KISRUH ditolaknya gerakan #2019gantipresiden di Surabaya melibatkan salah satu (entah mantan atau masih eksis ga sih?) pentolan di Dewa 19. (Hm, angka yang seksi: 2019 dan Dewa 19). Siapa lagi kalau bukan Ahmad Dhani? Kekisruhan ini adalah kontroversi lanjutannya setelah ganti nama demi kepentingan mengikuti pemilu legislatif, batal jual rumah demi dukung Prabowo karena calon pembeli ternyata pendukung Ahok.

Disebutkan bahwa saat tengah asyik-asyik bersama bininya, Mulan, menikmati gurihnya lontong, doi didemo arek-arek Suroboyo. Demo penolakan atas kehadirannya berlanjut sampai ke hotel tempatnya bermalam. Kegurihan lontong gagal diraih, kenikmatan bermalam di hotel pun lenyap. Semula, mantan manajer Republik Cinta Management  (RCM) ini (masih eksis juga gak ini label?) menegaskan bahwa dirinya tak akan pergi karena diminta arek Suroboyo dan polisi, namun belakangan rupanya menurut Sekretaris Relawan #2019GantiPresiden, Agus Maksum, bliow sudah angkat koper.

Bagi Ahmad Dhani, rasanya risiko ditolak orang karena pilihan dan aksi politik mungkin sudah hal yang biasa dialami. Belasan tahun lalu, saat Dewa menggebrak blantika musik dengan Laskar Cinta, doi sempat berseteru dengan Front Pembela Islam (FPI) besutan Habib Rizieq. Pasalnya, kaligrafi lafzul Jalalah yang jadi asesoris panggung yang diinjak-injak personel Dewa.

Karena saat itu Ahmad Dhani dipandang oleh FPI mbalelo, perseteruan Dewa vs FPI terjadi. Kalo bahasa sekarang, Dhani dan Dewa bisa dibilang penista agama lah oleh FPI. Saat itu, yang bela Dhani cuma Gus Dur. Terkesan dengan pembelaan Gus Dur yang all out, Dhani pernah menangis saat berziarah di makam Gus Dur di Tebuireng, Jombang, Jawa Timur. “Ulama lain hanya membela setengah-setengah,” ujarnya.

Saat heboh Ahok 2017 lalu, Ahmad Dhani berpindah barisan, bergandeng tangan dengan Gerakan 212 besutan Rizieq (lagi). Setelah pernah ditunjuk hidung menistakan agama, Dhani membalik situasi, menunjuk hidung Ahok menistakan agama. Samar-samar kok terbayang alunan lagu Panggung Sandiwara Ahmad Albar. “Dunia ini panggung sandiwara/Ceritanya mudah berubah.” Ehem.

Satu waktu, saya pernah ngobrol dengan istri. Pandangan istri saya cukup mak jleb. Dhani itu kalau masih satu ranjang dengan Maia (baca: belum cerai maksudnya) pasti dilarang olehnya masuk politik. Loh, Maia itu cerdas, tandas istriku. Darah Dhani itu di seni bukan politik. Wah, gitu ya.

Saya teringat lagu yang saya sejatinya gak akrab-akrab amat tapi samar-samar pernah dengar. Lagu ini dinyanyikan Dhani juga. Distorsi judulnya keluar pada 1998. Dikeluarkan oleh Ahmad Band. Ndilalah kok kontekstual banget di era kiwari.

“Maunya selalu menegakkan keadilan
Tapi masih saja ada sisa hukum rimba
Ada yang coba-coba sadarkan penguasa
Tapi sayang yang coba sadarkan
Sadar aja nggak pernah

Setiap hari mabuk….
Ngoceh soal politik
Setiap hari korup
Ngoceh soal krisis ekonomi

Perut kekenyangan bahas soal kelaparan
Kapitalis sejati malah ngomongin soal keadilan sosial

Selalu monopoli!
Ngoceh soal pemerataan
Setiap hari tucau
Ngoceh soal kebobrokan”

See. Menohok betul kan. Lagu ini dibikin Dhani mengkritik para pengkritik negara yang suka mabuk-mabukan. Yang dikritik di lain pihak doyan korupsi. Lagu ini mungkin perlu aransemen ulang dan diberi judul #2019GantiDistorsi.

