Aku melirik arloji di pergelangan tangan. Sudah dua jam aku berada di tempat ini. Kuhidu udara. Meloloskan sekian banyak oksigen untuk memenuhi paru-paru. Wangi kertas dan bahan cetak lainnya berbaur mencipta sensasi tersendiri di indera penciuman.

Sekilas, tatapanku beralih ke meja sirkulasi. Wajah seorang perempuan setengah tua di sana tersenyum padaku. Tangannya mengisyaratkan bahwa waktu yang disediakannya untukku sudah usai hari ini. Aku membalas isyaratnya dengan sebuah permohonan.

“Sebentar lagi,” aku setengah berbisik.

Perempuan setengah tua itu menggeleng.

“Jangan keras kepala. Kamu sudah mencuri sebagian waktu istirahatku,” balasnya dengan bisikan yang sama.

“Ayolah,” bujukku

Perempuan setengah tua itu berjalan mendekatiku. Senyumnya tak putus serupa rembulan di malam purnama. Teduh.

“Bisakah kamu membayarku untuk kelebihan waktu yang telah kamu ambil dariku?” ujarnya dengan nada bercanda.

Aku tergelak.

“Baiklah. Minggu depan akan kubawakan amplang* kesukaanmu. Masih merek yang sama, kan?”

“Kamu menyogokku?”

“Hanya ucapan terima kasih untuk setiap senti kebaikan hatimu.”

Perempuan setengah tua itu tertawa. Senyumnya mencipta palung di pipi.

“Baiklah anak muda. Jangan lupa minggu depan. Sekarang bolehkah kalau aku menyuruhmu pulang dan kembali lagi minggu depan?” ucapnya santun.

“Aku tidak bisa untuk tidak menuruti perkataanmu.”

Aku segera mengemasi barang-barang yang kubawa. Sebuah notebook dan satu buku catatan kecil segera kumasukkan ke dalam tas ransel.  Sekilas aku kembali melirik ke arah meja sirkulasi.

“Menunggu seseorang?” tanya perempuan setengah tua itu memastikan. “Kulihat setiap kali berkunjung ke sini, matamu sesekali ke arah meja sirkulasi. Tidak sedang ingin menggodaku, bukan? Hahaha….” Tawa perempuan setengah tua itu pecah. Aku ikut tertawa.

“Tapi tentu tidak mungkin menggodaku karena aku tidak ada di meja sirkulasi pun, matamu tertuju ke sana.”

“Hahaha…, kamu memang pandai menyimpulkan sesuatu.”

“Bukankah pengalaman hidupku lebih lama darimu, otomatis pengetahuanku juga tentu jauh lebih banyak.”

“Terima kasih. Aku akan kembali mingu depan.”

“Jangan lupa amplangnya, ya.”

Aku melambaikan tangan. Perempuan setengah tua yang baik hati membalas lambaian tanganku.

Sudah dua tahun terakhir setiap akhir pekan di hari Sabtu aku selalu ke tempat ini. Sejak aku kembali ke Kotabaru dan bekerja di kota ini, kota kelahiranku, setelah sebelumnya pergi jauh merantau menuntut ilmu. Sebenarnya banyak tawaran pekerjaan sebelum aku pulang. Aku pernah bekerja di tanah Jawa selama tiga tahun sebelum akhirnya memutuskan kembali ke Kotabaru, sebuah kota kecil nan eksotis yang selalu memanggil rindu kembali. Gunung-gunung berselimut mega di pagi hari, gulungan awan sehabis hujan di puncaknya, deru asin air laut, kapal-kapal yang mudah ditemukan sejajar di dermaga, hutan bakau dan liukan jalan yang tentu mencipta satu kata, juga rindu. Selain karena memang permintaan kedua orangtua untuk kembali, ada sekelumit kenangan yang tak mampu untuk kuhempas pergi.

Aku merindukannya. Sungguh dalam.  Aku hanya tahu cara untuk mencari bayangannya di sini, di tempat ini.

***

Ruangan ini sudah sangat banyak berubah. Cat yang ceria membuat suasana tidak kaku dengan susunan buku-buku bisu. Rak display yang sangat artistik. Meja sirkulasi dengan tananan dan dekorasi yang sangat memanjakan mata. Rak-rak buku berdiri modern dan kukuh. Penataan ruang yang nyaman, membuat suasana begitu menarik. Siapapun akan betah berjam-jam di tempat ini. Walau masih dengan pegawai yang sama, yang berusaha kuat mengenaliku kembali saat aku menyapanya lagi.

