Hal yang pertama mesti dipahami adalah, tidak semua muslim merayakan malam dari pertengahan bulan Sya’ban. Kedua, malam nisfu Sya’ban menjadi banyak keutamaan dalam lingkaran kalangan nahdiyin (NU) secara umum. Ketiga, tulisan ini tidak terlalu berkutat di wilayah hukum, atau fiqh furu’ secara gamblang, hanya memaparkan sudut pandang lain saja. Oke. Fahimtum?

Apa yang mendasari banyak kawan-kawan muslim kita meminta maaf sebelum malam nisfu Sya’ban berlangsung?

“Allah akan mengampuni dosa-dosa hamba-Nya. Kecuali orang yang menyekutukan Allah dan mereka yang masih bertengkar/berkonflik dengan orang lain dan belum berbaikan sebelum matahari tenggelam,”

Demikian redaksi sebuah hadist berbunyi. Saya pikir, berdasar dari itu lah pula, kekhawatiran/kecemasan/ketakutan tidak diampuni dosa oleh Allah jika masih bertengkar/berkonflik dengan manusia lah, maka dari itu bermaafan dan meminta halal/ridha kepada umat manusia lainnya menjadi lumrah disampaikan, oleh sebagian kalangan kawan-kawan kita yang muslim, bahkan di era sosial media saat ini.

Perayaan malam nisfu Sya’ban dulu sebenarnya tak sepopuler sekarang. Hanya kalangan tertentu saja. Sebagian lagi biasa menambah amalan sunahnya seperti salat sunat tasbih, kemudia membaca tasbih Nabi Yunus sampai 2.375 kali. Lumayan banyak lah, ya!

Alhasil, dakwah sekarang berkembang pesat sejak media sosial jadi senjata utama untuk syiarnya.

Masih ingat pemandangan dulu, sepulang dari Musala Ar-Raudah sekumpul, kami pulang ke pondokan, di Pasayangan. Di pinggir-pinggih jalan, anak muda, remaja putra dan putri ramai keluar rumah, lampu-lampu rumah mereka terang, dan di tangan para remaja itu bertengger tasbih yang berbentuk kaling yang jumlahnya 100.

Biasanya, mereka menandai hitung-hitungannya dengan menentukan benda-benda di sekitar rumah, atau mencoret/mencatatnya di kertas. Pola asuh turun temurun ini dijaga betul sampai ke anak-anak mereka, mengisitimewakan malam Nisfu Sya’ban, dan mereka mengamalkan segala bentuk amalam sunah itu tadi.

Sekarang dah canggih kali ya, hitung-hitungan digital dari aplikasi juga berlimpah, tinggal unduh gratis.

Saya ingat sekali sewaktu mondok di Pesantren Darussalam, saat malam ke-15 yaitu nisfu; artinya setengah di bulan Sya’ban menjadi euforia bagi kami, terutama kaum santri. Karena banyak keutaman.

Dalam hadist Rasul juga pernah bilang, “Syaban adalah bulanku,” kata Nabi. Atas dasar ini juga banyak kalangan kita di Kalsel secara umum memperbanyak solawat dan amalan-amalan sunah lainnya.

Di Masjid Darul Ihsan, Pasayangan Laut, Kabupaten Banjar, masjid yang berseberangan dengan pondok pesantren Al Amin putri, kami biasanya menghabiskan Dalail Khairat dalam satu malam.

Satu malam! gak mudah itu, bun! Dalail bukanlah kitab pelajaran. Isinya semua sholawat yang dikarang ulama dengan rentetan kisah dan pembagian di sejumlah hijb.

Setiap hijb ditandai dengan nama-nama hari, mulai Ahad, Isnin, Tsalasa, Arba, Khomis, Jumat, hingga Sabti/Sabtu.

Pembacaan dipimpin Guru Haji Syansuri (alm). Dimulai dari pertengahan malam sampai dengan sahur. Nah, ketika sudah selesai, kami para santri dan jamaah lainnya santap sahur bersama dengan menu nasi samin daging. Sedap betul. Ya, sepeninggal Guru Syansuri Pasayangan, semoga amalam ini terus berjalan.

Finally, malam nisfu Sya’ban tak sekadar pertengahan, namun juga menjadi tanda, segera memasuki bulan Ramadhan yang sudah ditunggu-tungu umat Nabi Muhammad. Sebagaimana Rasullullah bilang, “Rajab adalah bulan Allah, Sya’ban adalah bulanku, Ramadhan adalah bulan umatku,”

Dan banyak lagi amalan-amalan sunah lainnya yang sudah akrab dilaksanakan bahkan hingga keesokan harinya.

Facebook Comments