FESTIVAL LITERASI BANJARBARU 2022 menggelar lomba baca puisi terbatas untuk siswa(i) SMP sederajat di Panggung Utama Lapangan Murdjani 27 Oktober 2022. Giat yang berkolaborasi dengan pameran Tempo Doeloe (22-30 Oktober 2022) terkoneksi dengan lomba baca puisi yang mengangkat 3 tokoh (veteran) sastra yang telah wafat di Banjarbaru.

Lomba Baca Puisi FLB 2022 sekaligus mengenang jejak tokoh (pejuang) sastra Banjarbaru; Eza Thabry Husano (3 Agustus 1958-15 Juli 2011), Hamami Adaby (3 Mei 1942-30 September 2013), dan M. Rifani Djamhari (8 Juli 1959-13 Juni 2009).

Eza dan Hamami sejak tahun 1965 telah membuka jalan untuk media dengan membuat majalah stensilan ‘Anjung’ yang di dalamnya ada rubrik sastra. Pada 1968 Radio Khusus Pemerintahan Daerah (RKPD) di bawah naungan Jawatan Penerangan Provinsi Kalimantan Selatan yang berkedudukan di Banjarbaru berdiri, di sana Eza Thabry Husano menjadi redaktur ruang ‘Dermaga Sastra‘. Kegiatan mereka saat itu adalah apresiasi puisi, selain Eza dan Hamami. RA Benawa, Zafry Zamzam, A. Manap Chandra, M. Hasfiany Sahasby, M. Rais Salam, Huzaini Bakry, dll turut meramaikan RKPD karena ada sesi drama radio.

Catatan panjang perjalanan Eza dan Hamami yang keduanya pernah menjadi Kepala Departemen Penerangan Dati II di sejumlah daerah Kalimantan Selatan tak terlepas dengan aktivitas perpuisian Banua. Tahun 1981 keduanya mendirikan Sanggar Amandito yang bermarkas di Jalan Kenanga 45, Banjarbaru. Tahun 1996 Eza dan kawan-kawan mendirikan Kilang Sastra Batu Karaha.

Sementara M. Rifani Djamhari sejak tahun 1989 bergabung di HIMSI (Himpunan Sastrawan Indonesia) dan mendirikan Keluarga Penulis Banjarbaru (KPB).

Dalam jejak ketokohan ketiganya telah konsisten berkarya dan mendedikasikan hidupnya di jalan sastra.

FLB 2022 lewat Lomba Baca Puisi berharap para pelajar di Kota Banjarbaru mengetahui siapa-siapa saja para punggawa sastra tempo doeloe dengan membacakan karya-karya para almarhum yang telah wafat.

Berikut naskah lomba baca puisi FLB 2022. Ketentuan lomba terkait teknis penilaian akan disampaikan juri sebelum lomba dimulai yaitu pukul 14.00 di Panggung Utama Lapangan Murjani, 25 Oktober 2022. Info lengkap bisa menghubungi Devi (0878-4759-4031) dan follow instagram festivaliterasibanjarbaru2022.@

DISINI ADA SEBUAH MONUMEN PENUH SEMAK
(M. Rifani Djamhari)

Di sini
Tuhan menggerek matahari dan
menyerpih angin bahari pada
bukit itu gaung lonceng terdengar
jauh

Ada
rimba hijau membubus mataku
kilau pisau okulasi dan bau
getah mentah dalam garis-garis
membujur menorah deru pabrik
peluh para buruh

Sebuah monument penuh semak
berapa banyak sajak mesti kutulis
tentangmu, monument berlumut balau
burung-burung berebut sarang balau
angin telanjang. Pionir Jepang
yang mati muda. Atau tentang anak-anak
yang tak berbaju itu

Danau Salak, 1980

 

TAFSIR RINDU
(Eza Thabry Husano)

rindu bagai anak lebah dibungkus sarang
bertahun-tahun tumbuh dalam keluhan ranting
detik demi detik mengunyah getah kemiskinanmu
yang ngilu, Asih.
sambil belajar menjadi sayap-sayap burung
untuk melayang jauh memerdekakan jeritanmu
lewat berita siang siaran televisi
rintihan Ethiopia dalam kepompong dusun itu
bertahun-tahun pula kulukis badai Nurani
pada kanvasmu yang sunyi
menyigi api imajinasi rumput dan kabut
mengayuh perahu mencari tebing batu tepian
dari sekian luka dan risalah darah
Asih, jangan risau
jika aku Kembali menjadi anak lebah itu
belajar Kembali sayap-sayapku
menaggalkan sarang dan keluhan ranting
kemudian aku mabuk menjelma fosil segala
periztiwa, terkubur dalam riwayat rindu
seorang penyair

Asih, masihkah kau simpan mayatku itu
di senyap waktu?

Banjarbaru (1995-2002)

CATATAN 10
(Hamami Adaby)

Setelah tidur apa yang kita rasakan
selain nikmat mati sejenak
rasa indah damai

Bagaimana kalau diterus tidurnya?
syukur nikmat hidup manusia

Dan kalau ini kalau bagaimana?
Bagaimana ya tetap bagaimana
aku tak menanya bagaimana?!

Begini, kita kompromi jawabnya
Tuhan bukan tempat kompromi!
ia tegas dan lugas!
manusia sering berubah-ubah
semua kehendak pencipta
mutlak Allah kita ciptanya

Setelah kubangun nikmat damai
Salam alaika Ya nabi Ya rasul
aku datang, aku datang
pulang sepuluh tahun lagi.

Banjarmasin, 29-10-10