Jazz telah berulangkali menjadi inspirasi bagi para penyair Indonesia untuk menuangkan genre musik tersebut ke dalam sebuah puisi atau bahkan antologi puisi, misalnya Sapardi. Penyair maestro itu pernah menulis sebuah puisi dengan judul “Lirik untuk Improvisasi Jazzz”. Puisi itu Sapardi tulis pada tahun 1978 dan termuat di dalam buku fenomenalnya: Hujan Bulan Juni. Selain Sapardi, beberapa nama penyair yang menjadikan jazz sebagai sumber inspirasi, antara lain: Wendoko yang pernah membuat buku puisi berjudul Jazzz! yang diterbitkan oleh Penerbit Kata Kita pada tahun 2012 silam, kemudian yang terbaru ada Adhimas Prasetyo yang menulis buku kumpulan puisi dengan judul Sepersekian Jazz dan Kota yang Murung yang diterbitkan oleh Penerbit Buruan & Co. pada bulan Januari 2020 lalu.

Dari fenomena di atas, dapat disimpulkan bahwa jazz dan puisi adalah dua hal yang berbeda namun memiliki hubungan yang spesial jika disatukan. Saya menganalogikan jazz dan puisi seperti nasi goreng dan es teh. Kita semua tahu bahwa nasi goreng adalah makanan dan bentuknya benda padat, sedangkan es teh adalah minuman dan bentuknya cair. Namun, dari perbedaan yang ada pada nasi goreng dan es teh, kita menemukan suatu harmonisasi yang indah, di mana keduanya begitu nikmat ketika dihidangkan secara bersamaan di atas meja makan dan kita menyantapnya dengan perasaan yang girang. Mungkin seperti itulah hubungan antara jazz dan puisi, berbeda tapi juga bermakna.@

Ditulis di Banjarmasin,di tengah pikiran yang ruwet karena skripsi, 2020.

Facebook Comments