kalimantan pada point pertama. Dilanjutkan dengan mewadahi perayaan kultur sinema bagi sineas dan warga Kalimantan di poin selanjutnya. Kemudian ingin sekali kegiatan seperti ini menjadi indikator perfilman di Kalimantan. Mereka bukan orang-orang besar tapi nyalinya besar sekali. Dan ini yang menjadi catatan penting para pegiat film agar tidak omdo tapi action go!

Lantas apa sebenarnya misi dalam penyelenggarann ini? Apakah berbau-bau politis? Nggak, gaes! Mereka ingin memasyarakatkan film yang tetap mengedukasi baik itu penikmatnya bahkan pembuatnya. Selain itu juga membentuk jaringan yang kokoh di Kalimantan. Kalimantan lho, ya! Bukan Kalsel saja. Keren, gak tuh!

Festival Film Pendek Tema Pusaka

Festival film yang sedang terselenggara ini mengangkat tema Pusaka. Menurut Ade Hidayat sebagai pelopor Forum Sineas Banua (FSB) dan memotori jalannya Aruh Film Kalimantan mengatakan, Pusaka seringkali disempitkan pada potensi Sumber Daya Alam (SDA) dan kebudayaan yang identik dengan satu atau dua etnis saja.

“Jadi melalui penggemukan tema dan pembacaan ulang ini, Pusaka dalam AFK diharapkan menjadi media mempelajari, memahami, serta mengalami kembali wajah dan jiwa Kalimantan saat sekarang ini. Saya kira iklim film di Kalimantan baru terbentuk selama beberapa tahun belakangan, terlihat bahwa tidak ada event besar dalam perayaan sebuah karya film. Terbukti hingga hari ini Kalimantan belum memiliki festival film pendek,” tegasnya.

Meski tak memungkiri, pernah ada beberapa komunitas film menilai festival yang dibuat masih berorientasi pada lomba atau masih berorientasi pada nilai materi hadiah yang berujung pada nilai-nilai festival atau perayaan tidak disentuh dalam rangkaian acara.

“Terlebih tidak ada ruang apresiasi dalam bentuk ekshibisi dan diskusi tentu membuat festival menjadi hambar. Maka penting untuk mengapresiasi lebih jauh perjalanan film pendek di Kalimantan. Sebagai suatu peristiwa pergerakan budaya yang muncul dan memberi pengaruh bagi praktik hidup masyarakat, khususnya masyarakat pecinta film,” paparnya, bru!

Yang terspecial dalam gelaran AFK ini yakni adanya program non-kompetisi di antaranya LESTARI (Film Lingkungan), KAGANANGAN (Film Retrospeksi), BAUNTUNG BATUAH (Film Pelajar), NGOFI: JAMU TAMU (Film Pendek Tamu), LINGKAR KALIMANTAN”(Film dari Sineas Kalimantan), dan LAYAR TAJAK (Pemutaran film di tengah masyarakat).

“Sedangkan untuk program kompetisi terdapat dua kategori. Yakni Film pendek mahasiswa dan umum (Mandau Emas). Dan Film Pendek Pelajar (Mandau Perak).  Lalu, ada pula program edukasi; seminar dan master class, serta temu komunitas,” ingatnya berapi-api.

Sekadar diketahui, ya, gaes! Biar gak gagap komunitas, Aruh Film Kalimantan itu dilaksanakan Forum Sineas Banua (FSB), kumpulan komunitas dan individu pegiat film yang hadir sebagai wadah bersosialisasi sesamanya yang berada di Kalimantan Selatan. Kegiatan ini mendapatkan pendanaan utama dari Pusat Pengembangan Perfilman (Pusbangfilm) melalui program bantuan fasilitasi program perfilman 2018. Sasaran utama pengunjung Aruh Film Kalimantan yakni para pegiat film dari kalangan pelajar, mahasiswa dan professional lalu para pecinta film, dan masyarakat umum sebagai sasaran tambahan.

Tertarik untuk melibatkan diri dengan keseruannya? Kamu masih sempat hadir di tempat lewat jadwal berikut:

Program “NGOFI: JAMU TAMU” (Film Pendek Tamu)”

 

Jumat, 23 November 2018

20.00 – 23.00 WITA

Balairungsari, Taman Budaya

 

Master Class Andi Bakhtiar Yusuf “Film Sebagai senjata pariwisata”

Sabtu, 24 November 2018

10.00 – 13.00 WITA

Balairung Sari, Taman Budaya

 

 

 

Facebook Comments