NASRUDDIN dikenal sebagai orang berilmu, maka sesuai kebiasaan di kampungnya ia dipanggil Mulla, sebutan lain dari Guru atau Tuan. Orang-orang juga tahu bahwa Nasruddin memiliki seekor keledai yang sangat disayanginya.

Tahulah kalian, yang namanya keledai adalah binatang yang lamban namun juga terhitung kuat. Paling tidak, bagi Nasruddin, keledainya bisa untuk membawa beban buku-buku yang tak dapat dipikulnya sendiri. Maklum, kadang-kadang Nasruddin dipanggil orang-orang sekitar kampungnya dan kampung-kampung bertetangga untuk mengajari mereka atau sekadar untuk ceramah di bulan-bulan tertentu dan khotbah Jumat. Kadang, keledai itu juga ditungganginya sendiri.

Satu hari di tengah perjalanan menuju kampung sebelah, Nasruddin berpapasan dengan tetangga kampungnya. Orang itu menyapa Mulla Nasruddin dengan hormat dan menanyakan kabar Nasruddin berbasa-basi.

“Mau ke mana Mulla, pagi-pagi begini sudah menunggangi keledai?”

“O, ini, aku mau pergi ke kampungmu.”

“Ada keperluan apa, Mawlaya? Ada yang bisa saya bantu?”

“O, tidak perlu. Aku bisa pergi sendiri.”

“Lho, ada hajat apa hari ini, Mawlaya?”

“Aku mau salat Jumat di kampungmu.”

“Ini kan hari Kamis, Mulla?!”

“Iya, aku tahu,” kata Nasruddin. “Tapi keledaiku ini istimewa sekali. Dia sangat lambat kalau berjalan. Aku sudah sangat bersyukur kalau besok bisa tiba di masjid tepat pada waktunya.”@

————————-

Kisah ini ditulis ulang oleh penulis dari khazanah cerita rakyat yang dinisbatkan kepada Nasruddin Hoja dan guru-guru sufi yang bijaksana dari berbagai sumber.

Facebook Comments