Terakhir, saya mau nyinggung tentang lagu Roman Picisan besutan bapaknya Al, El, dan Dul ini. Bagian ini menjawab kebingungan (menurut tafsiran oeloen loh) kru Mojok.co tentang lirik lagu Rompis di atas. Lirik lagu termasuk eh, termaksud adalah:

Am E

Tatap matamu bagai busur panah

Am E

Yang kau lepaskan ke jantung hatiku  

(Ini lirik lagu kok ada tanda kuncinya segala?). Arman Dhani di Mojok.co pernah mau bahas tentang ini. Tapi, belum ada waktu. Karena saya punya waktu, saya ambil alih saja.

Oom Dhani (ini nanyanya ke suami Mulan Jameela itu ya) itu apa tidak salah tulis? Bukannya harusnya anak panah? Sejak kapan busur panah bisa melesat? Seriyes oom.

Tapi, kok ya lagunya telanjur meledak. Lirik kadang bisa nomor kesekian, yang penting iramanya dapet, nyantol di telinga, sangkut di hati. Lagu Roman Picisan rilis pada tahun 2000. Delapan belas tahun lampau. Satu paket dalam album kelima Bintang Lima grup band Dewa.

Sebelum ngelantur ra keruan, jawaban pertanyaan tentang busur panah ini, mari ber-husnuzzhon pada Ahmad Dhani. Saat menulis lagu itu dia tengah diharu-biru jiwa sufi bukan pembela agama. Kok jauh nian ke tasawuf mas bro? Ya, ini kan tafsir lagu. Bisa-bisa aja dong.

Lema busur panah disinggung dalam surah al-Quran tentang Bintang (see, album Bintang Lima punya hubungan juga ‘khan), bahasa Arabnya an-Najm. Perlu sodara semua ketahui, surah an-Najm ini sangat digemari para sufi karena berbicara tentang keintiman Nabi dengan Ilahi. Berbeda dengan Musa yang saat minta melihat Tuhan di bukit Tursina, jangankan melihat baru memandang nyala api saja sudah tersungkur pingsan, Muhammad Shollu ‘alaihi justru dibawa ke langit sampai titik di mana Jibril sendiri tak sanggup naik. Kedekatan atawa keintiman dengan ilahi ini dilukiskan dengan kata-kata indah: “fakaana qaba qawsayn aw adna”. Ertinya maka adalah jaraknya sepanjang dua busur panah atau lebih dekat lagi. Ini terdapat pada ayat ke-9.

Arkian, lain sembilu lain parang, lain dulu lain sekarang. Bila dulu Dhani sempat bikin Laskar Cinta, sekarang sibuk galang deklarasi #2019gantipanggung. Presiden kan cuma panggung [email protected]

 

Facebook Comments
Artikel sebelumnyaKENAPA (KE)HIDUP(AN) TAK SELALU INDAH?
Artikel berikutnyaJALAN DUNIA DAN JALAN AKHIRAT DI MARTAPURA
Riza Bahtiar
Pria dengan wajah ruwet ini lahir di Tanjung, Tabalong, Kalimantan Selatan pada 27 Oktober 1977. Pernah kuliah di Institut Agama Islam Negeri Antasari Banjarmasin Fakultas Ushuluddin jurusan Aqidah dan Filsafat. Belum sempat lulus, keburu bosan, lantas pindah ke Jakarta. Berhasil lulus kuliah di IAIN Jakarta yang berubah jadi UIN ini pada 2002. Pernah aktif sebagai aktivis prodem dan coordinator Forum Study MaKAR (Manba’ul Afkar) Ciputat, aktivis di Desantara Institute for Cultural Studies, voluntir peneliti di Interseksi Foundation. Karena tidak betah menjomblo di Jakarta, pulang kampung pada 2006 sampai sekarang. Pada 2008 sempat menerbitkan Iloen Tabalong, satu-satunya media berbahasa Banjar se-Kalimantan dan gratis. Wahini sehari-hari bekerja di PLTU Tabalong. Hobi baca buku, diskusi, wiridan dan Tai Chi.