Saya pernah berucap dalam momentum siaran yang maknanya kurang lebih seperti ini: “Jika seseorang mengkhawatirkan sesuatu di orang lain/pasangannya, waspada! Bisa saja dia telah melakukan sesuatu yang dia khawatirkan kepada orang lain itu,” kurlebnya begitu lah ya. Itu juga lantaran ada terekam dalam video jadi ingat-ingat gitu, deh. Namun ini bukan kebenaran mutlak, kamu mesti cari lagi landasan teori atau disiplin psikologi mengenai hal termaksud.

Inilah yang terjadi dalam diri Amber Heard. Hampir di setiap pernyataan dalam persidangan itu, betapa Amber tampak mengklarifikasi banyak hal terhadap dirinya, kepada Johny Deep. Kecemasan kekerasan yang dilakukan Deep terhadap dirinya. Perlakuan sex yang menyimpang, mabuk alkohol, lupa diri karena kokain, dan ketakutan akan melukai dirinya. Ketakutan-ketakutan dalam bentuk kekerasan terhadap dirinya Amber.

Namun faktanya, hampir semua bukti hasil kekerasan tadi ada (menjadi barang bukti) di setiap luka, di beberapa bagian tubuh Depp. Jari yang putus, mem-foto saat dia lupa diri. Bahkan Amber, sengaja merekam kekesalan Depp di beberapa momentum. Yang dengan jelas Depp “i never touch, her,” dalam artian ketika ia kesal atau marah.

Tapi ya sudahlah ya, bukti sudah jelas, para ahli sudah meneliti, persidangan sudah selesai. Lantas apa pelajarannya? Nah ini!

#1 Opini di Koran Sebagai Pemicu Konflik Jangka Panjang

Bermula dari perceraian yang baik-baik saja. Amber seperti haus akan spotlight. Sorotan dari sejumlah kalangan, dan terutama: Wartawan! Media pemberitaan. Ia menulis opini, sebagai kaum perempuan yang tertindas. Korban KDRT. Menyuarakannya dengan mengusung kebebasan berpendapat di media-media. Mungkin di era sekarang opini dalam sebuah media online menjadi penting untuk menjadi bahan pengambil keputusan.

Dampaknya, sebagian besar para aktivis, organisasi mengarahkan tuduhan tersebut kepada mantan suaminya, Johny Depp.

Bertahun-tahun Depp menahan serangan demi serangan hingga memuncak, sampai begitu merosot jauh kariernya dan keuangannya.

Jika saja Amber Heard tidak jumawa pasca menang di sidang perceraian, tidak menye-menye mleyot merasa paling benar dalam gugatan itu, maybe, konflik panjang yang menyeret sejumlah nama media tadi, ke persidangan penuh drama hingga kemarin selesai, TIDAK AKAN PERNAH TERJADI.

#2 Semua Jejak Digital Bisa Jadi Barang Bukti

Apa pun itu. Jika kasus atas dasar pencemaran nama baik terangkat di media (apalagi anda seorang public figure: artis, pejabat, politikus, seniman, dsb). Anda bikin list sendiri saja. Saya akan mengurutkan dari byte yang paling sedikit hingga ukuran bergigabyte.

Pesan teks, chat dalam media sosial: WA, grup, DM instagram, messangger, artikel berita online, pernyataan di media, pernyataan video, rekaman cctv, rekaman dari kamera amatir, rekaman dari orang lain, berita-berita, rekaman cctv bla-bla-bla, coba anda sebutkan lagi.

Apa saja bisa menjadi bukti yang memberatkan tergugat atau meringankan penggugat.

#3 Melibatkan Lingkaran Pertemanan

Lingkaran bisnis pula. We all know, pihak Warner Bros dan Disney dilibatkan dalam persidangan sebagai saksi. Tentu saja upaya-upaya untuk membenarkan suatu tuduhan adalah saksi. Saksi bisa dari siapa saja. Bahkan lingkungan keluarga. Yang terutama adalah orang-orang terdekat anda. Jangan heran jika suatu waktu teman anda yang artis misalnya, atau dia pejabat publik, singkatnya dia dikenal baik. Lantas bermasalah dengan hukum! Hmmm siap-siap saja: salah satu dalam lingkaran pertemanan kalian akan diminta jadi saksi. Tergantung: apakah nanti pernyataan saksi menjadi penguat tuduhan, atau memperlemah tuduhan.

