Saya menuruni tangga. Semerbak mawar dan bunga lily di lorongnya. Setelah peserta panel diskusi menghambur keluar Indus lantai dua. Kami bertiga Tiara berjalan ke lantai terdasar dengan view hutan lebat lereng pegunungan yang membuka.

Kamila Andini itu mungil sekali. Saat berjalan berdampingan seolah mudah sekali untuk saya menggandengnya. Seperti anak SMA. Ibu dari dua anak yang juga bersuamikan seorang sutradara ini telah meraih penghargaan yang bertubi-tubi. Betapa tidak, kurang dari setahun saja, Sekala Niskala (The Seen and Unseen) yang dia sutradarai sudah menyabet puluhan (lebih malah) penghargaan di sana sini. Luar dan dalam negeri.

The Mirror Never Lies sebagai film pertama hasil garapannya ditayangkan lebih dari 30 festival di seluruh dunia. Dan menerima penghargaan tentu saja. Film kedua Andini, Sekala Niskala (The Seen and Unseen), ditayangkan pertama kali di Toronto International Film Festival 2017. Dan lagi, menerima penghargaan Best Youth Feature Film di Asia Pacific Film Festival, Grand Jury Prize di Tokyo Filmex, Generation Kplus Grand Prix di Berlinale, dan beberapa penghargaan lainnya.

Kamila Andini menghadiri UWRF18 sebagai speaker pada Main Program: Family Footsteps, The Seen And Unseen, Rewriting The Script, dan screening film Sekala Niskala (The Seen And Unseen) (2017).

Kami saling bercerita, bagaimana proses kreatif bisa tercipta. Juga tentang bagaimana Dini menjalani profesinya sebagai sutradara. Saya telusuri, meski dia tumbuh dari ruang lingkup keluarga film, tapi dia justru tidak sula film pada permulaannya. Tidak terlalu terlalu kuat meletakkan minatnya di lingkaran produksi perfilman.

“Dini pernah ke Banjarmasin, kan ya? Waktu itu Sekala Nisakala ditayangkan XXI, di satu mall di Banjarmasin, berkat lobi kawan-kawan komunitas film di sana!”

“Mmmm… Kalau saya belum pernah, mas. Tapi, iya, sih emang bener film Sekala Niskala diputar di sana!” jawabnya.

Walaupun Kamila adalah anak dari sutradara kawakan di Indonesia (Garin Nugroho), tidak otomatis mendapatkan skill dalam menata visual langsung dari ayahnya. Perempuan kelahiran Jakarta pada 6 Mei 1986 ini mengaku, banyak sekali ilmu penyutradaan yang ia dapatkan justru dari orang-orang di luar lingkungan keluarga.

Meski tak bisa dipungkiri, lingkungan keluarga sangat cocok. Satu lingkaran yang senada. Baginya, Garin Nugroho menjadi sosok Ayah yang sangat menginspirasi. Jika boleh menarik waktu ke masa lampau, Kamila menyutradari film untuk kali pertama pada tahun 2002 berjudul Rahasia Dibalik Cita Rasa, dilanjutkan The Mirror Never Lies yang dibintangi oleh Atiqah Hasiholan dan Reza Rahardian. Membeberkan segala raihan penghargaan Kamila Andini pada catatan ini akan nyesek, karena terlalu banyak. Silakan searching sendiri aja, ya!

Dini mengakui, dalam membuat film, tidak sedikit kesulitan yang ditemui. Apalagi kebanyakan film yang dia buat tidak seirama dengan selera pasar. Mungkin, film yang digarapnya tidak komersil di Indonesia. Tapi di luar negeri, justru sangat dihargai dan bernilai tinggi.

Kata Dini, semakin ke sini ia semakin tertantang dalam membuat film. Padahal sebelum bergulat di dunia penyutradaraan, ia sudah berkecimpung di ranah seni kreatif lainnya dari fotografi, tari, musik, bahkan berenang sebagai hobi. Tapi ketika bergelut dalam penyutradaraan, semuanya menjadi padu.

Saya tanyakan ke Dini apakah saat berproses ia meniatkan kelak filmnya harus mendapatkan berapa juta penonton atau meraih penghargaan di festival-festival film bergengsi?

“Beberapa film yang saya garap memang cenderung serius. Sementara belum membuat film komersial. Mungkin nanti. Kadang ide yang datang juga tidak mengkhususkan film ini harus gol berapa juta penonton atau harus penghargaan apa, begitu. Semua mengalir saja sebagai proses karya. Tidak berekspektasi muluk-muluk mesti meraih penghargaan ini itu. Kendala pasti ada. Tapi semua proses dijalani dengan menyenangkan. Karena ini bagian dari pekerjaan yang disenangi!” bebernya.

Saya paparkan ke Dini bahwa di era digital ini, memproduksi film semakin mudah. Namun, beberapa rekan yang sedang komitmen ke industri kreatif ini selalu mengeluhkan masalah. Kamu pasti tahu, kan, masalah ini seperti menjadi persoalan kita semua?

“Saya kira sih, iya. namun Sempit sekali pemikiran si sutradara jika di era ini kewalahan dalam hal mencari funding. Produser itu bisa siapa saja. Bahkan sekarang ini pendanaan di bidang kreatif terbuka sekali. Semua informasi itu bisa diakses di internet. Pemerintahan kita melalui kementrian kebudayaan juga mendukung sekali industry kreatif di tanah air. Be Kraf, misalnya. Dan masih banyak badan pendukung industri film lain di Indonesia!”

Kamila bilang, beberapa waktu ke depan mungkin akan mulai berproses film lagi, meski tidak terburu-buru. Sebelum pertemuan kami berakhir. Saya memintanya untuk berbicara di depan kamera sebagai promosi Aruh Film Kalimantan yang sedang getol-getolnya dibranding teman-teman dari Forum Sineas Banua. Cukup Naiiisee, kan!@

Facebook Comments