Secara tiba-tiba angin mulai ribut menuruni lereng bukit Pejanggik, menerjang deretan pohon-pohon nyiur yang berbaris di sepanjang pantai. Sedang Dahrun tidak mau menutup pintu jendelanya. Ia bahkan menikmati suasana itu sembari menghisap rokoknya.

Sejurus kemudian, Dahrun ingat kejadian sore tadi ketika ia pergi jalan-jalan ke pantai. Di dermaga tua tempat biasanya para nelayan kumpul. Mereka bercerita perihal nasib hidup yang kian malang. Dahrun mendengarkan secara seksama cerita-cerita itu.

Mereka sedih lantaran tanahnya dijarah uang. Kebun-kebun dijual tanpa pikir panjang. Tak ada lagi kehidupan di darat sejak tanah berpindah tangan. Sesal begitu mendalam sore itu. Seolah-olah laut berbisik, “mari kembali pulang”. Dahrun diam saja seribu bahasa. “Bukankah itu maunya mereka?” bisik batinnya.

“Lakon hidup memang begitu, terus berputar dan tak peduli sesal.”

Jendela yang terbuka sudah menjadi majlis curhat Dahrun. Ia suka menghabiskan waktu di sana. Tetapi tidak malam ini. Waktu tidak berlalu dengan kesyahduan, tetapi dengan nyeri yang melesak di dada perihal tanya yang datang tibat-tiba.

Tiba-tiba Dahrun teriak. “Sial! Bagaimana mereka sekarang?” Dahrun mulai gemetaran. Ia membakar satu batang rokok lagi. Baru ia ingat dengan angin ribut tadi.

“Bangsat! Itu jawabannya kenapa bulan nampak murung dan menangis malam ini.” Antara riang gembira dan menangis. Ia dilema dengan dirinya. Bahkan lebih murung dari Bulan yang mulai meredup. Sekarang ia mulai berpikir perihal nasib para nelayan itu.

“Andai saja tanah tidak dijual. Aku yakin mereka tidak akan pergi melaut malam ini. Sial memang!”

“Semoga tidak terjadi apa-apa.”

“Memang begitulah bulan. Ketika terang menyibak gelap, ia selalu dirindukan para pelaut. Cahayanya menjelma alasan yang kokoh kenapa mereka pergi.”

“Sebetulnya aku tak ingin penduli. Tapi suasana malam ini yang menggerakkan inginku. Bukan karena mereka, tapi karena bulan yang menangis.”

Dahrun kemudian buru-buru keluar dari rumahnya menuju pinggir pantai. Rumahnya memang tidak jauh, hanya melewati tanah setapak kemudian sampai. Tentu angin yang berseloroh ribut tadi sudah berhenti.

Pantulan cahaya bulan simetris membelah telukan, serupa garis lurus dan menuju matanya meskipun ia sendiri tidak yakin karena masih samar-samar di bawah bayang-bayang malam. Nyala rokok di mulutnya begitu jelas ketika beradu dengan gelap.

Sepanjang garis pantai. Ricik-ricik air dan buih ombak gemertak semakin terang terkena pantulan Bulan, bagaikan serpihan karang yang berserakan. Dahrun melesakkan kakinya ke dalam pasir kemudian duduk. Dagunya bertumpu kepada dua lututnya sembari menikmati Rokok.

“Mereka hanya dijelang nasib, karena harapan sedang bertaruh dengan kematian. Jelas ini adalah pertaruhan atas keadaan.” Sembari memandang ke langit.

Angin berdesir dan langit agak mendung. Cahaya bulan terhijabi oleh gumpalan-gumpalan awan. Kini Dahrun seorang diri menunggu para nelayan itu pulang ke peraduan. Sesaat di tengah kesendiriannya di pinggir pantai yang hanya ditemani suara debur ombak. Ia mendengar lolongan anjing dari balik tebing, kemudian melesat lepas dalam jiwanya. Ia menafsirkannya sebagai nyanyian kepergian.

“Duhai anjing malam. Itukah kau yang berbisik di keheningan. Saat lampu-lampu redup. Bayi-bayi terlelap dan saat rindumu hilang di kegelapan.” Sejurus kemudian, ia berdiri memandang langit dalam-dalam sembari membuang putung rokoknya dan ia berjalan kembali pulang tanpa peduli lagi dengan bulan.@

28 April 2021

  

Facebook Comments