Dear Pak Kiai yang kami cintai…

Betapa luar biasa dinamika perpolitikan kita di Indonesia. Bapak presiden kita yang baik dan lembut hatinya telah memilih sampean untuk mewakili kerjaan-kerjaannya yang berat lima tahun mendatang. Berat lho jadi Presiden itu, kita yang sering koar-koar di media sosial belum tentu sanggup menyandang segala problematika sosial apalagi neraca keuangan yang begitu besar dalam Tata Negara yang kompleks. Kami sayang Pak Kiai, kalau-kalau nanti ditimpa hal-hal yang memberatkan di dunia, menjadi ketua Majelis Ulama se-Indonesia saja tidak semua ulama yang mau, apalagi wakil presiden. Bapak Kiai membanggakan.

Dear Pak Kiai yang kami cintai…

Kami sayang dengan sampean, segala kedalaman ilmu dan segala urusan umat baik itu persoalan zohir dan bathin mau pun urusan tarjih dan muktamar yang menoreh lama di bangsa bisa berjalan enak dan nyaman, tentu kepemimpinan Pak Kiai sangat berharga untuk kami, tapi untuk menjadi seorang wakil presiden, sebagian kami cemas, kalau kelak, Pak Kiai tersakiti.

Ya Tuhan, tidak ada sedikit pun keraguan kami akan kedalaman ilmu Pak Kiai dan wiridan-wiridan yang sekian puluhan tahun sampean jalani, tidak ada sedikit pun keraguan kami akan pengetahuan Pak Kiai soal fiqh siasah dan ketatanegaraan dalam konteks kitab-kitab kuning khas pesantren, kami sayang Pak Kiai, dan kami cemas kalau-kalau Pak Kiai menjadi jualan untuk menyedot perhatian umat demi kepentingan beberapa elite politik.

Terima Kasih Cak Imin, sebagai promotor Pak Kiai di PKB, Cak Imin seperti head officer event organizer yang berpengalaman. Semoga kecintaan Cak Imin kepada sampean bukan karena dorongan dan hasut-hasutan yang tidak baik. Tidak menjerumuskan begitu.

Dear Pak Kiai yang kami cintai, kami sayang dan sangat menyayangkan pilihan Pak Kiai untuk menjadi pengganti Pak JK di masa mendatang. Semoga tidak apa-apa ya Pak, inshaAllah negeri ini terberkahi.

Saya jadi kasihan dengan orang-orang yang berambisi itu Pak Kiai, nama ulama-ulama dijual-jual untuk mendulang suara pemilih. Sah sah saja, kok. Gak salah kan Pak Kiai, kasihani mereka juga yang benar-benar menyayangi Kiai, mereka yang berambisi menjadi wapres, eh malah gak jadi.

Pak Kiai Sepuh, yang sangat kami hormati, kami mendoakan dalam keberkahan, dipanjangkan umur dalam sehat, kami agak cemas aja gitu, kalau-kalau para anak muda di lingkungan partai nantinya seenak dengkulnya manggil-manggil Pak Kiai, apalagi suruh-suruh bikin ini bikin itu jadiin ini jadiin itu. Semoga tidak.

Dear Pak Kiai, mengapa harus ada celetukan kalau gak pilih Kiai jadi auto kafir, saya mencium bau-bau ambisi dan pemaksaan dalam lingkaran Pak Kiai, semoga ini hanya sangka-sangka dan hasutan setan yang terkutuk, tidak tabayun, dan tidak berdasar. Ya Allah, kami berdoa agar Pak Kiai dan kami yang mencintai diselamatkan dari fitnah-fitnah tersembunyi. Karena manusia tempatnya khilaf, kami juga sering salah, ustadz juga blunder soal tafsir. Akhir zaman ada ada saja ya, Pak.

Kami berharap pun seandainya terjadi yang dikhawatirkan orang-orang awam, Pak Kiai dalam memimpin tetap merasakan kedamaian dan kesejukan sebagaimana jargon-jargon yang dijanjikan.

Pun demikian jika kelak Pak Kiai gak kesampean jadi wakil Pak Jokowi, kami akan lebih sayang. Karena kami terbiasa sami’na wa atha’na. Meski tidak semua ikut-ikutan soal pilihannya, kami tetap cinta Pak Kiai Ma’ruf Amin. Sehat terus Pak, kami sedih kalau Pak Kiai [email protected]

Facebook Comments