BAHASA tidak pernah lahir dari kehampaan, selalu ada imajinistik yang menjadikan bahasa sebagai elemen penting, memiliki daya dedah tersendiri dalam menuangkan memoar. Bahasa kerap menunjukkan tingkat kepandaian seseorang dalam status sosial, semakin seseorang pintar mengolah bahasa, maka semakin prestisius derajatnya. Walau kajian bahasa sudah berlangsung sejak lama, namun secara filosofisnya hanya berpusat pada persoalan kosmosentris (alam), teosentris (tuhan), dan antroposentris (manusia). Bahasa baru akan ada, ketika ada sesuatu yang ingin diungkapkan, yaitu pikiran dan perasaan, atau dengan kata lain pikiran mempengaruhi bahasa. Menurut Aristoteles, karena pikiranlah bahasa itu ada.

Membaca Hutan segala Rindu (2020, Tahura Media) kumpulan puisi HE. Benyamine (Ben) dengan bahasa puisi yang sebagian bermetrum menyulut pemaknaan adagium, kredo – papakerma rindu, pernak-pernik matra rindu dalam memaknai sumber perjalanan yang berpulang pada kembara. Buku puisi yang berisi 49 judul dengan diksi rindu yang berhamburan membuat pembaca yang berjenjang akan meresepsi pemaknaan dengan tangga-tangga hikmat yang bertingkat.

Ben dalam puisi-puisinya banyak bertumpu pada soal-soal kosmosentris, tafsir Ben yang bertalian antara sang kreator, manusia dan alam yang saling bersinergi pada hakikatnya berdiri bersisian. Ben menghamburkan diksi rindu, mencecar rindunya ke segala penjuru. Ada apa, Ben?

Pandangan Ekspresif

Menurut Abrams (1981) sebuah karya sastra dipahami sebagai curahan pemikiran, perasaan, harapan, dan pengalaman batin pengarangnya. Dengan kata lain, proses imajinatif mengatur dan menyinteksiskan imajinasi-imajinasi, pemikiran-pemikiran, dan perasaan-perasaan pengarang.

Memasuki gerbang ekspresif dalam memaknai puisi-puisi Ben berarti harus mendekat, berhadapan, berurusan langsung dengan Ben secara personal dan intens. Konsep ekspresif nampak lebih gampang untuk menghayati Hutan segala Rindu karena Ben masih ada. Lewat pendekatan ekspresif yang meliputi latar belakang kehidupan Ben, ideologi yang dianut Ben, kepribadian Ben, keinginan dan harapan Ben, hubungan dan peran sosial Ben dalam masyarakat, bacaan-bacaan Ben, tokoh-tokoh yang mempengaruhi pemikiran Ben, dan cara kerja Ben dalam berproses  kreatif. Artinya menyelami kehidupan Ben, sang kreator buku adalah refleksi dari apa yang dia kerjakan dan tuliskan.

Sadarkah? Ben menciptakan bahasa dengan estetikanya sendiri lalu dengan konsisten ia pakai, sampai setidaknya lingkungan Ben tempat sosialnya secara tidak langsung teragitasi oleh bahasa itu, alamat bahasa itu dipakai sesama koleganya. Silakan simak juga puisi-puisi Ben.

Kamuflase Hutan?

Hutan bermakna rimba, dalam bahasa sansekerta disebut wana. Hutan kerap disebut Ben dalam puisi-puisinya yang bertendensi lingkungan. Hutan segala Rindu seolah-olah bicara soal fakta-fakta alam, reklamasi yang abai, potret alam mutakhir dengan segala bahana kehaluan. Benar hutan, Ben? Bukan kamuflase, ‘kan?

Sebelumnya Ben 6 tahun yang lalu juga menulis buku puisi berjudul Pohon tanpa Hutan (2014, Tahura Media). Kumpulan puisi heterotematik yang beberapa puisinya salah kamar, salah tema. 15 judul tentang Dikepung Kehilangan Harapan, 31 judul tentang Bulan Seribu Bulan, 24 judul tentang Kekasih, 33 judul tentang Perjalanan, dan 15 judul tentang Hutan, Hujan, dan Bencana. Totalnya berjumlah 118 puisi.

