Jadi, dalam sepekan belakangan ini saya menggunakan Honda CRF150L untuk daily driver. Selain menunjang sejumlah akses antar perkotaan-rumah-kantor-tongkrongan, ini juga membantu sekali ketika terburu-buru mendatangi suatu tempat, senang sekali rasanya bisa beraktifitas menggunakan motor. Hal yang paling utama dari motor ini adalah nafas yang lumayan panjang, dan gak enak diajak pelan. Pengen cepet melulu.

Berawal dari Desa Mandiangin Timur, saya berpesan agar kami bertiga berangkat tidak berpenampilan seperti orang kota ke desa atau ke tempat wisata. “Pakaian urang kampung aja, supaya jangan dikira dari jauh. Kita urang sini jua lo!” pinta saya.

Alhasil masing-masing kami cuma memakai sandal jepit, baju kaos, no helm, no sepatu, no tas ransel, dan embel-embel lain khas orang kota kalau berangkat touring. Ini bukan safety prosedur, jadi gak perlu ditiru. Knalpot yang digunakan juga sudah diganti dengan merek Norifum, kalau gaspol bunyinya bikin kesel orang sekampung.

Kami berangkat bertiga, bersama seorang anak perempuan  berumur 6 tahun bernama Yasa. Awalnya berniat ke Taman Hutan Raya (TAHURA) Sultan Adam di Mandiangin sekadar melihat pemandangan, namun pasca peringatan Covid-19 Tahura ternyata belum lagi dibuka untuk publik. Menjelaskan penutupan itu, Yasa kecewa. Namun setelah saya jelaskan kalau kami akan mencari ganti tempat liburannya, ia setuju.

Saya lanjutkan ngegas ke arah Kiram, persisnya berbelok ke kiri ke arah  Gunung Mawar. Dalam perjalanan, kita akan disuguhkan pemandangan hijau yang terhampar di beberapa perbukitan. Sawah dan perkebunan masih terlihat natural di sekeliling jalan. Banyak aktifitas warga seperti berkebun, bertani, dan menyadap karet.

Honda CRF150L sebagai kelas motor trail memunyai supsensi yang cukup kokoh dan enak. Atau boleh dibilang motor on-off road. Desainnya memang diarahkan untuk menjadi sohib asyik blusukan ke wilayah ‘keras’ yang rawan benturan. Namun tetap enjoy di jalan raya. Walau secara khusus, motor ini sangat tidak enak diajak pelan. Penginnya ngebut melulu biar stabil.

Honda menyematkan ukuran pelek full size 21 inch pada bagian depan dan 18 inch pada bagian belakang. Berbahan alumanium yang mengimbangi kestabilan saat ditunggangi.

Kami menuruni jalanan yang hancur, boleh dibilang bebatuan tak beraspal, juga kubangan-kubangan lumpur tak beraturan, hingga tiba di bagian sungai yang membelah jalanan. Saya langsung menggeber untuk menyeberang bertiga tanpa banyak pikir dan berhasil. Meski awalnya gugup karena saya bukan rider trail yang hobi motocross tiap minggu. 

SPEK SINGKAT

Dan ini adalah bagian paling mengasyikkan yakni, suspensi depan yang upside down merek Showa terasa empuk stabil dan berfungsi penuh. Begitu juga monoshock pro-link pada bagian belakang. Pokoknya sejelek (sekeras/sehancur) apa pun medan yang dijalani, CRF 150L siap melibas.

Honda tampaknya memang melakukan riset panjang untuk membentuk jok yang bersahabat dengan tinggi rata-rata orang Indonesia. But, untuk tinggi saya yang hanya 163 Cm masih injit-injit semut. 

Bicara soal panel dasbor yang telah digital layar positif menampilan warna orange terang. Diklaim untuk pengukuran kecepatan, Honda tak lagi menggunakan kabel ke roda depan, melainkan mesin.

Honda juga menambahkan fitur setang standar yang justru bisa diatur maju-mundur. Stiker backprint ini gak sekadar penghias doang, cuy, melainkan pelindung agar bodi tidak mudah lecet saat terkena pasir atau krikil. Ditambah internal pompa bensin di tangki bahan bakar yang berukuran 7,2 liter. 

SUASANA DESA

Desa Kiram, aliran sungai yang membelah jalanan arah Gunung Mawar menjadi destinasi pertama kami. Yasa selain menimkati suasa alam pegunungan juga asyik dengan ramainya orang berlalu lalang memakai kendaraan lainnya menerjang sungai. Dari mobil jenis LCGC, SUV, sampai kendaraan trail itu sendiri.

Namun bagi mereka bermotor pendek seperti matic atau mereka yang gak kepingin celananya basah, bisa saja memakai jasa penyeberangan menggunakan rakit yang dibuat warga setempat. Biayanya pun sukarela. Sebagai solusi untuk akses ke seberang dan sebaliknya. Saya pikir, mungkin kelak setelah ada pembuatan jembatan di bagian sungai ini, usaha ini tentu juga akan mati. Seiring dengan warung yang ada di sampingnya.

