DALAM sepekan dua ini agaknya saya maraton mengulas film. Film-film yang akan saya ulas adalah beberapa film yang jadi nominasi Oscar tahun ini. Ulasan-ulasannya agak berdekatan yang barangkali terkesan membombardir karena saya sedang mengejar waktu luang yang masih tersedia sebelum perkuliahan semester ini dengan segala kesibukannya dimulai.

Film pertama yang akan saya ulas di artikel ini adalah Bombshell. Saya pertama kali melihat poster film Bombshell justru di Cinema XXI, dan ternyata agaknya film itu batal masuk bioskop karena sampai hari ini belum kelihatan lagi baik di film yang sedang tayang maupun yang akan datang.

Bombshell diangkat dari skandal nyata yang terjadi pada Juli 2016 di FOX News, jaringan berita terbesar Amerika Serikat yang didirikan taipan media Rupert Murdoch. Skandal itu terkait dengan tuntutan gangguan seksual (sexual harassment) oleh Roger Ailes, CEO FOX News, oleh Gretchen Carlson, mantan news anchor (pembawa sekaligus komentator berita) FOX.

Tuntutan itu lantas diikuti sejumlah perempuan yang juga mengaku pernah diserang secara seksual, baik perempuan yang pernah atau masih bekerja di FOX. Termasuk di dalamnya (dan dianggap mengejutkan) adalah pengakuan Megan Kelly, news anchor paling terkenal di Amerika Serikat sepanjang debat Partai Republik tahun 2016, bahwa sepuluh tahun sebelumnya, dia pernah mengalami gangguan dan penyerangan seksual oleh Ailes.

Film ini dibintangi tiga tokoh perempuan, Charlize Theron sebagai Megan Kelly, Nicole Kidman  sebagai Gretchen Carlson, dan Margot Robbie sebagai Kayla Pospisil, karyawan muda FOX yang pada saat tuntutan itu diajukan, masih mengalami gangguan seksual dari Roger Ailes.

Industri film Hollywood termasuk ranah pekerjaan yang paling tidak ramah perempuan. Survey oleh Grup Koalisi termasuk di dalamnya USA Today menyebutkan bahwa dari 850 perempuan yang bekerja di industri ini, 94%-nya mengalami gangguan dan penyerangan seksual.

Kita ingat bagaimana kasus pelecehan seksual oleh sutradara Harvey Winstein tahun 2017 silam. Hal-hal semacam ini membuat saya tidak terlalu percaya dengan film-film yang konon membawa perempuan di garis depan, film-film yang menguatkan perempuan. Saya sudah pernah mengulas bagaimana film macam Charlie’s Angel gagal melakukan itu. Awalnya saya agak skeptis dengan Bombshell. Tapi sampai selesai saya menontonnya, itu adalah sebuah kerja dramatik sinematik yang bagus dalam kaitannya dengan perempuan.

Bombshell adalah film yang memotret perempuan pekerja dalam satu wilayah kerja yang sangat dinamis sekaligus ternyata sangat seksis, jurnalisme TV. Tokoh-tokoh utamanya adalah perempuan yang harus tampil di depan layar, lengkap dengan semua citra diri yang harus mereka tampilkan. Banyak dari mereka yang menjadi tokoh publik, dan mereka harus menyesuaikan diri dengan kondisi itu. Ada tuntutan untuk tampil sempurna, cantik, dan memukau. Kondisi yang rentan memicu respon seksis, terutama dari lawan jenis.

Sementara di sisi lain, mereka juga memiliki keinginan untuk dihargai bukan semata karena fisik, tapi terutama karena diri mereka sendiri. Hal itu yang memicu Gretchen untuk banyak menolak arahan-arahan yang membuatnya jadi obyek penilaian seksual. Ia bahkan pernah tampil tanpa make up (yang membuatnya dirundung Ailes). Karena perlawanannya, Gretchen akhirnya dipecat.

Barangkali karena mengangkat skandal yang sudah diketahui khalayak secara umum -yah, ini skandal yang populer- film ini tak lagi berkutat pada penjelasan siapa Megan Kelly, siapa Gretchen Carlson, siapa Roger Ailes, Rupert Murdoch, apa itu FOX News. Penonton langsung dibawa masuk ke internal korporasi dengan Megan yang tampil layaknya pemandu wisata. Nuansa komedi di awal dengan aside (ucapan tokoh kepada penonton yang tidak didengar tokoh lain) yang satir dan menggelitik tak bisa dipertahankan dengan baik saat film menuju klimaks.

