NASRUDDIN tidak hanya hidup di tengah masyarakat kecilnya di kampung, tapi juga kadang terlibat dalam pergaulan politik para pembesar negeri. Karena itulah ia punya musuh-musuh dalam selimut, orang-orang yang tak suka dan dengki. Satu dua tuduhan kadang terarah kepadanya. Dan di antara tuduhan-tuduhan itu, ada yang sering tak masuk akal bagi seorang yang memiliki reputasi seperti Nasruddin.

Suatu waktu Nasrudin dijatuhi hukuman mati dengan tuduhan mencuri seekor keledai, padahal ia tidak melakukannya. Dakwaan ini sebenarnya kurang masuk akal, karena ia hanya punya satu keledai yang paling disayanginya. Semua orang di kampungnya tahu itu, bahkan seantero negeri pun tahu.

Pendek cerita, vonis telah jatuh, dan Nasruddin harus menerima hukuman. Tak kurang akal, saat diseret ke tiang gantungan ia berseru, “Hewan itu sebenarnya saudaraku!”

Raja yang bodoh dan dikuasai para menteri yang jahat itu tidak seperti biasanya terperangah dan kemudian berpikir. Termakan kepandiran Nasrudin ia bertanya, “Bagaimana bisa?”

“Seorang penyihir telah mengubahnya. Tapi jika Tuan berkenan dan keledai itu diserahkan kepadaku selama setahun, aku akan mengajarinya bicara kembali seperti kau dan aku, dan mungkin sekali ia akan kembali ke bentuknya semula.”

Para menteri membisiki raja, tapi penguasa yang terlanjur penasaran menyuruh Nasrudin mengulangi janjinya. Setelah itu ia mengatakan, “Baiklah! Tetapi, jika keledai itu tidak bicara setelah setahun ini, kau akan benar-benar dihukum mati.”

Baru saja ia sampai di rumah, istrinya yang mendengar berita itu menanyai Nasruddin. “Bagaimana kau bisa menjanjikan hal yang mustahil itu? Kau tahu benar, keledai itu tak akan bisa bicara.”

“Sudah tentu aku tahu,” sahut Nasrudin, “tapi, dalam setahun ini siapa tahu sang raja mati, para menteri mati, keledai itu mati, atau aku yang mati terlebih dahulu.”@

Facebook Comments