Malam-malam di Kampung Kariup, Kelurahan Sarang Halang, seringkali membuatku kesepian. Aku begitu malu saat tak mampu sholat sesempurna keadaan. Aku hanya bisa mengangkat takbir namun tak bersedekap. Aku hanya bisa rukuk menopang tangak kiri di atas lutut. Aku hanya bisa sujud dengan tangan kiri di atas sajadah. Bahkan jika nyeri-nyeri itu mendatangiku di waktu sholat, aku hanya bisa mengerjakannya dengan duduk saja. Kepalaku masih terasa berat. Sangat berat. Sampai tujuh hari aku melakukan kegiatan yang sangat membosankan. Berdiam di kamar. Keluar rumah sampai beranda. Membaca beberapa buku-buku agama milik Guru Ramlan. Dan tidur dengan rasa gelisah luar biasa.

Ya Tuhan. Rasanya begitu banyak dosa-dosaku ditampakkan saat aku terasa sakit. Apakah ini teguran atas kelalaianku terhadap ibadah atau sekadar kiffarat dosa yang selama ini telah kulakukan. Aku mengambil air wudhu. Sholat tahajjud dan sunat taubat di sepertiga malam. Aku meminta ampun kepada Tuhan sekalian alam. Aku membuat janji kepada Tuhan agar lekas disembuhkan. Sesungguhnya tak ada kesembuhan yang datang selain dari-Nya. Dan aku tak ingin lagi meninggalkan sholat yang sebelum kejadian ini sering kutinggalkan.

“Aku ingin bertanya sesuatu kepada Guru?” Aku mengucapkan itu saat Guru Ramlan membuka perban di tangan kananku setelah tujuh hari. Tangan kananku yang telah ditangkir tersebut, perban dan kayu penopangnya harus segera diganti dengan yang baru. Saat perban dibuka, darah-darah di dalam uratku serasa mengalir deras mengisi kekosongan. Banyak sekali kotoran tanah yang keluar saat Guru Ramlan menggosokkan minyak –entah minyak apa namanya aku tak sempat bertanya- dalam botol minuman vitamin.

“Tentang Ibumu, Val?”

Aku memandang wajah Guru Ramlan. Ia seperti membaca pikiranku. Aku mengurungkan niat melanjutkan pertanyaan. Lantas aku meringis menahan sakit saat dia kembali menarik pergelangan tanganku seperti pertama kali melakukannya. Ia memasang kayu papan di pergelangan tangan hingga siku. Dan kembali melilitkan perban yang baru.

“Aku akan memberikan suatu hikayat yang pernah diceritakan Zakir kepadaku?”
Guru Ramlan menghela napas panjang. Tampak ada sesuatu beban yang menimpa di pundaknya.

“Zakir Ahmad, guru sekaligus orangtuamu itu pernah menitipkan surat.”

***

BERSAMBUNG

Facebook Comments