Ini adalah perpustakaan sekolahku. Sekolah menengah atas. Sebuah tempat di mana hari-hariku di jam istirahat dulu kuhabiskan di sini. Aku begitu mencintai buku-buku, sedari dulu. Bau buku-buku selaksa aroma kimiawi yang begitu nyaman menyusupi indra penciuman.

Jikalau banyak siswa menghabiskan waktu istirahat dengan pergi ke kantin atau sekadar mengobrol dengan teman-teman lain, namun tidak denganku. Aku selalu pergi ke perpustakaan. Ini adalah surga kecil bagiku. Di antara banyak buku-buku yang tersusun rapi menunggu untuk menemukan pembacanya masing-masing.

Banyak di antara mereka beranggapan perpustakaan adalah tempat yang membosankan. Bisu dan kaku. Namun, sebenarnya ada banyak dunia yang dapat ditemukan pada buku-buku itu. Ketika mencoba untuk masuk ke dalam dunia buku-buku tersebut, susah rasanya menemukan jalan keluar dari perangkap nikmat kata-kata. Mereka bukan hanya jendela dunia, namun dunia yang luas terbentang pada kata-kata.Perpustakaan pada mataku bukan hanya sebuah tempat untuk meletakkan koleksi buku-buku semata. Dia adalah perspektif yang menawarkan masa lalu, masa kini, masa depan. Dan itu semua sungguh menyenangkan. Sangat menyenangkan.

Terlebih, dalam celah bersekat aku pernah menemukannya.

“Saya perlu buku itu,” ujarnya dengan suara yang lirih penuh harap.

“Maaf, buku itu sedang dipinjam.”

“Apa tidak ada cadangan buku lain. Pasti lebih dari satu, kan?” Ia bersikeras.

“Semua dipinjam,” sahut penjaga perpustakaan. “Eh, tapi sebentar, akan kucek dulu.

Jari jemari perempuan setengah tua itu kemudian bergerak lincah di keyboard komputer. Mencari data buku yang dimaksud.

“Di sebelah sana,” tunjuknya “Ada satu buku lagi yang belum dipinjam.”

Aku bergerak cepat menuju arah tangan perempuan tua itu. Sekelebat kemudian kembali duduk. Dia berjalan ke arah yang dimaksud oleh perempuan setengah tua itu. Aku kembali menekuni buku yang kubaca, tepatnya pura-pura membaca.

Tubuhnya berhenti di depan satu rak buku. Matanya meneliti. Tangannya berjalan dari satu buku ke buku lain. Sejenak kemudian dia menghembuskan napas. Matanya kembali meneliti deretan buku-buku. Jemarinya kembali menelusuri judul demi judul. Dia menggelengkan kepala.

“Tapi, dalam data komputer ini masih ada satu buku dengan judul tersebut yang belum dipinjam,” ucap penjaga perpustakaan, perempuan setengah tua tersebut.

“Aku tidak dapat menemukannya,” sahutnya

“Data ini tidak mungkin salah. Mungkin kamu yang tidak teliti mencarinya. Sebentar, akan kubantu.”

Perempuan penjaga perpustakaan itu berdiri. Berjalan beranjak ke arah rak buku yang dimaksud. Sepersekian detik kemudian keningnya mengernyit.

“Mengapa bisa tidak ada?” gumamnya. Wajahnya terlihat putus asa

Bel masuk kelas berbunyi. Aku bergegas keluar dari perpustakaan.

“Akan kucari kembali, mungkin terselip,” kata penjaga perpustakaan yang masih sempat tertangkap pendengaranku.

***

Sepanjang tahun menyelesaikan sekolah menengah atas, aku tak pernah berani menyapanya. Gadis manis yang selalu mencari buku dengan judul yang sama. Entah karena dia penasaran karena tidak pernah menemukan buku itu, atau apakah memang hanya judul buku itu saja yang pernah terlintas di memori otaknya. Dia tidak pernah menemukan judul buku yang dimaksud karena aku meminjamnya. Bukan, aku bukan meminjamnya. Aku mengambilnya dan menyembunyikannya saat pertama dia mencarinya.

Pun eksamplar yang lain, entah kebetulan atau tidak selalu saja tidak bertepatan dikembalikan saat gadis itu ingin meminjamnya. Apakah semesta sebenarnya memberiku kesempatan untuk menyapa gadis itu dengan buku yang ada di tanganku? Menemukannya dari balik celah kursi perpustakaan ini saja sudah membuatku gemetar, apalagi menyapanya.

