“Stroke… obatnya iman dan takwa

Menjalankan perintah agama

Orang tidak akan stroke”

 

Demikian lirik lagu yang tak pernah dinyanyikan oleh Sang Raja Dangdut. Kalau lirik “stroke”-nya diganti jadi kata “stress” itu baru benar dinyanyikan oleh Bang Rhoma. Stress dan stroke punya hubungan yang cukup erat. Secara gampangan stress artikan saja, tegang, sedangkan stroke beri makna terpukul-jatuh. Kalau seseorang terlampau tegang, mungkin karena kurang olah raga, istirahat, memeras pikiran, (kurang baca asyikasyik.com gak usah disebutkan karena narsis) dan lain sebagainya, dalam level kronisnya orang tersebut bisa terpukul-jatuh. Apaan sih terpukul-jatuh? Gak milenial… ganti aja: kelenger.

Ada banyak faktor penyebab stroke. Kalau kita lihat dari aspek medis, stroke  disebabkan oleh pecah atau tersumbatnya pembuluh darah ke otak sehingga mengakibatkan matinya sebagian sel-sel di area otak.

Dari segi psikologis, stroke memiliki penyebab seperti kebiasaan merokok, penyakit jantung, diabetes, kolesterol tinggi, jumlah sel darah merah yang tinggi, menenggak alkohol berlebihan, yang ini terkait dengan gaya hidup.

Dari segi kebudayaan, penyebab stroke bisa lebih luas lagi. Menurut informasi, presiden keempat kita, Gus Dur, total sempat tiga kali terkena serangan stroke. Pada 1998, Gus Dur diserang stroke. Salah seorang Tionghoa pengagum Gus Dur, Dr. Bina Suhendra, seorang ahli kimia lulusan Jerman, memperkenalkan ahli pijit stroke dari Bali yang lantas berusaha mengobati Gus Dur. Saat mengobati ternyata ibu-ibu (disebut dua kali padahal cuman sendiri dia) itu mendapatkan bahwa ada santet yang menyerang Gus Dur. Karena tidak mampu melawan santet sendirian, ibu ahli pijit itu mengajak anaknya untuk melawan santet tersebut (Kalo tak percaya fakta ini, sampeyan cek aja di NU Online, edisi Kamis, 28 April 2011).

Jadi, stroke rupanya bisa disebabkan juga oleh santet. Catat baik-baik, stroke bisa disebabkan santet.

Terkait ini, keluarga kami sendiri pernah memiliki orang tua yang terkena stroke. Sebagai ikhtiar, tentu saja perawatan medis yang mumpuni telah dilakukan. Dari bolak-balik Rumah Sakit sampai menemui berbagai dokter syaraf. Artinya dari segi medis, semua sudah dilakukan. Dari segi non-medis (bisa disebut budaya, tradisi, atau malah metafisikal) ikhtiar pun tidak ketinggalaan.  Ayah kami itu kami bawa ke dukun (bahasa ilmiahnya spiritual healer, tapi ada juga yang menyebutnya paranormal), tukang urut profesional, di-ruqyah, sampai ahli akunpuntur. Pendeknya, sampai tiga puluhan lebih tokoh non-medis.

Analisis dari dukun bermacam-macam. Ada yang menyebut faktor parang maya alias santet atawa voodo dengan sejumlah bukti seperti jarum dan benang yang diambil entah dari mana. Ada juga yang menyebut bahwa rumah keluarga kami penuh dengan “urang gaib” alias makhluk gaib sehingga harus dibersihkan dulu. Selain itu, ada pula kerabat yang bertanya sudahkah membersihkan wasi tuha. Secara tradisi, di Kalimantan dikenal adanya sebutan “wasi tuha” atau besi tua bertuah. Wasi tuha ini bisa dialamatkan pada entah keris, pisau, badik, tombak, parang, dan segala jenis barang terbuat dari besi yang secara tradisional memiliki tuah.

Dalam tradisi Kalimantan, wasi tuha ini diyakini bisa memingit atau membikin pemilik atau keturunan pemegangnya sakit tanpa sebab yang jelas. Wasi tuha ini harus dibersihkan minimal setahun sekali dan biasanya dilakukan pada bulan Muharram atau Suro kalau di Jawa. Selain dari wasi tuha, ada juga dugaan sebab lain, mungkin akibat dipingit oleh datu buaya. Dalam bahasa antropologis, keyakinan pada datu buaya ini adalah semacam totemisme. Keyakinan bahwa leluhur berasal dari binatang.

Di Kalimantan Selatan khususnya, daerah Kelua, merupakan tempat paling lazim yang menjadi muasal dari Datu Buaya (namanya tidak usah disebut dulu) dan turunan-turunannya. Kalau Anda pernah baca buku Laskar Pelangi-nya Andrea Hirata, kisah Bodenga merupakan cerminan yang mirip dari keyakinan pada Datu Buaya ini. Dalam novelnya itu, Andrea bercerita tentang Bodenga yang memiliki ayah dukun buaya, yang pada akhirnya ayahnya justru menjadi buaya itu sendiri setelah mengumpankan diri pada buaya-buaya di mana satu kakinya menjadi buntung. Kejadian ini jauh lebih dulu daripada lagu Inul yang berjudul “Buaya Buntung”. Ayah Bodenga tertangkap warga setelah memakan korban. Kenapa warga kampung Andrea yakin bahwa itu ayahnya Bodenga, sebab buaya tersebut berkaki buntung.

Demikianlah, stroke yang kini menjadi penyakit yang beken, rupanya memiliki beberapa faktor penyebab. Penting dicatat di sini bahwa stroke dalam survey 2004 merupakan pembunuh No. 1 di RS pemerintah di seluruh penjuru Indonesia. Artinya tidak bisa dipandang enteng. Seperti sudah sering disebutkan bahwa mencegah lebih baik daripada mengobati, maka agar tidak stroke, ingat dan nyanyikan lagu sering-sering dari Bang Rhoma di atas, “Stroke” eh, “Stress”[email protected]

 

Catatan huruf yang dimiringkan:

parang maya  = santet, voodoo

wasi tuha = besi tua yang bertuah warisan turun-temurun

dipingit = sakit yang disebabkan oleh faktor tak diketahui

 

Facebook Comments
Artikel sebelumnyaNAIK TAKSI RASA RALLY
Artikel berikutnyaPOLITISI TERKEJUT BILA RAKYAT PERCAYA UCAPANNYA
Riza Bahtiar
Pria dengan wajah ruwet ini lahir di Tanjung, Tabalong, Kalimantan Selatan pada 27 Oktober 1977. Pernah kuliah di Institut Agama Islam Negeri Antasari Banjarmasin Fakultas Ushuluddin jurusan Aqidah dan Filsafat. Belum sempat lulus, keburu bosan, lantas pindah ke Jakarta. Berhasil lulus kuliah di IAIN Jakarta yang berubah jadi UIN ini pada 2002. Pernah aktif sebagai aktivis prodem dan coordinator Forum Study MaKAR (Manba’ul Afkar) Ciputat, aktivis di Desantara Institute for Cultural Studies, voluntir peneliti di Interseksi Foundation. Karena tidak betah menjomblo di Jakarta, pulang kampung pada 2006 sampai sekarang. Pada 2008 sempat menerbitkan Iloen Tabalong, satu-satunya media berbahasa Banjar se-Kalimantan dan gratis. Wahini sehari-hari bekerja di PLTU Tabalong. Hobi baca buku, diskusi, wiridan dan Tai Chi.