Mengutip Sosiolog Prancis Pierre Bourdieu (1993) dalam sebuah jurnal Yayasan Obor Indonesia, Media Komunikasi Kebudayaan mendefinisikan, habitus sebagai sistem predisposisi dan aktifitas budaya yang dipelajari dalam masyarakat yang membedakan orang-orang menurut gaya hidupnya.

Terkhusus Indonesia, ruang lingkup aktifiti buka puasa bersama telah mencapai stadium habit yang terbentuk oleh aktifitas, terlaksana berkesinambungan dalam kurun waktu dan ruang tertentu, yang menghasilkan bentuk kesenjangan serta pengalaman sosial.

Sikap atau pun cara penyambutan Ramadan sebagai BBB (Bukan Bulan Biasa) bagi umat muslim di berbagai belahan dunia pun bermacam-macam. Generasi milenial yang menghuni lebih dari separuh penduduk Negara bahkun pengguna akun sosial media menjadi garda utama sebagai pelakor (pelaku koordinator) yang menentukan habit bukber sebagai pencapaian. Tak heran, ada pula di antara mereka yang melingkari perhitungan hari sedari awal bulan sampai menjelang lebaran.

Di kota semi-semi metropolitan, bukber tak sekadar syiar atau syarat keagamaan seperti silaturahmi belaka, tetapi sebagai media mempererat dan memperpadat eksistensi garis waktu sosial media. Perlu diketahui sodara, hal yang paling menyenangkan di era serba instastory sekarang adalah fitur share dari aplikasi yang mampu membagi kegiatan apa pun itu. Ini pekerjaan yang menyenangkan memang. Teknologi ini tentu harus dimanfaatkan umat manusia sebaik-baiknya. Show off!

Terlepas dari budaya bukber ala masjid, musala, langgar, dan safari Ramadan para kepala daerah, sepuluh tahun lalu, informasi bukber belum bisa dibagikan ke dalam grup WeA. Karena memang belum ada juga, kan, ya. Para pelakor biasanya melakukan sms ke banyak sebagai undangan atau pemberitahuan. Atau paling mentok pengumumuman di dinding fesbuk. Dan terjadilah reuni-reuni berbalut bukber sebagai rintisan budaya.

Kegiatan yang telah dipelopori mantan pelajar kreatif dan paling banyak bacot (sewaktu di sekolah dulu) kini menjadi agenda rutin dari tahun ke tahun. Grup-grup baru di WA terbentu sebagai bukti nyata kepanitiaan. Bahkan grup yang kadang baru ramai setahun sekali itu tetap dipertahankan demi eksistensi penyelengaraan di tahun-tahun mendatang.

Sayangnya, sebagian teman-teman kita masih tidak memahami kaidah dalam bersilaturahmi saat bertemu teman lama. Semisal mempertanyakan pertanyaan yang klise, yang kadang sangat menyebalkan, tapi jadi kewajiban. Seperti, kerja di mana? anak berapa? atau kapan kawin lagi.

John Ef Haije Kaelemen dalam jurnal kejiwaan pernah menyebutkan: “Lingkungan pergaulan masa lalu sangat menentukan kualitas pertemanan kita di masa sekarang.” Parahnya, masih banyak teman kita yang tidak siap reuni karena memang belum bisa move on dari masa lalu.

Menurutnya, hal tersebut disebabkan personality yang kemarin atau yang nanti akan bertemu kalian-kalian (yang akan datang) punya masa lalu yang suram, pedih, dan sedih. Eneg bertemu mantan, misal. Atau, persoalan piutang, bisa jadi.

Mempertontonkan kesepelean macam pamer tunggangan, jumlah anak/istri/suami, serta genre profesi menjadi tren kuat sebagai indikator kesuskesan di dunia. Gak salah, sih. Sah-sah saja, memang. Perilaku ini sangat dilindungi undang-undang. Hanya saja, sebagian kita belum dewasa. Sebagian dari kita belum bisa memposisikan keadaan yang sekarang dengan masa lalu kita yang bisa saja waktu sekolah/kuliah sangat anjay. Apa, kek, anjay.

Pergumulan lintas budaya yang biasanya terindetifikasi dengan dresscode atau warna-warni brand wardrobe menjadi ajang pemilihan piala Oscar. Karpet merah terbentang disertai hidang-hidangan khas. Bisa itu restoran kenamaan, atau prasmanan hotel-hotelan. Tapi ada juga yang tak bersepakat lantaran nominal duit yang mesti diswadayakan ketinggian, kawan-kawan masa lama kita yang strata UMR bisa saja mikir “Mending beli beras bisa buat fitrah serumah.” Ujug-ujug malah gak jadi ikutan.

Jadi, budaya bukber kita di tahun pemilu ini sudah mencapat tahapan instagramers akut. Budaya buka puasa bersama yang seharusnya kembali kepada sunah bisa saja tak lagi berbuah berkah. Tapi bisa juga jadi double berkah karena sambil berbagi sambil bersedekah. Maunya, sih, begitu. Tergantung sudut pandang fotografer.

Setelah sapa sapi sebagai basa-basi, wajib foto-foto bersama dan posting di sosial media. Pokoknya jangan lupa tag-tag akunnya biar gampang repost-repost, ya. Biar kami tinggal klik “Tambahkan ini ke cerita anda”.  Dari saya, selamat menunaikan budaya buka puasa bersama. Semoga tidak sekadar wacana. Tetap membumi dan asyik membudaya.

Facebook Comments