NASRUDDIN tak selalunya patuh kepada penguasa, apalagi yang dianggap zalim oleh rakyat jelata. Ia juga membenci mereka para penjilat di sekitaran penguasa yang zalim itu, yang menurutnya adalah orang-orang munafik serakah pemuja dunia.

Suatu ketika Nasruddin dianggap berkomplot dengan lawan-lawan politik penguasa di negerinya. Orang-orang kritis ini memang selalu menyerang penguasa dan kroni-kroninya, terutama menyangkut kebijakan-kebijakan yang menyudutkan orang-orang kelas bawah yang tak berdaya. Satu dua kali salah satu dari orang-orang kritis ini yang dianggap sebagai tokoh makar dihukum dengan keras, untuk menyiutkan hati para pengkritik lainnya. Dan terbukti sesudahnya, banyak yang tak berani bicara secara terang-terangan. Meskipun, keberadaan mereka yang tak pernah benar-benar bisa disapu bersih itu selalu dianggap duri dalam daging kekuasaan sang penguasa.

Nasruddin yang sebenarnya lebih dikenal sebagai tokoh sederhana dan, bahkan, bila-bila dianggap konyol itu dituduh berkomplot melakukan makar. Musuh-musuhnya di istana mengatakan bahwa ia sering berhubungan dengan para pengkritik, dan karenanyaa dianggap bagian dari mereka. Nasruddin diserang dengan keras dan diancam dengan ancaman pancung. Nasruddin membela dirinya dan menolak tuduhan tersebut.

Salah seorang menteri yang paling membenci Nasruddin, melihat Nasruddin tak mau juga mengaku, kemudian berkata pada raja.

“Yang Mulia, jika si tua bangka ini tak mau juga mengakui kesalahannya, lebih baik dibuktikan saja secara gamblang perbuatannya selama ini!”

“Bagaimana membuktikannya?” Tanya raja.

“Ambillah keledainya, kita bawa ke ujung jalan sana. Jika keledai itu berjalan ke arah para penyerang Baginda sering berkumpul, maka terbukti ia sering mengikuti pertemuan makar. Tiada hewan yang lebih hapal jalan yang pernah dilewatinya selain keledai!”

“Benar sekali ucapanmu, menteriku,” kata raja dengan senangnya. “Pengawal, seret keledai Nasruddin dan suruh ia berjalan!”

Orang-orang pun mengikuti raja keluar, termasuk Nasruddin yang dijaga sangat ketat di sisi kanan-kirinya oleh pengawal-pengawal istana. Orang-orang memandang dan menunggu ke mana langkah keledai berjalan, dan ternyata memang demikian yang terjadi.

Para intelijen istana selama ini memang sudah menandai satu warung di ujung gang sempit di dalam pasar sebagai tempat berkumpulnya musuh-musuh penguasa. Dan, keledai Nasruddin yang diikuti memang berjalan menuju tempat itu. Dengan demikian, terbukti bahwa Nasruddin memang salah seorang dari komplotan musuh raja.

Nasruddin yang tak berkutik lagi dicekal para pengawal dan akan dibawa ke tempat hukuman. Menyadari hukuman pancung akan segera dilaksanakan, ia berkata dengan lantang, “Baiklah!”

Raja merasa menang, menterinya tersenyum licik dan merasa puas. “Katakan permintaan terakhirmu!”

“Aku tak meminta apa-apa. Tuan boleh membunuhku. Tapi tahukah tuan, apa yang akan dikatakan oleh orang-orang setelah ini?!”

“Apa yang bakal mereka katakan tentang diriku?” Kata sang raja dengan bangga.

“Mereka akan mengatakan, ‘penguasa kita bodoh sekali! Penguasa kita membunuh seorang tertuduh yang tak berdosa berdasarkan kesaksian seekor keledai.’ Tak ada seorang pun di dunia yang fana ini, yang menerima kesaksian seekor keledai kecuali keledai!”

Sang raja tergoncang hatinya. Hari itu ia mati mendadak terkena serang jantung, dan entah dengan Nasruddin…[email protected]

Facebook Comments