Sebelumnya ia sudah membuat buku Pantun Sejarah Riung Negeri Banjar, yaitu sejarah Banjar sejak era agama Hindu (Negara Dipa dan Negara Daha), era masa peralihan Kerajaan Hindu ke Kesultanan Islam, keruntuhan Kesultanan Banjar, Perang Banjar, hingga tragedi tenggelamnya kapal perang Onrust.

Buku ke-12 Iberamsyah Barbary

Adapun buku mutakhirya Kumpulan Bersambut Pantun: Membaca Nusantara Lewat Sastra (2022) yang berisikan pantun bersambut antara guru dan murid. Guru bertanya dan murid menyambut. Buku ini adalah pantun tematik mengenal Indonesia dari seluruh provinsi lewat sungai, gunung, dan danau.

Lewat buku ini pembaca disuguhi bait-bait pantun (bersambut) guru dan murid yang dibangun lewat rima berpeluk, sampiran dan isi saling berkait membentuk puitikanya sendiri. Seperti contoh berikut ini, yang diambil dari hal. 12 tema sungai di Kalimantan bagian Kalimantan Selatan;

(G)
Buah matoa ada di Gorontalo
Buahnaya enak merah kulitnya
Tahukah ananda Sungai Barito
Di pulau mana ia berada

(M)
Perahu ke hulu melawan arus
Hendak menyeberang lewat jembatan
Berhulu mengalir di Pengunungan Meratus
Sungai terbesar di Kalimantan Selatan

(G)
Pandai berpikir orang bijaksana
Tidaklah ada andai dan gerutu
Sungai mengalir melewati dua kota
Tahukah ananda sungai apa itu

(M)
Mangga muda digarami asin
Kelapa bersantan sudahlah tua
Tentu Martapura dan Banjarmasin
Sebutan orang Sungai Martapura

Devi Farah menerima 3 hadiah buku; Novel Esai “Bangku Panjang”, Pantun Sejarah “Riung Negeri Banjar”, dan Kumpulan Pantun “Bersambut Pantun, Membaca Nusantara Lewat Sastra”

Facebook Comments