Kedua buku puisi Ben mengangkat diksi hutan sebagai judul. Pada Pohon tanpa Hutan sebagian besar Ben mengecoh, pembaca seperti kehilangan arah; antara larik-larik dan bait atau bahkan dalam satu larik menyesatkan dalam beberapa cabang pengertian. Multitafsir! Seperti tema Kekasih pada Pohon tanpa Hutan. Memaknai kekasih dalam bayang-bayang puisi tidak mesti berpatokan pada makna kekasih sebagai bagian dari belahan jiwa. Ben dengan lantang menyuarakan repetisi dari parafrase ‘belantara mengasihiku’. Nampaknya, kekasih yang abai dipahami secara dalam (indeep) adalah bagaimana membalas kasih untuk diri, membebaskan kedatangan harapan-harapan seiring kenangan yang lintas dihapus waktu.

Suksesi Rindu

 Suksesi yang bermakna proses perubahan ekosistem  lingkungan dalam rentang waktu tertentu menuju arah yang stabil. Sedang rindu adalah keinginan kuat untuk bertemu, sangat ingin dan berharap benar terhadap sesuatu. Bagaimana suksesi rindu? Atau Hutan segala Rindu itu sendiri?

Ben menggiring pembaca kepada situasional yang kerap di luar perkiraan orang-orang kebanyakan.  Sebagai Sivitas Akademika Bangku Panjang Mingguraya, namanya melejit lewat lajur istiqomah, menu “Aku Telah Baca Puisi di Mingguraya” dengan memasyarakatkan puisi dan kegiatan bulanan Poetry in Action. Di buku Hutan segala Rindu setengah di antaranya adalah tema-tema, keterangan kegiatan yang mirip pamflet dengan bahasa yang dipuitis-puitiskan. Mari kita resepsi puisi-puisi Ben secara ekspresif. Berikut, satu puisi yang saya kutip secara utuh dari Hutan segala Rindu (hal.48) apakah pikiran saya yang “keseleo”, apakah ini puisi? Keep smile, Ben

Membaca Jannani, Mimpi Kota Kekasih Zaman

Impian menjadi mitos subur di bawah sadar orang-orang kota, menjadi urban lalu menemukan mitos baru. Sebagian ada yang terkungkung dengan kenangan desa, suasana yang lapang dengan pohon besar, persawahan, hamparan rawa, sungai-sungai, dan kesejukan serta ketenangan, padahal mereka sendiri yang angkat kaki dari desa-desa. Sebagian lainnya, desa-desa itu sudah menjadi kota-kota, menghadirkan gaya dan impian yang mengabaikan kerinduan pada terik mentari yang melimpah, sudah lama merasa terbakar dan tersentuh debu-debu zaman yang memproduksi mitos-mitos baru.

Membaca “Jannani, Amsal Banjarbaru di Simpang Waktu”  imajinasi Hudan Nur, kumpulan puisi, juga membaca mitos yang bercampur kesadaran perdesaan yang mulai samar dengan perkotaan, boleh jadi ini seperti mimpi kota kekasih zaman, di mana berbagai kebaruan dan mitos baru saling melengkapi, dan tentu saja jangan terjebak pada kenangan yang melepaskan perkembangan zaman dalam mengiringi kekinian kota-kota, termasuk kota Banjarbaru; seolah beberapa hal sebagai mitos kenangan tentang kelatahan, instan, kerakusan, kepalsuan, kedurhakaan, atau identitas yang mengkerdilkan penemuan-penemuan baru. Bukankah mitos kenangan itu juga sudah ada wujudnya dalam masa lalu dengan wajah desa, sebelum menjelma wajah kota. Membaca Jannani,  sebagai gerak dan bergerak dalam kemampuan imajinasi yang membebaskan.

@

Banjarbaru, 25 Oktober 2019

 

 

 

 

Facebook Comments