Entah mengapa, perlu waktu lama untuk selesai membaca Analekta karya Hudan Nur. Mungkin karena kesibukan yang beberapa waktu belakangan cukup menyita waktu, mungkin juga karena akhir-akhir ini banyak buku berdatangan sehingga pilihan baca semakin variatif. Atau barangkali karena buku itu sendiri bukan buku yang bisa dibaca di waktu sela. Biar bagaimanapun saya bisa menyelesaikan membacanya setelah meluangkan waktu tersendiri. Setelah selesai, saya tak bisa mengatakan saya puas atau kecewa terhadap buku itu. Katakan saja saya mengalami perasaan-perasaan yang berkelindan terhadap buku Analekta ini.

Seperti yang disebutkan di sampul depannya, Analekta adalah buku kumpulan esai. Esai, sebagus apapun,  posisinya tak bisa lebih disukai dari genre apapun dalam ranah susastra. Esai bukan karya sastra yang bisa dinikmati secara estetis, dan tak ada yang benar-benar bisa menahan kita untuk terus membacanya kecuali kita ingin mengetahui bagaimana penilaian, tanggapan, atau respon si penulis atas sebuah obyek atau peristiwa kesasastraan.

Esai jelas bukan jenis tulisan yang populer di mata khalayak pembaca umum, namun tetap saja, dunia susastra membutuhkan esai, terutama kritik sastra sebagai upaya untuk menjaga eksistensi kesusastraan itu sendiri. Di tengah belantaranya, umur sebuah karya atau peristiwa sastra hanya bisa dipanjang-panjangkan jika sebuah tulisan membicarakannya.

Yah, esai sastra, kritik, ulasan atau apalah itu namanya diperlukan untuk menjaga keberlangsungan hidup kesusastraan.

Maka, tentunya kita akan menganggap Analekta juga demikian. Membacanya jelas tak senikmat membaca The Thursday Murder Club-nya Richard Osman, namun ia tetap perlu dibaca karena kita perlu mengetahui di mana dan seperti apa posisi obyek-obyek yang dibicarakannya.

Berisi duabelas esai, Analekta sebagian besar membicarakan buku susastra, sisanya membicarakan peristiwa dan fenomena. Ia membicarakan karya-karya yang diterbitkan penulis Kalimantan Selatan seperti Naidee, Ali Syamsudin Arsy, Ibramsyah Barbary, Syarif Hidayatullah, Fahmi Wahid, dan Abdurrahman el Husaini. Pun ia membicarakan karya penulis luar Kalimantan Selatan Seperti buku Jamrin Abu Bakar yang berjudul Menggugat Kebudayaan Tadulako dan Dero Poso, dan  kumpulan puisi berjudul Akar karya Djazlam Zainal. Analekta juga membicarakan perihal eksploitasi seniman, independensi komunitas seni, dan lanskap sastra kota Banjarbaru.

Menurut saya, kekuatan esai demi esai dalam buku ini adalah kemampuan penulisnya menemukan secara tepat dengan intensitas yang cukup mendalam mengenai ruh dan substansi dari buku-buku yang diulasnya. Terutama pada antologi puisi. Penulis misalnya bisa menemukan sosok Atul yang membayangi puisi-puisi Syarif Hidayatullah dalam Antologi Hijrah ke Rantau (hal.12-20). Atul adalah segala pusat dari tebaran kata yang membentuk puisi-puisi pada antologi itu. Penulis bahkan menggunakan istilah Atulisme untuk menggambarkan betapa masifnya pengaruh Atul dalam puisi-puisi Syarif.

Selanjutnya, Penulis juga telah mampu menemukan letupan-leputan ekspresi dalam puisi-puisi Abdurrahman el Hasaini dalam antologi puisi Air Mata Legenda (hal.30-41). Letupan ekspresi yang bisa muncul kapan dan di mana saja ini oleh penulis dinamakannya jeprut. Merujuk pada filosofi orang buang angin. Agak kurangajar memang tapi boleh jadi ia adalah ungkapan yang tepat untuk menggambarkan bagaimana seorang penyair bisa melahirkan puisi-puisi tentang apa saja di mana saja tanpa bisa ditahan-tahan, karena inspirasi dan ilham memang setiba-tiba itu adanya.

Terkait puisi-puisi Ali Syamsudin Arsy yang sejak awal telah memploklamirkan dirinya sebagai penyair gumam, Hudan Nur telah pula mampu mengikuti alur berpikir puisi-puisi itu (hal. 78-83). Barangkali karena kedekatannya dengan si penyair Kindai atau Hudan memang mengikuti perjalanan puisi-puisi gumam ini sejak awal. Penulis Analekta ini menyebut puisi gumam sebagai sebuah bentuk eksperimental. Ini adalah bentuk pengakuan akan orisinalitas ide sang penyair. Meski demikian, tentu saja Hudan juga tak menutup mata bahwa ‘gumam’ ASA pun secara substansial tak jauh berbeda dari apa yang sudah ada.