#4 Kebenaran Selalu Terlihat Mesti Tersembunyi

Please, stay calm! saya memberikan pernyataan di bagian empat ini bukan lantaran membela kaum pria, atau tidak menghargai emansipasi wanita dalam berbicara, atau sengaja menyatakan betapa wanita selalu merasa benar, please, pun kalau benar, ya akui saja. Hadapi dengan tenang. Tidak perlu ngegas, gitu!

Selain betapa wanita begitu menggebu-gebu ketika banyak yang mendukung atas sesuatu yang ia anggap benar, ia lemah dalam mengontrol ego.

Betapa Amber Heard begitu berapi-api melakukan pembelaan diri. Seperti tak yakin dengan argumennya sendiri. Tidak merasa bersalah, berkelit dalam memberikan pernyataan, bahkan berbohong atas dasar ia tidak ingin terlihat buruk.

Ada pernyataan ahli menilainya plying victim. Ada juga yang menganggapnya manipulatif. Banyak hal-hal negatif yang ditulis para ahli di media-media US, juga kontent kreator yang meneliti episode demi episode persidangan. Amber, tampak gelisah: seolah, tak ingin apa yang sebenarnya terjadi terungkap.

Saya tidak terlalu meagung-agungkan JD betapa ia dan timnya begitu tenang. Begitu sabar, penuh kepastian, keyakinan, dan kepercayaan diri. Langsung ke poin permasalahan, pertanyaan yang jelas tidak bertele-tele. Tidak mengarahkan ke sana-sini, melibatkan para saksi yang apa adanya tidak dibuat-buat.

Ya saya pikir tak perlu seorang ahli bahasa tubuh, semua bisa menilai itu, bahkan dari potongan-potongan video saja, orang-orang yang menonton bisa menilainya.

Finally, kita ke bagian akhir catatan ini. Yang pertama, hati-hatilah dalam menulis. Anda tak pernah tahu dampak apa yang akan terjadi jika anda terlalu asal-asalan.

Ya maksudnya kalau ingin membela diri sendiri, begitu, membikin opini, ya diukur gitu loh. Pengetahuan anda sampai di mana, manfaat dari anda menulis opini di media apa? ya semua hal itu tentu ada tujuannya lah, ya. Anda bisa mengukur kemampuan anda masing-masing dalam hal ini.

Kedua, hati-hatilah dalam bersosial media. Hati-hati dalam kooridor ini maksudnya tahu batasan. Mengerti mana yang memang harus diketahui oleh publik mana yang memang milik pribadi, alias tidak untuk dipertontonkan. Karena anda tak pernah tahu siapa saja yang melihat/menontonnya.

Yang kelak, jika terjadi sesuatu kepada diri anda, postingan dari media sosial akan menjadi ukuran: entah indikator kepada yang bersifat negatif atau positif. Yang kelak, menjadi barang bukti jika berurusan dengan ranah hukum.

Ketiga, bijaklah memilih teman. Dan ini benar-benar akan menjadi dua sisi mata pisau. Jika memang anda memunyai lingkaran pertemanan yang baik, maybe teman bisa menjadi penguat: sebaliknya bisa saja anda menjadi saksi yang baik, terhadap teman yang telah memberikan banyak kebaikan kepada anda.

Lantas, pertemanan buruk bisa menyeret anda ke ranah hukum. Jika saja anda disumpah jujur dalam persidangan, yang kejujuran anda akan memperberat bukti bersalah, anda mau apa? Atau anda sedang disidang, teman anda diminta jujur terhadap kelakuan anda selama ini, anda bisa apa? Sekali lagi, BIJAKLAH MEMILIH TEMAN!

Keempat, JUJUR. Apa adanya. Jangan berlebih-lebihan. Tidak akan pernah ada yang baik sesuatu yang berlebihan, bahkan di pekerjaan yang anda anggap baik sekalipun: beragama, misalnya.

Beribadah lupa waktu, misalnya? Bersedekah? Salat? Kebaktian? Bertapa? Berdoa? Apa lagi? Coba anda list sendiri, silakan tulis di komentar! Atau jika sanggup, tulis balasan terhadap tulisan ini! COBA! []

Facebook Comments