KEPALA Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Banjarbaru, Juhai Triyanti menguraikan jumlah temuan penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD) di periode Februari ini sebanyak 56 kasus.

Dinkes Banjarbaru telah mencatat per Januari lalu sebanyak 177 kasus penyakit DBD. Artinya, pengentasan yang telah dilakukan oleh Dinkes Banjarbaru sebanyak 121 kasus DBD.

“Ya, kini sudah mulai menurun. Kita harapkan bisa lebih lagi karena sebelumnya per Januari sangat tinggi,” ucap Kepala Dinkes Banjarbaru, Juhai Triyanti saat ditemui di Balaikota, Jum’at (16/2/2024) siang.

Juhai menjelaskan, tidak hanya terjadi di Banjarbaru saja dari peristiwa DBD ini, tetapi merebaknya penyakit mematikan ini telah menyentuh di seluruh daerah Kalimantan Selatan. Dia menyebut kasus tinggi juga dirasakan oleh Kabupaten Banjar.

“Tak hanya Banjarbaru, tetapi seluruh Kalsel yang terjadi kasus DBD ini. Paling tinggi itu Kabupaten Banjar,” ujarnya.

Sebab itu, Pemko Banjarbaru mengeluarkan peringatan waspada Kejadian Luar Biasa (KLB) untuk di daerah yang rawan terkena kasus DBD. Juhai menyebut daerah yang rawan itu, yaitu Banjarbaru Utara, Banjarbaru Selatan dan Landasan Ulin.

“Kalau pencegahan, kita punya Gardu Gertak Bapuputik (Gerakan Serentak Sapu dan Punahkan Jentik). Gaungkan jadi sebuah kebutuhan di masa mendatang,” terang dia.

Juhai pun menyampaikan untuk masyarakat Banjarbaru agar dapat menjalankan aspek Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN) dengan melakukan 3M Plus seminggu sekali.

3M Plus, yaitu: Menguras tempat penampungan air. Menutup tempat-tempat penampungan air. Langkah selanjutnya, mendaur ulang berbagai barang yang memiliki potensi untuk dijadikan tempat berkembang biak nyamuk Aedes aegypti yang membawa virus DBD pada manusia.

“Sebaiknya itu sudah menjadi kebutuhan dan terus berlanjut, apalagi dilakukan secara rutin maka jentik atau nyamuk tidak ada lagi,” tegas Juhai.

Dalam fenomena ini, Juhai menginginkan jangan sampai ada kasus DBD yang mengakibatkan seseorang hingga meninggal dunia. “Jangan sampai ada, Banjarbaru terhindari dari itu,” harapnya.

Diketahui bahwa tercatat kasus tertinggi yang mendominasi di Kelurahan Mentaos, Banjarbaru Utara dan sementara, kasus paling terendah di daerah Cempaka.@