Tapi itu pun sekali saja. Berkali-kali juga dia mengundang ke acara diskusi yang diselenggarakan AJI (aliansi jurnalis independen) Banjarmasin, yang dia ketuanya. Yang terakhir ini, sampai malam ini aku melayat jenazahnya di rumahnya di Alalak Tengah, tak jua kesampaian.

Didi orang baik. Didi Gunawan bin Muhammad Sanusi, aku bersaksi dia orang baik. Dia selalu menyupport kegiatan kami di Dewan Kesenian Banjarmasin, juga Kampung Buku, dan aktivisme budaya lainnya di Kalimantan Selatan ini. Aku ingat satu hari di ASKS XIX Pelaihari dia menelpon dan menanyakan nginap di mana. Aku sebut nama tempatnya, yang sekarang aku sudah lupa, dan dia menyusul bersepeda motor. Dia sengaja datang ke ASKS Pelaihari untuk menunjukkan dukungannya. Dia datang di hari kedua sampai selesai kegiatan Aruh Sastra Kalimantan Selatan di hari Sabtu. Paginya dia ngajak aku mewarung, makanan kotak kiriman panitia katanya tidak mencerminkan gaya Banjar sama sekali. Kami nyari warung khas Banjar, dan ketemu dekat Taman Pasar Lawas. Sebuah warung nasi kuning. Sambil jalan kubilang, di Pelaihari ini susah nyari warung makan pagi-pagi. Dia mengiyakan, maklum di seputaran kota itu lebih kuat nuansa Jawa-nya dibandingkan Kebanjarannya yang terbiasa dengan gaya mewarung pagi-pagi.

Selain mengobrolkan soal-soal kebudayaan, kebanjaran dan kebakumpaian, kami terkadang pula bicara soal-soal keagamaan.

Seperti yang kami bicarakan sambil makan nasi kuning pagi itu, dan bila-bila juga di Kampung Buku. Didi bilang dia dulu suka ngaji ke mana-mana sejak kecil hingga masa remaja. Keluarganya juga, dia bilang, dikenal di sekitaran kampungnya di Alalak sebagai keluarga Qari’. Kadang dari masalah-masalah permukaan kami menjurus ke soal-soal yang lebih dalam, terkait keyakinan beragama Urang Banjar. Dalam hal ini kami sama-sama besar dari kalangan tradisional, yang dekat ke soal-soal kerohanian atau perkara batin.

Yang sampai hari ini dia belum tuluskan janjinya kepadaku, adalah menunjukkan keris pegangannya yang katanya berwafak. Ya, dia tahu aku sedang berusaha menyelesaikan penelitian S3 terkait wafak Banjar, dan dia ingin turut membantu menghubungkan aku ke beberapa “urang-pintar” yang dia kenal dalam hal itu. Dan sampai kubacakan tahlil baginya malam ini, hal itu belum tulus kesampaian.

Bersama Cupi (Shufiyadi Akbar), pengurus DK-Banjarmasin yang juga seorang komika yang kadang merangkap ustaz baca doa di DK-Bjm, kami membacakan ayat dan doa-doa mengantar kepergiannya. Selesai doa, aku buka tapih bahalai penutup wajahnya, kulitnya bersih dan seakan air matanya mengembun. Aku sentuh lengannya, lemah dan lembut. Di jalan pulang, di kendaraan Cupi, kubilang “Baik!” Ya, dia orang baik, dia orang baik.

Facebook Comments