Kisah-kisah itu umumnya pendek saja. Di Barat, yang tertarik pada bagaimana kisah memberi pengaruh terhadap cara berpikir masyarakat, umumnya dikenal sebagai anekdot. Kisah pendek. Di kita, kata ini kaprah menjadi “sekadar” humor. Lelucuan. Bahkan kadang turun kasta menjadi sekadar slapstick, humor pemanis pergaulan yang bagi sebagian orang disebut humor (kelas) “rendahan”.

Kisah-kisah Abu Nawas, Mulla Nasruddin, Bahlul, misalnya, kemudian diperdengarkan tak lebih dari sekadar candaan mengisi waktu jeda atau nganggur. Dalam sebagian periwayatan bahkan bercampur dengan sensualitas dan kebodohan yang menghinakan. Padahal tokoh-tokoh itu adalah orang-orang cendikia, yang kadang konyol, namun benar-benar membawakan kesegaran bagi kejumudan berpikir dan beragama.

Sikap mereka adakalanya merupakan bentuk kritik terhadap sikap-sikap penguasa dan ahli hukum yang kaku dan kejam—takberpihak pada rakyat atau masyarakat penyangga kekuasaannya. Bahkan ada yang benar-benar satire dan menyesakkan dada, bagi orang-orang yang lalai dan lupa karena kemewahan dan kemudahan hidupnya.

Kisah-kisah mereka ini bahkan diadaptasi sedemikian rupa untuk “menyerang” penguasa sezaman. Nama-nama mereka bisa berubah mengikuti tradisi lokal, semisal Palui, Kabayan, atau Mukidi. Atau sebaliknya, kisah-kisah kontemporer lokal dilegitimasikan dengan nama-nama mereka yang sudah sedemikian kuat memberi pengaruh di benak pendengar: Bahlul, Nasruddin Hoja, Abu Nawas.

Sekali lagi, tidak penting benar siapa tokohnya, sejauh ia mampu memberi penyegaran dalam ketaatan beragama, kepada Allah swt sebagai “sumber” segala kisah dan cinta, maka mutashawwifun(para calon sufi) akan mendapatkan kebahagiaannya. Tentu dalam bimbingan, dengan hikmah-hikmah yang disarikan, oleh sufi atau seorang mursyid.

DalamEssential Sufism, yang dalam edisi Indonesianya “Indahnya Menjadi Sufi”, Fadiman dan Frager (SyekhRagip al-Jerrahi) menukilsebuah anekdot tentang Nasruddin Hoja. Begini kisahnya.

Serombongan anak muda mendatangi Nasruddin dan memintanya menjadi guru mereka. Sang Mulla yang bersedia, dengan syarat mereka menemaninya ke pondok sufi, menaiki keledainya dengan posisi duduk membelakang, ke arah rombongan yang mengikutinya. Sepanjang perjalanan mereka diejek dan dicemooh. Ketika sampai di pondok, terbukti yang bertahan hanya satu orang, dan anak muda ini pun bertanya,

“Mulla, mengapa Anda duduk menghadap ke belakang seperti itu?”

“Kamu tahu,” kata Nasruddin. “Tidak sopan bagi murid untuk berjalan di depan guru mereka. Dan juga tak benar jika aku memunggungi kalian, jadi inilah cara yang paling baik menurutku.”

Kisah ini menurut penukilnya, Syekh Ragip, memiliki beberapa tingkatan makna. Pertama, Nasruddin menunjukkan kritiknya terhadap pendapat klasik ketika dia menguji muridnya. Kedua, ia memerankan guru sejati, yang tahu jalan dan perhatian utamanya tertuju pada murid-muridnya. Dan ketiga, ia sebenarnya tengah menggambarkan adab di antara guru dan murid.@

Facebook Comments