Judul: Bukan Atas Nama Cinta (USAI)
Genre: Kumpulan Puisi
Penulis: Eko Wustuk
Tebal: 100 hlm.
Penerbit:  Erdaflo
Cetakan pertama: 2020

 

inilah sarapan ternikmat/keringat/yang kujilat/dari punggungmu(USAI, hal. 33)

Bagaimana puisi ditulis? Banyak cara dan pendekatan, tentu saja. Belakangan, buku puisi tematik menjadi tren. Tidak Ada New York Hari Ini (Aan Mansyur) atau Perempuan Yang Dihapus Namanya (Avianti Armand)—sekadar menyebut beberapa judul—cukup dikenal khalayak sastra dalam tren itu. Puisi-puisi dalam buku demikian menawarkan sebuah pengalaman “membaca dengan kesan tunggal” ketimbang mengunyah potong demi potong sajian berbeda yang disatumejakan sebagaimana antologi puisi umumnya.

Eko Wustuk lewat Bukan Atas Nama Cinta atau disingkat USAI juga melakukannya, tapi bukan sebagai pendekatan mayor.

Lewat 144 puisi di antara halaman-halaman berilustrasi dan taburan foto artistik,  penerokaan atas tema tentang relasi laki-laki dan perempuan dengan bermacam ekstase—kesepian, kehampaan, keterkungkungan, kerinduan, dan kehancuran yang dipicu oleh cinta terlarang—menemukan rumahnya.

Ekstase yang jamak dalam kehidupan (ibu) kota (besar) itu mendominasi (untuk tidak menyebut “semuanya”) buku puisi debutnya ini.

Meluaskan Spektrum

USAI membentangkan sebuah tema (atau kesan tunggal) dengan pendekatan atas asumsi: bahwa tiap kejadian (momentum, perasaan, dan termasuk juga di dalamnya kegilaan dan kemabukkepayangan) memiliki hak yang sama untuk hidup, untuk ditulis, untuk disiarkan. Apalagi dalam seni yang berkarib dengan kreativitas, ekspresivitas,kelonggaran, dan tawaran baru. Apalagi dalam teks berwujud puisi!

Berbeda dengan Eka Kurniawan yang menulis alat kelamin secara gamblang saja dalam novelnya Seperti Rindu, Dendam Harus Dibalas Tuntas karena berangkat dari pandangan bahwa tiap kata di muka Bumi berhak diberi ruang, dalam USAI Eko meluaskan spektrum: dari sekadar “kata” hingga menjadi “segala hal” berhak diperlakukan sama di muka puisi, tak terkecuali urusan rumah tangga dan seks!

Kita bisa mendapatkan “visual” atas kesepian, perselingkuhan, percintaan, dan pencarian kepuasan (atau bisa juga dibaca “kesenangan” atau bahkan “kebahagiaan”), namun tidak akan mendapatkan alat-alat kelamin yang ditulis apa adanya. USAI, sebagaimana konsepnya memberikan hak asasi pada tiap kejadian, perasaan, dan momentum yang kontra-dengan-norma, tidak merasa perlu menyasar “kata” atas teks yang terbuka itu, sebab memang bukan itu konsennya.

TidakMelakonlis

Tidak seperti sebagian besar puisi cinta atau tentang hasrat yang bergolak yang dekat dengan menye-menye dan cenderung cengeng, USAI tidak menawarkan rasa dan nuansa melankolis apalagi perumpamaan yang sendu dan bahasa mendayu-dayu. Sebagaimana kutipan puisi yang membuka tulisan ini, USAI menghadirkan aksi dan perasaan dan sudut pandang merah menyala (bukan merah muda) dengan cerkas dalam tempo yang terukur. Simak sajaknya yang terang namun menghadirkan momentum “kesadaran” berikut :

berliter alkohol/dan cairanku sendiri/bermuara padamu (Hal. 35)

Atau sajak berikut yang menghadiahi pembaca gua yang lapang, sejuk, sunyi, dengan angin yang menyeret sesiapa untuk berpikir nanar terhadap tindakan pengkhianatan:

bahkan ketika sedang menggumulimu/ aku teringat rumah(Hal. 55)

Bagi yang ingin menyaksikan sekaligus menikmati bagaimana puisi memberi tempat pada keliaran dan ketabuan, tanpa harus membuka daun pintu lebar-lebar pada diksi-diksi vulgar, tapi di saat yang sama juga memasang tulisan “Dilarang Masuk” bagi melankolisme, USAI patut [email protected]

Facebook Comments