Dirasa sudah cukup lama, kami melanjutkan perjalanan ke arah Gunung Mawar. Kami kembali disuguhkan dengan pemandangan khas pegunungan. Namun pada pertengahan jalan saya mengambil keputusan untuk putar balik saja karena jalanan tidak sepenuhnya beraspal dan cukup panjang. Mengingat lagi, kami berpenampilan khas orang kampung, tanpa helm, tanpa jaket pelindung, tanpa sepatu, tentu akan berbahaya sekali karena akan sangat berdebu, dan risiko-risiko lainnya. Yasa kecewa lagi, dan saya menghibur kembali dengan berjanji mencari destinasi sungai di arah jalan pulang.

Setelah putar balik, dan kembali ke jalur sungai yang membelah jalan utama tadi, saya bertanya ke mamanya yasa. Apakah nanti turun dan menyebrang sendiri jalan kaki dan saya menyebrang sendiri dengan motor? Atau kami gas saja tanpa turun (seperti pada permulaan) Dia bilang “Gas terus”

Oke.

Hasilnya, dipertengahan penyebrangan saya tidak mampu mengimbangi berat bodi saat ban depan terasa melewati gundukan batu yang agak besar dalam air. Singkatnya kami terjatuh dan terendam sungai. 

Kami tertawa kecil, begitu juga Yasa seperti kaget tapi juga girang. Aneh memang. Setelah memastikan tidak ada bagian tubuh yang tertindih karena reflek menyelamatkan diri masing-masing, saya terburu-buru mengangkat bodi motor sendirian. Dan berat banget. Saya ditolong beberapa orang.

Setelahnya, sekali lagi saya menunggangi sendiri, motor masih bisa hidup. Dan saya jalankan di tengah sungai. Namun untuk kali kedua, saya tak bisa mengimbangi dan akhirnya terjatuh. Terjatuh sendirian, dan lucu sekali. Malunya itu loh.

Finally motor sudah di daratan. Motor masih dihidupkan untuk memastikan tidak ada kerusakan di bagian mana pun. Awalnya kami tunggangi lagi bertiga ternyata gasnya lemas. Akhirnya penumpang saya minta menaiki jalanan yang menanjak beberapa meter dan saya sendiri menunggangnya beberapa kali naik. Setelah dirasa oke barulah kami menuju perjalanan pulang.

Sebelum benar-benar keluar dari wilayah Desa Kiram, untuk menyenangkan Yasa, kami mendapati lagi satu destinasi yang cukup mengasyikkan. Sungai yang lebih cocok untuk arung jeram. Alirannya deras penuh dengan bebatuan. Di sini Yasa betul-betul mandi dan saya betul-betul basah, betapa tidak, dia terlalu berani sampai-sampai ingin menyeberang sendiri, enak saja, gak ngerti medannya.

Matahari segera permisi, hari memang belum gelap. Tapi rasanya kami sudah terlalu lama berendam dan bibir Yasa sudah membiru ditambah menggigil, tanpa banyak negosiasi, tanpa baju ganti, dia meminta untuk pulang. Awalnya berharap pakaian yang basah bisa kering di badan, namun apalah daya, matahari sudah malu-malu menuju barat.

Perjalanan bersama CRF150L yang biasa saja cukup membawa luka. Tak sengaja telapak sandal Yasa berbahan busa melepuh karena tersentuh knalpot, tumitnya melepuh. Yasa baru merasakan sakit benar-benar sakit ketika sampai rumah.

“Yasudah, nanti dikasih obat, odol kah apa kah. Jangan manja dengan mata luka. Papah tu senang kalau Yasa tu sudah terbiasa dengan mata luka di umur yang sedini ini,

“Mungkin dia gak tau kalau tompel-tompel di belakang kaki saya ini hasil dari knalpot semua. Semuanya, iya, saking seringnya. “Ya luka bukanlah akhir dari segala-galanya, tangisi sesaat saja, tak perlu berlebihan.”

Perjalanan berkahir, mungkin sudah terlalu lelah, malamnya, Yasa tidur nyenyak. Besok malamnya, dia deman. Demikian saya, berselang sehari langsung menggigil serta demam tinggi. Influenza ditambah pergelangan tangan dan kaki terasa nyeri. Luka tergores di bagian telapak tangan kanan dan siku bagian kiri.

Mungkin karena lelah berlebih, mungkin lagi juga  karena urat yang kaget karena mengangkat benda berat seberat CRF150 dari telentang di dalam air. Yang terutama, karena memang jarang sekali main trail apalagi olahraga yang ringan rutin. Tampaknya, beberapa waktu ke depan harus mencari kegiatan olahraga yang rutin dan ringan demi menjaga kesehatan.

Dadah next time.

Facebook Comments