Iqbal pada penelitian S1-nya di tahun 2006-2009 itu mewawancari sekian tokoh dan termasuk (di antaranya) sekadar simpatisan yang hadir pada saat itu, dengan tanggapan dan ingatan yang beragam. Sebut saja, di antaranya, Yusni (Anggraini) Antemas yang diakuinya sendiri dan oleh beberapa narasumber lain sebagai orang yang memicu tanggapan Presiden Sukarno atas wacana “Negara Islam atau Negara Nasional (?)”

Ada yang ingat betul apa yang dibicarakan Bung Karno pada saat itu, sampai soal presiden menerima sekitar 20 lukisan dan nama pelukisnya, namun ada pula yang hanya mengingat suasana dan keramahan Bung Karno tapi lupa atau tidak mengerti apa yang dipidatokannya.

Iqbal membandingkan cerita-cerita itu (satu sama lain) dengan catatan Sajuti Melik yang menyertai kedatangan presiden, dan amatan yang beragam dari para “pembaca” sejarah dan peneliti lainnya. Dan di penghujung,Iqbal sebagai seorang sejarawan mencoba mendudukkan perkara ini dalam bingkai diskursus ideologis kontekstual hari ini, senetral mungkin sebagai peristiwa sejarah yang niscaya.

Kalakian, tentu banyak lagi kelebihan buku ini, dan saya cukupkan sampai di sini dulu. Saya belum benar-benar membacanya secara tuntas, banyak detail yang perlu ditandai oleh masing-masing pembaca dengan macam ketertarikan dan latar belakang sosial terhadap buku ini, yang mungkin bisa memberi kita pandangan yang berbeda. Saya menunggu pembicaraan (bedah) bukunya yang tengah dirancang direktur program Kampung Buku Banjarmasin, yang juga merangkap “sales”nya melalui kios Sabuku, beberapa waktu ke depan. Ya, yang beredaran di sekitar kota Banjarmasin, dan Kalsel umumnya, bisa mendapatkan buku ini di Kampung Buku Jl. Sultan Adam Banjarmasin. Beli segera, biar Arif bisa “menyusul” Iqbal (yang ingjn) segera naik haji karena ‘best-sellerbukunya kali ini.@

 

Redaksi: Sebagian dari catatan ini sebelumnya telah diposting penulis di facebook pribadinya.

Facebook Comments