Setelah membunuh si binatang, yang kisahnya akan aku ceritakan kapan-kapan, si perempuan membawa tanduk binatang itu ke tengah-tengah masyarakat. Di luar dugaan –sebetulnya aku tak tahu di luar dugaan siapa- si perempuan langsung mendapat hukuman. Dan karena si perempuan memiliki pasangan, maka pasangannya pun turut mendapat hukuman. Rasanya perlu aku katakan bahwa pasangan si perempuan adalah seorang lelaki tampan yang gemar memberi nama pada benda-benda yang ditemukannya. Keterangan ini cukup perlu karena dari lelaki tampan inilah nama binatang yang sekaligus menjadi sebutan untuk terompet itu pertama kali muncul.  Ah, sepertinya aku harus menghapus kata ‘tampan’ sebagai penambah keterangan bagi si lelaki, aku tak mau Hililyah berada dalam situasi logis untuk menafsir hal yang bukan-bukan soal kepribadianku.

Hukuman untuk pasangan itu adalah mereka harus dipisahkan dan dibuang dari pulau. Si perempuan dibuang ke timur dan si lelaki dibuang ke barat. Mereka luntang-lantung mencari jalan untuk bertemu kembali. Mungkin terdengar tak masuk akal kalau kukatakan bahwa saat mereka bertemu, gunung-gunung akan diangkat lalu dibenturkan sekaligus, hingga hancur. Beberapa saat sebelum itu akan terdengar bunyi terompet mengalun sendu. Itulah bunyi terompet yang ditiup oleh pemiliknya dari pulau yang sangat jauh. Perpaduan bunyi terompet dan suara gunung yang dibentur-benturkan melahirkan musik yang luar biasa indah. Suatu musik akhir zaman.

“Seperti gambaran kiamat,” kata Hililyah. “Lantas siapa yang meniup terompet itu?” tanyanya kemudian. Karena aku yang menciptakan Hililyah, gampang saja membuatnya bertanya seperti itu.

“Itu fakta yang belum terungkap,” jawabku. “Memang aku bilang terompet itu ada pemiliknya. Si pemilik terompet adalah pemimpin masyarakat. Tubuhnya tinggi besar dan matanya rusak sebelah. Dia menyimpan terompet setelah peristiwa pembuangan itu. Namun belum ditemukan bukti kalau dia yang telah meniup terompet itu.”

“Saya pernah mendengar sosok dengan ciri-ciri semacam itu. Tapi saya tak ingat namanya. Dan kenapa kamu bilang kalau dia telah meniup terompet itu? Bukankah itu peristiwa yang belum terjadi, maksud saya, dunia belumlah kiamat?”

Karena aku yang menciptakan Hililyah, gampang saja membuatnya lupa nama si pemilik terompet. Namun pertanyaan yang disampaikannya itu membuatku terjebak. Aku perhatikan wajah Hililyah yang berubah-ubah. Aku sungguh kagum dengan ciptaanku ini, kadang-kadang wajahnya seperti wajah seorang bintang film, kadang-kadang seperti wajah seseorang dari masa kecilku. Rasanya aku juga bakal bersepakat kalau ada yang bilang wajah Hililyah ada kecocokan dengan wajah si perempuan dalam kisah di atas.

“Jika peristiwa sudah dikisahkan, maka pada hakekatnya peristiwa itu sudah terjadi,” jawabku. Aku tak yakin, namun merasa puas, dengan jawaban itu. Karena ketidakyakinan itu, mestinya Hililyah harus bertanya kembali. Namun karena akulah yang menciptakan Hililyah, maka tak kubuat ia bertanya lagi. Lagipula, aku mulai bosan dengan semua ini.

“Singkat cerita,” kataku, “di pulau yang sangat jauh itu ada sebuah kehidupan dan dalam kehidupan itu ada cerita.”

Mendengar penjelasanku, Hililyah manggut-manggut. Setelah merenung sebentar, Hililyah berkata. “Oh, kalau begitu semuanya sudah jelas. Saya bisa menangkap pesan moral dari cerita ini. Kita harus menjaga kelestarian lingkungan. Satwa langka harus dilindungi. Jika tidak, manusia juga yang akan menanggung akibatnya. Begitu, kan?” @

Mataram, 9 Mei 2021

 

Facebook Comments