“Jemaah itu bertanya ke saya, ikam (kamu) maukah bekerja? Kalau begitu ikut aku saja. Mengajak dalam berproyekkan, dan setelah itu proyek beliau membangun sebanyak 600 unit rumah dinas,” bebernya.

Dan proyek selanjutnya, Majid menolak karena ingin melanjutkan kuliahnya. Tahun 1992, dia berangkat ke Banjarmasin dengan modal yang ada, dan tempat inilah, dia mengadu nasibnya sebagai aktivis NGO.

“Padahal, proyek besar. Katanya ikam jangan kemana-mana ya. Namun, aku tolak karena ingin kuliah. Lalu, beliau bertanya ke mana? Aku jawab ke Banjarmasin,” cerita Majid, mengenang.

Sebelum menjalankan kuliah, Majid menyadari uangnya tidak cukup untuk mengongkosi pendidikan maka dirinya langsung masuk ke dunia Non-Governmental Organization (NGO). Dia bergabung ke Lembaga Wahana Indonesia Muda (LEWIM), yang turut ditempa dalam menapaki hidupnya sebagai mahasiswa. “Aku bersama kawan-kawan, guring (tidur) di LEWIM dan sambil berkuliah,” kata alumnus SMEA Negeri Kotabaru itu.

Di usia 22 tahun, Majid telah berhasil lulus menjadi sarjana Studi Manajemen Keuangan di STIE Indonesia Banjarmasin. Setelahnya, dia mengadu nasibnya menjadi peneliti di lembaga riset Amerika.

“Kolaborasi dengan ULM, Universitas Indonesia (UI) dan tren Amerika. Survey Aspek Kehidupan Rumah Tangga Indonesia (SAKERTI) tahun 1997,” jelasnya.

Sebagai koordinator lapangan, Majid bertanggungjawab dalam mengobservasi tempat untuk riset dan penginapan, selama peninjauan lapangan. Selama setahun, dia mengingat antara tahun 1997-1998 itu hanya fokus penelitian di lapangan tanpa terlibat demonstrasi dalam menyongsong reformasi.

“Karena pernah bermodal belajar organisasi. Saya ingin jadi koordinator lapangannya, waktu itu bersaing dengan alumnus berbagai fakultas di ULM. Selama setahun, jelang reformasi saat itu saya malah di lapangan, dan menyesal sekali tidak ikut,” ungkap Majid, aktivis NGO berbasis HAM dan keberagaman.

Ternyata bersama tim riset, Majid mengaku hasil penelitiannya selama itu dianggap tidak valid. Karena, menurutnya ditinjau dari peristiwa krisis moneter pada Reformasi 98 tersebut. “Diminta untuk terjun ke lapangan lagi, namun saya berhenti untuk tidak melanjutkannya,” ujarnya.@

…... (bersambung) klik di sini

Facebook Comments