Pun Penulis telah juga menemukan bagaimana Ibramsyah Barbary mendeskripsikan tentang Tuhan dalam buku Antologi Puisi Asmaul Husna (hal. 92-97). Penulis menemukan keseimbangan sifat Tuhan dalam sajak-sajak Ibramsyah Barbary dengan dua penyebutan sifat yang saling berpasangan.

Menemukan substansi dari sebuah karya, tentang apa sebenarnya yang ingin disampaikan penulis sebuah buku kepada khalayak pembaca adalah sebuah kontemplasi tersendiri.

Pemahaman atas substansi menunjukkan interaksi terus menerus dan mendalam atas karya tersebut. Ketika mampu menuliskan kembali penemuan substansi itu, maka ia menjadi sesuatu penting dan berharga. Demikianlah bernilainya Analekta.

Meski demikian, kecemerlangan penulis Analekta dalam menarik keluar substansi karya-karya yang diulasnya agak tak sejalan dengan caranya menuliskan ulasan tersebut. Saya pikir, untuk bisa benar-benar memahami tulisan-tulisan Hudan Nur di dalam buku ini diperlukan kerja keras. Dalam sebuah tulisan, kita seakan dibawa berjalan dengan satu tujuan yang sudah dikemukakan di awal, di bagian judul. Tapi saat menelurusi bagian-bagian tulisan, kita seperti diajak memasuki gang-gang kecil untuk kemudian kembali ke jalan utama. Ada banyak bagian menelikung sebelum kita kembali pada pokok bahasan utama tulisannya.

Hal ini cukup menyulitkan bagi mereka yang terbiasa berpikir solid dan runut. Saya misalnya agak kesulitan menghubungkan secara langsung antara pertengkaran para penyair dengan narasi ulasan  puisi-puisi Abdurrahman el Husaini dalam esai berjudul Mimesi ‘Jeprut’  dan Retakan Kontemplasi Air Mata Legenda. Atau paragraf-paragraf panjang dengan arah pembicaraan samar-samar sebelum akhirnya dengan tegas menuding seniman birokrat mengeksploitasi seniman tidak-birokrat dalam esai Eksploitasi: Sebuah Bagian Ekspresi. Kita bisa membayangkan hal-hal ini sebagai rute memutar dari sebuah skema perjalanan yang sebenarnya bisa dicapai dengan satu kali jalan.

Mengapa hal demikian bisa terjadi, rute-rute tambahan itu? Saya menduga ini berkait dengan pengorganisasian ide yang ingin disampaikan. Meski telah memutuskan akan fokus pada satu pokok bahasan, Penulis tergoda untuk menyampaikan hal lain yang barangkali menurutnya penting. Oleh karenanya ia dengan genit mencuri-curi kesempatan untuk membicarakan hal tersebut. Saya pribadi tak menutup mata bahwa rute-rute tambahan itu cukup menarik, hanya saja ya itu tadi, diperlukan kerja keras untuk bisa melahap semua sekaligus.

Hal lain yang juga terasa menganggu saat membaca buku ini adalah pilihan kata dan kalimat. Latar belakang Hudan Nur sebagai penyair turut memengaruhi bagaimana ia menulis. Saya menemukan ada kalanya satu dua kalimat dalam esai ini lebih mirip puisi daripada kalimat selazimnya. Coba simak kalimat macam, ketika takdir mempertemukan seseorang yang kita anggukkan maka jadilah jodoh yang terbaca dalam pemahaman yang datar (esai tentang novel Augustan, hal. 3), atau kalimat Penyair FW dengan sadar bahwa sebuah kemukus dupa dari pegunungan Meratus akan senantiasa memeluk ruas dan tanah malai sebagai pagar yang akan tetap ada sepanjang masa (esai tentang Antologi Puisi Tandik Meratus, hal. 59).

Atau coba juga renungi pilihan kata yang tak lazim macam muhibah diri (hal. 63), bertriwikrama (hal.96), papakerma (hal. 100), bahkan judul, Analekta. Kata-kata yang digunakan adalah diksi khusus yang justru lazim ditemukan dalam untaian puisi. Puisi mengandalkan kekuatan kata. Jika kata-kata ini ditemukan dalam baris-baris puisi, kita takkan tercengang sama sekali. Kita akan maklum. Berbeda saat kita menemukan kata dan kalimat serupa itu dalam sebuah esai.

Meski puitis, sesungguhnya kata dan kalimat semacam ini sedikit banyak menghalangi pembaca untuk memahami isi tulisan dengan lebih baik. Kata dan kalimat semacam ini bahkan menjadi suatu yang tidak bisa final dimaknai, layaknya puisi yang perlu ditafsirkan terus menerus. Sementara itu, esai sebagai sebuah jenis tulisan non fiksi menuntut pemahaman yang final dari pembacanya agar pembaca bisa menyimpulkan. Agar pembaca bisa memahami tujuan dari ditulisnya esai tersebut.

Kita berharap, di kemudian hari jika buku-buku esai selanjutnya lahir dari tangan Penulis, kita bisa menikmati kandungan tulisan yang membantu kita memahami substansi sebuah karya, dan kita juga bisa menikmati cara penulis menuliskannya. Demikian lah kiranya.

Wallahua’lam.@

Facebook Comments