“Maafkan aku, tapi lagi-lagi buku yang kamu cari tidak ada. Apakah tidak ingin membaca buku-buku lain?” suara penjaga perpustakaan terdengar sedikit menyesal. Dia kemudian menawarkan alternatif lain kepada gadis itu. Terdengar gadis itu menghela napas.

“Aku hanya ingin membaca buku tersebut. Aku dengar bukunya bagus. Oh tidak, aku tidak mendengarnya tapi membacanya. Ada ulasan di majalah dinding sekolah tentang buku tersebut. Aku penasaran tepatnya. Sebagus apakah buku itu karena ulasan yang ditulis oleh penulisnya sangat keren. Andai aku bisa menulis sekeren itu.”

“Mungkin kamu bisa menanyakan kepada penulisnya di mana buku itu bisa didapatkan.”

“Sepertinya tidak mungkin. Penulis itu menggunakan nama pena dan mencari nama itu diantara banyak siswa adalah hal yang mustahil. Baiklah, Bu. Terima kasih. Mungkin lain kali aku akan menemukan buku tersebut.”

Aku mendengarkan pembicaraan gadis itu dengan penjaga perpustakaan. Ingin sekali rasanya aku melesat ke hadapannya dan mengatakan, “Hey! Buku itu ada padaku.”

Namun, aku memilih beku. Tidak ada keberanian untuk itu.

***

Bertahun lamanya aku pergi, bertahun lamanya juga aku tidak pernah lagi mendengar kabarnya. Bertahun lamanya juga buku itu masih kusimpan. Benar-benar sebuah perbuatan tidak patut yang telah mencederaiku sebagai seorang pecinta buku-buku di perpustakaan.

Dan bertahun hanya menjadikannya ilusi tentu adalah hal yang tak cukup mudah. Aku tidak pernah tahu di mana dia dan aku memang tidak pernah benar-benar tahu. Lantas, kegemaranku kemudian kembali ke tempat ini, perpustakaan sekolahku dulu, hanyalah karena dengan di sini aku bisa merangkum segala tentangnya.

Kutatap buku itu. Telah bertahun dia menjadi usang dalam dekapan. Ada bayang wajahnya di sana. Entah di manakah dia saat ini. Tempat ini membingkai segala sendi ingatan tentangnya. Tapi, tidak ada satu momen pun yang menautkanku bisa berbicara dengannya kala itu.

Kumasukkan kembali buku itu ke dalam tas. Kubuka buku yang barusan kuambil dari rak buku. Esai-esai politik. Tampaknya menarik. Sepersekian menit kemudian aku sudah tenggelam membacanya.

“Mana amplang pesananku?” suara perempuan penjaga perpustakaan mengagetkanku. Aku mendongak. Buku yang tengah kubaca refleks tertutup.

“Suka membaca esai-esai politik juga?” sambung penjaga perpustakaan tersebut demi melihat buku yang barusan kubaca.

“Semua buku kubaca,” sahutku

“Kamu keren,” penjaga perpustakaan mengacungkan jempol “Beginilah seharusnya anak muda, banyak membaca. Memperluas wawasan.”

“Inilah pesan sponsor penjaga perpustakaan,” selorohku

Perempuan penjaga perpustakaan tertawa renyah.

“Ya harus kan. Kalau wawasan luas tentu tidak akan mudah termakan oleh berita-berita bohong. Wawasan yang luas pandai memilah informasi yang patut dipercaya dan yang tidak patut seharusnya”

“Hmm, baiklah. Ini amplang yang kujanjikan kemarin.”

“Ternyata selain pintar, kamu juga baik hati.”

Aku tertawa. Perempuan setengah tua penjaga perpustakaan ini benar-benar teman yang menyenangkan.

“Masih berapa lama lagi waktuku di sini?”

Perempuan itu melihat arlojinya.“Setengah jam lagi.”

Aku mengacungkan jempol tanda setuju. Dia kemudian meninggalkanku. Aku kembali menekuni buku yang kubaca.

Serangan wangi menyeruak. Aku mengusap hidung. Wangi ini membuat otakku menari-nari. Ada semacam simpul ingatan yang mencoba hadir mengetuk-ngetuk alam bawah sadarku. Menggali berbagai hal di masa lalu.

Aku mengusap hidung. Wangi ini benar-benar mengganggu. Aku mendongak.

