DALAM tahun-tahun politik yang panas, orang mudah naik darah. Mendadak orang yang kita kenal santun menjadi berangasan dan mudah tersinggung. Media sosial kita bertabur kata-kata umpatan, saling beradu kenyinyiran, dan tawa-menertawakan.

Di kehidupan nyata, sifat-sifat egois mengemuka. Selalu merasa paling benar dan ingin menjadi pusat dunia.

Di tengah kondisi seperti itu, puisi-puisi Faidi Rizal Alief yang terhimpun dalam “Pengantar Kebahagiaan”, hadir sebagai seruan. Puisi sebagai seruan sudah jarang sekali ditemukan. Apalagi seruan yang sayup dan sangat tidak propagandis. Sebuah seruan untuk kembali kepada sesuatu yang kita pernah akrab dan selalu hidup di kepala kita. Kembali pada alam, pohon, buah, sawah, bunga, rumah, halaman, suasana keakraban, atau sekadar menyinggahi hati yang nyaman dan rindu.

Dalam puisi Faidi, waktu seakan dilambatkan, bahasa disederhanakan, keruwetan diteduhkan, kebudayaan kecil manusia dipadupadankan. Sensori dan imajinasi kita tanpa sadar menyusup ke dalam gerak halus puisi-puisinya. Kemengaliran, hawa alam, dan kehangatan hati manusia adalah ramuan puisi Faidi. Obsesi dan gagasan-gagasan besar tidak mendapat tempat di sini.

Puisi barangkali hanya menjadi pengantar. Kita memang harus kembali ke alam dalam pengertian yang sebenarnya. Menggauli tanah, nyruput udara murni, merangkul keheningan, tidur di pangkuan rindu, dan sebagainya. Pemilihan buku puisi ini pun mungkin akan menjadi suatu ironi, suatu hari nanti. Tidak ada ucapan selamat, kecuali hanya ucapan bela sungkawa di tengah penyerobotan hutan dan bebukitan oleh kuasa pertambangan.

Hari-hari ini mereka menyuarakan #Pertahankan Meratus!. Terima kasih sudah menjejakkan kaki di sini. Wartakan jika pulau ini telah tenggelam, bahwa kalian, sang penyair, pernah menikmati sepotong surga yang tersisa.

Faidi, sebagaimana juga penyair-penyair lain, bisa sangat menjanjikan sekaligus tidak menjanjikan. Ia tentu masih mungkin berkembang melampaui pencapaiannya saat ini. Tapi seandainya ia pun gugur di fase ini, berhenti menulis dan memutuskan untuk total menjadi petani, misalnya. Atau mendadak ia mengganti gaya penulisan puisinya. Yakinlah, puisi-puisinya dalam buku ini masih akan mengimbau sesiapa untuk menghayati kebahagiaan dalam diri.

Puisinya adalah pengantar sekaligus tujuan kebahagiaan itu sendiri. Lepaskan sepatumu dan masuklah ke dalam jagat hening Puisi. Tempat ini [email protected]

Facebook Comments