JIKA anda masuk ke warung makan di Yogya, pertanyaan pertama yang terdengar adalah,”Minumnya apa, Mas?” Kalau hendak menggerundel, tentu saja jawabnya,”Ya, minum air putih dong, masa’ minum kuah!” Tapi jawaban ini tak mungkin diucapkan sebab bila yang dipesan benar-benar air putih, dingin atau hangat, bersiaplah melihat si pelayan jadi sewot. Atau, tetap diladeni tapi itu tercatat sebagai daftar menu alias bayar! Hanya sedikit lebih murah dengan air mineral dalam botol kemasan. Kadang minuman air mineral juga belum tentu ada karena yang banyak tersedia minuman kaleng bersoda.

Fenomena itu boleh jadi ada di mana-mana, tak hanya ada di Yogya. Namun apa yang dapat dipetik dari sini ialah lenyapnya tradisi memberi air putih di masyarakat kita. Dulu, rumah-rumah di Jawa biasa ada gentong di halamannya. Gentong itu berisi air putih yang bisa dipakai untuk mencuci tangan, berwuduk, bahkan karena air tanah waktu itu masih bersih, air pun bisa langsung diminum. Begitu pula di meja warung, terdapat gentong berukuran lebih kecil berisi air putih untuk pengunjung. Tinggal ambil sendiri.

Warung Padang, meski tak pakai gentong biasanya menyediakan segelas air putih tanpa diminta, atau mewadahinya dalam ceret lengkap dengan gelasnya. Perkara pengunjung kemudian memesan jenis minuman lain seperti teh hangat, es teh, jeruk atau jus, itu soal selera dan tambahan saja. Apa pun, air putih harus tetap ada, dipesan atau tidak. Bahkan untuk menandai warung Padang itu asli atau tidak, lihat apakah di mejanya tersedia dua jenis air putih. Satu air putih dalam gelas atau ceret buat diminum, satunya lagi air putih dalam botol buat mencuci tangan. Konon, pernah terjadi orang yang tak tahu, meminum air di dalam botol, namun si pemilik warung bilang tak apa sesekali karena air dalam botol itu pun bersih.

Dalam tradisi di atas, pengunjung tentu tak perlu dihadang pertanyaan,”Minum apa?” sebelum ia mengambil nasi dan pantat belum mencecah bangku. Tentu tanpa mengabaikan bahwa tawaran itu juga bisa diartikan bagian dari pelayanan. Tapi karena terkesan menghadang maka tak dapat dihindari kesannya lebih berupa modus dagang, di mana warung makan dewasa ini tak semata berjualan makanan, tapi juga minuman. Bukan hanya warung dengan konsep modern, juga melanda warung-warung tradisional, tak terkecuali warung Padang. Tentu itu sah dan boleh-boleh saja. Hanya, sebagai orang yang pasti minum air putih tentu menjadi sebuah keterpaksaan kalau ia harus memesan minuman dari jenis menu yang hendak dijual. Kecuali kalau ia memang hendak pesan. Demokratisasi warung pun layak dipertanyakan. Lagi pula dari sisi kesehatan, makan diiringi minuman manis kurang sehat, karena nasi sudah mengandung gula, ditambah lagi gula minuman. Minum teh saat makan dapat menghambat penyerapan sari-sari makanan.

ITULAH satu sisi perubahan. Di tengah maraknya wisata kuliner dengan berbagai jenis makanan dan minuman andalan, orang justru lupa satu hal yang paling esensial: air putih. Ketersediaan air putih tak hanya untuk kebutuhan dasar—pelepas haus-dahaga—juga kesehatan, dan tak kalah penting merupakan bagian dari perangkat sosial. Air putihlah yang membedakan warung-warung tradisional kita dengan kafe atau gerai cepat saji.

Namun masuknya pola-pola konsumsi modern, membuat warung mulai diserbu minuman kaleng. Pengelola warung menerapkan pola laba besar. Warung makan tak hanya berjualan nasi, juga minuman, maka hilanglah satu mata rantai yang terbangun oleh segelas air putih. Di rumah-rumah di kampung, tradisi gentong pun mulai menghilang, baik gentong besar di halaman, maupun gentong di meja makan. Dulu, di rumah-rumah orang Jawa air minum yang paling sedap akan kita dapatkan dalam gentong, kadang diteguk langsung tanpa perlu gelas, glek-glek, sejuk-segar!

Sekarang tempat air diganti teko-teko plastik, dan celakanya air minum pun berganti air isi ulang atau air galon aneka merk. Orang tak lagi merebus air buat diminum, cukup membelinya dari perusahaan yang memproduksi air minum. Orang akan kelimpungan jika stok air galon di toko swalayan habis. Ada ketergantungan yang besar kepada industri, bahkan untuk keperluan dasar berupa air minum. Industri air kemasan itu sendiri, kita tahu, aktif menyedot air tanah atau mata air pegunungan. Seiring tumbuhnya perusahaan air minum dan usaha rumahan air isi ulang, air tanah dan mata air kian terancam.

SETALI tiga uang, pemerintah tak membaca potensi air putih sebagai perekat sosial dan pencipta kenyamanan. Di ruang-ruang publik kita saksikan, bukan hanya tong sampah yang kurang, juga fasilitas air minum yang bisa dimanfaatkan warga. Jangankan untuk minum, buat mencuci tangan pun tak ada kran air. Taman kota, alun-alun atau kompleks perkantoran yang berhubungan dengan layanan publik, tak memiliki fasilitas air minum yang bisa dinikmati warga dikala haus. Mereka harus berbekal minuman sendiri, biasanya jenis minuman botol atau kaleng. Sudahlah merogoh kocek, kaleng bekas pun nanti akan berserakkan di mana-mana. Sudah saatnya pemerintah memikirkan instalasi air minum di ruang publik, sebagai upaya melanjutkan tradisi gentong yang mulai hilang di rumah-rumah tradisional kita.

Di negara maju, ketersediaan air di ruang publik sangat diperhatikan. Menutup catatan kecil ini saya kutip anekdot seorang kawan penyair yang berkunjung ke Paris. Di restoran dekat Menara Eiffel itu, ia ditanya mau minum apa, ia jawab dengan lagak di kampung, “Water!” Si pelayan langsung mengambilkan air kran, persis di samping si penyair. Kontan si penyair merah mukanya, tapi segera sadar bahwa air kran di sana memang bisa langsung diminum, dan jika mau pesan air putih yang bukan dari kran harus menyebutnya air mineral. Silahkan cari sendiri moral cerita dan catatan kecil ini. [email protected]

Facebook Comments