Suara langkah terdengar berdetak beradu dengan lantai ubin di depan perpustakaan. Satu sosok berdiri di depan pintu. Wajahnya terlihat ragu.

“Maaf, apa perpustakaan ini masih buka?” ucapnya ketika menemukan wajah ramah perempuan setengah tua penjaga perpustakaan.

“Sebenarnya ini sudah di luar dari jam kerjaku. Ada yang bisa saya bantu?”

“Oh maaf. Aku baru saja tiba dari luar kota. Aku mencari sebuah buku. Buku itu…,” gumam gadis itu lirih.

“Apa maksudmu?”

“Ah, tidak. Maksudku apakah perpustakaan ini melayani peminjaman untuk non anggota? Saya dulu siswa di sini dan sekarang sudah lulus.”

Aku menatapnya. Tak berkedip. Tentu ini fatamorgana. Mengapa aku menjadi sangat aneh seperti ini.

“Sebenarnya perpustakaan ini hanya melayani peminjaman untuk anggota saja. Namun, kalau ingin membaca di sini tentu aku akan memberikan kesempatan di luar jam kerja formal. Sungguh menyenangkan bertemu dengan orang-orang yang gemar membaca buku. Menemukan dunia luas dalam bacaan. Seperti lelaki di meja sebelah sana.” Perempuan setengah tua penjaga perpustakaan itu menunjukku. Gadis berkerudung merah muda tersebut mengikuti arah tangannya.

Mata kami kemudian bersirobok. Cepat dia menundukkan kepala. Waktu seolah bisu. Membekukan segala yang berdetak. Sekilas hanya desau angin yang melintas di telingaku.

Aku berusaha menguasai diri. Bisa jadi ini hanya halusinasi dari rasa yang bertahun-tahun tidak pernah mampu untuk kudefinisikan. Apakah itu memang dia?

“Lantas buku apa yang kamu cari?” penjaga perpustakaan bertanya kembali memecah beku yang sempat hadir.

“Oh terima kasih. Saya mencari buku…,”

Aku berdiri cepat. Meraih buku di dalam ransel. Melesat menemui gadis berkerudung merah muda itu. Tak kupedulikan  kakiku yang terantuk meja.

“Apakah kamu mencari buku ini?” sodorku. Ya ampun, akhirnya aku berani bicara padanya. Susah payah aku mengatur letupan-letupan yang membuncah. Dadaku rasanya berdebam nyaring.

“Seno Gumira Adjidarma? Negeri Senja!” pekiknya “Akhirnya rasa penasaranku terjawab di perpustakaan ini bertahun lampau. Aku akhirnya memang membaca buku ini setelah lulus sekolah. Aku menemukannya di tempat lain. Namun, ada memori yang mengharuskanku mencari lagi buku itu di sini. Aku harus menemukan buku itu di sini. Kamu tahu? Aku sangat terobsesi dengan tulisan ulasan mengenai buku ini beberapa tahun lalu di majalah dinding sekolah. Andai aku bisa bertemu dengan penulis ulasan itu. Tulisannya luar biasa,” papar gadis itu dengan nada riang.

Senyumku merekah. Dadaku merekah entah karena mungkin oleh buncahan-buncahan rasa.

“Apakah kamu masih ingin bertemu dengan penulis ulasan itu?” tanyaku dengan nada yang bergetar. Ya ampun, aku benar-benar harus menguasai diri pada situasi kali ini.

“Ehem…, ehem…,” perempuan setengah tua penjaga perpustakaan seakan ingin menyela. “Apakah kamu ingin mengembalikan buku itu padaku?” tanyanya. “Oh, maksudku bisakah buku itu dikembalikan dulu ke perpustakaan ini? Punggung buku ini menjawab segalanya dari mana buku ini berasal.” Matanya mendelik padaku.

Aku merasa tertohok, terjebak oleh keadaan. Gadis berkerudung merah jambu itu menatap kami berdua dengan wajah bingung secara bergantian.

Aku menyodorkan buku tersebut kepada penjaga perpustakaan. Gadis berkerudung merah jambu itu tertawa. Ceruk pipinya terasa manis menyesap di dada. Aku seperti menemukan dunia dengan jutaan buku, jutaan bacaan, jutaan kata di matanya yang siap untuk dibaca kapan pun [email protected]

Ket:
  • Amplang : makanan ringan khas dari Kotabaru kalsel yang dibuat dari bahan ikan dengan tekstur renyah dan rasa yang gurih
Facebook Comments