HUTAN pinus. Penari, pemusik, desain art, penyair, dan puluhan pekerja seni lainnya berkumpul di kawasan itu membuat sebuah pertunjukan di suatu sore yang, mungkin remang atau mungkin basah karena habis hujan.

Mereka bersama, tapi sendiri-sendiri. Penari dengan tariannya, pemusik dengan musiknya, penyair dengan sajaknya, penulis dengan tulisannya, desain art dengan goresannya, bergerak dengan imajinasi kreatifnya. Hanya satu, mereka semua berusaha merespon sebuah sastra lama; Gurindam.

“Soundscape of Gurindam” itulah nama pertunjukannya, yang mungkin sulit dibayangkan, dan tak pernah dialami sebelumnya. Adalah NSA Project Movement, pelaksana acara yang rencananya digelar pada 27 Oktober 2018 di Hutan Pinus, Banjarbaru, pukul 14.00 – 16.30 Wita. Kegiatan ini digelar oleh Taman Budaya Kalimantan Selatan Bekerjasama dengan Pemerintah Kota Banjarbaru melalui Nov’art Laboratory.

Novyandi Saputra, pimpinan NSA Project Movement, menyebut pergelaran itu sebagai “sebuah konsep seni” yang berangkat dari gurindam-gurindam karya sastrawan asal Banjarbaru, Iberamsyah Barbary.

“Gurindam karya Iberamsyah Barbary merupakan gurindam yang lahir dari proses merespon berbagai kejadian yang dialami, dilihat, didengar, dan dirasakan. Gurindam-gurindam Iberamsyah menjadi sangat kontekstual dengan berbagai hal sekarang ini,” sebut seniman musik yang belakangan rajin menggelar berbagai pertunjukan di Banjarbaru dan Banjarmasin.

Menurutnya, gurindam Iberamsyah berbeda dengan gurindam 12 Raja Ali Haji dari Kepulauan Riau yang lahir sebagai sebuah pedoman dan berintisari pada cara hidup beragama.  “Gurindam Iberamsyah justru lahir dari merespon semua segi hidup dan kehidupan yang terjadi saat ini. Mulai ekonomi, budaya, beragama, hingga politik,” ujar lelaki berambut sebahu ini.

Begitu pula dengan pertunjukan “Soundscape of Gurindam”, sebut Novy. Konsep kekaryaan pada pergelaran ini bertitik berat pada kata respon. “Seniman-seniman yang terlibat akan merespons teks-teks gurindam Iberamsyah dengan media seni mereka masing-masing. Jadi, ini semacam merespon balik gurindam yang terlahir dari hasil merespon,” bebernya.

Maka, yang terjadi dalam pertunjukan itu adalah sebuah kolaborasi (yang seakan) tanpa konsep—yang justru itulah konsepnya. Barangkali nanti, ketika para seniman itu merespon gurindam, mereka juga ternyata (sengaja tak sengaja) akan saling merespon; penari merespon bunyi-bunyian musik, musik merespon pembacaan sajak, pembaca sajak merespon penari, penulis merespon alam, pelukis merespon suasana, dan bukan tak mungkin penonton pun akan turut terpengaruh untuk merespon pertunjukan itu entah dengan cara apa.

“Reaksi-reaksi karya seni yang beresensi pada teks gurindam ini kemudian akan melahirkan pembacaan-pembacaan baru para seniman terhadap tubuh baru gurindam yang tidak nampak sebagai teks, namun lahir sebagai esensi simbolik para seniman,” jabar Novy.

Mungkin absurd. Sementara ini, bagaimana nanti pertunjukan itu akan berlangsung hanyalah terbayang dan gentayangan di benak Novy, yang memang gemar melakukan berbagai eksperimen pertunjukan. Terkadang tak lazim, namun mengejutkan. Antimaenstream, tetapi mencerahkan.

Pertunjukan yang didukung Dinas Pemuda, Olahraga, Kebudayaan dan Pariwisata Kota Banjarbaru, Dewan Kesenian Banjarbaru, Akademi Bangku Panjang, Mingguraya Banjarbaru, dan Pokdarwis Hutan Pinus Banjarbaru ini, bagaimanapun layak ditunggu dan disaksikan.

Sejumlah seniman yang terlibat di antaranya Iberamsyah Barbary selaku penulis gurindam, Mukhlis Maman (Julak Larau), Abib Igal Habibi, Dwitiya Amanda Puteri, OBO Orchestra Banjarbaru, Jam’I, M. Ramadhani Albanjari (Abe), Maskur Ripani, SMAN 2 Banjarbaru, Mika August, Sulistiyo Hilda, Fitri and Friends, HE Benyamine, Ardiansyah, dan Aluh Kariting.

Bisa dimengerti bila tak bisa membayangkan bagaimana orang-orang dari latar seni kreatif berbeda itu dikumpulkan dalam sebuah panggung alam terbuka hutan pinus. Entah chaos, camuh, atau justru akan membentuk sajian harmoni, suara dan warna baru, dengan rasa sedap yang belum pernah dirasakan. Mari hadiri, dan saksikan [email protected]

Facebook Comments