Saya memang tidak membaca Bombshell sebagai film komedi, tapi nuansa ringan nan segar yang ditawarkan di awal film menguap, namun dalam perjalanannya pun kedalaman emosi terkait bagaimana pemain menghadapi kekerasan seksual yang dialami tidak jua didapat. Film ini jadi serba tanggung, komedi satir ringan bukan, drama emosional juga tidak.

Namun, lemahnya cerita ditutupi oleh akting para pemain yang outstanding. Saya tidak mengatakan satu dua tokoh utama adalah kunci kesuksesan film ini, tapi hampir semua tokoh bermain bagus dalam ekspresi, proporsi akting, dan kualitas emosi. Charlize Theron mungkin memang pantas dapat kandidat Oscar sebagai pemeran utama wanita terbaik, demikian pula Margot Robbie sebagai nominator pemeran pembantu wanita terbaik, tapi saya pikir hampir semua aktris perempuan di film itu bermain bagus, demikian pula dengan para aktor.

 

Film Ini dan Feminisme

Di antara scene menarik yang saya catat dalam film ini terjadi di awal film ketika Megan diomeli Ailes gegara menyerang Trump saat wawancara dengan mempersoalkan perundungan Trump terhadap istrinya, Melanie. Ailes menyebut kalau Megan akan membawa FOX menjadi media feminis, Megan menyahut bahwa dia bukan feminis.

Demikian pula ketika salah satu staf berita lelaki menanyakan apakah kritik Megan terhadap Trump adalah hal ihwal feminis? Dua staf perempuan Megan langsung menyahut bahwa Megan bukan feminis. Ada dua hal yang penting dicatat dari hal itu.

Pertama, menjadi feminis bukan sesuatu yang populer, bahkan di negara yang konon paling liberal dan paling demokratis di dunia. Usia bumi sudah setua ini, dan feminisme sampai sekarang masih menjadi sesuatu untuk diperjuangkan. Dan prediksi saya, sampai kiamat pun ia masih akan menjadi sesuatu untuk diperjuangkan. Dia takkan pernah menjadi sesuatu yang mewujud secara menyeluruh dan mapan, karena patriarkis memang sudah menjadi sunnatullah dunia sejak awal.

Oke, aktivis feminis sejati boleh marah-marah dengan pernyataan saya. Ini mengingatkan saya juga pada perdebatan dengan salah satu mentor. Dia berkeras bahwa dunia sebenarnya matriarkis. Itu perbincangan seru melibatkan tafsir simbolis tentang bumi, air, dan lainnya. Tapi sekali lagi, dunia diciptakan patriarkis. Itu sebabnya bagi saya yang terpenting bukan usaha menyetarakan posisi di semua hal, tapi bagaimana sikap saling menghargai dan kemampuan bekerja sama dapat tercipta di antara dua gender ini.

Kedua, bahwa untuk bersikap kritis terhadap pelecehan dan kerugian yang menimpa perempuan, seseorang tak harus menjadi feminis. Saya sendiri, meski banyak menggunakan feminisme sebagai sebuah pendekatan dalam mengkaji teks sastra, tak ingin disebut feminis –apalagi feminis radikal. Ada sejumlah hal yang saya setujui dalam konsep feminisme, pun sejumlah lain yang tidak saya sepakati.

Bagi saya misalnya, kesetaraan mutlak antara lelaki dan perempuan itu tidak ada, demikian pula institusi perkawinan bukanlah ancaman (kecuali ketika hak-hak perempuan diabaikan), dan larangan-larangan atas nama moral dan agama yang diberlakukan untuk perempuan sebagian besarnya (kalau tidak bisa dikatakan semua) bukanlah bentuk pengekangan.

Jadi, kembali ke Bombshell. Saya memberi nilai 8 dari 10 untuk film ini, terutama terkait isu yang dibawanya serta akting para pemain. Saya pikir para perempuan seharusnya menonton film semacam ini, untuk menginspirasi bahwa ketika perempuan dikalahkan maka kita bisa melawan balik. Saya merekomendasikan untuk ditonton meskipun saya agak bingung pembaca bakal menonton di mana. Di Cinema XXI Banjarmasin film ini tidak tayang, dan saya akan merasa berdosa jika menganjurkan pembaca menonton versi bajakan. I have no idea.

Wallahua’[email protected]

Facebook Comments