SUDAH jadi rahasia umum, orang-orang pengadilan di negeri Nasruddin suka bermain mata dengan orang-orang kaya. Keadilan hanya diberlakukan secara keras kepada yang lemah, sedangkan kepada yang berkuasa dan kaya jatuhnya putusan hukum bisa diatur. Nasruddin, yang juga dikenal masyarakat sebagai penyair, kadang menulis syair untuk mengkritik mereka yang suka bermain-main bara tersebut. Dan syair-syairnya yang sering dinyanyikan masyarakat, membuat gerah orang-orang tersebut.

Suatu hari hakim istana sedang berjalan-berjalan bersama pedagang kaya di negeri itu dengan diikuti pengawal-pengawal mereka. Di tengah perjalanan keduanya, mereka melihat Nasruddin sedang berjalan ke arah rombongan mereka. Muncul keisengan di benak mereka, si hakim dan si pedagang bersepakat untuk menggoda orang yang dianggap tolol tersebut. Mereka mencegatnya, lalu si hakim berkata,

“Nasruddin, pernahkah kami berdua berbuat kesalahan dalam memberikan saran?”

Nasruddin diam sesaat. Setelah cukup berpikir, ia menjawab pertanyaan barusan. “Oh, pernah. Anda, Pak Hakim, pernah mengatakan ‘Seorang hakim akan diceburkan ke dalam neraka’. Mestinya, yang benar, dua orang hakim. Dan Anda, juragan, pernah mengatakan ‘Dan para pedagang bakal dilemparkan ke neraka Jahim,’ padahal mestinya yang dilempar itu adalah para (pedagang) pelaku tindakan menyeleweng.”

Hakim dan pedagang yang tidak menyangka akan dijawab seperti itu saling berpandangan, dan merasa malu. Untuk menutupinya mereka pura-pura marah, dan si hakim lalu membentak, “Kau ini, Nasruddin, orang yang sok tahu. Padahal kau tak lebih dari seekor keledai, atau orang yang suka berbuat kepalsuan cari perhatian!”

“O, bukan! Saya bukan keledai dan juga bukan orang suka berbuat kepalsuan, tapi di tengah-tengah di antara keduanya.” Sambil mengucapkan itu, Nasruddin enteng saja melangkah di antara [email protected]

Facebook Comments