AsyikAsyik.Com – Jokowi  akhirnya mengumumkan cawapresnya untuk pemilu 2019, Kamis (9/10) selepas magrib, atau bertepatan malam Jumat Pahing—entah, apakah pemilihan waktu ini disesuaikan primbon atau mengambil berkah malam Jumat, nggak tahu, dan nggak usah kita bahas panjang-panjang. Kita fokus kepada sosok cawapresnya saja, yang ternyata KH Ma’ruf Amin. Kenapa pakai ternyata? Ya, karena banyak yang salah duga.

Mengapa KH Ma’ruf Amin, Rais ‘Aam Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) itu yang dipilih? Jokowi sih bilang bahwa Ma’ruf adalah tokoh agama yang bijaksana, pernah duduk di DPRD, DPR RI, MPR RI, Watimpres, dan Ketua MUI. Jadi, kurang apalagi?

Sudah tentu semua orang bisa baca tujuan sebenarnya. Tak lain dan tak bukan, yakni demi mendulang suara umat muslim. Yeah, kita tahu kan, hubungan Jokowi dengan sejumlah alim ulama tidak begitu harmonis. Nah, ini bisa jadi sebagai jawaban kalau Jokowi itu sebenarnya peduli. Sangat peduli malah. Buktinya, Ketua MUI dia jadikan cawapres. Kurang apa coba…

Boleh dikata ini strategi jitu Jokowi beserta 9 partai pengusungnya dalam menghadapi persaingan sengit perebutan kursi kekuasaan pada 2019 nanti. Umat muslim yang semula tak suka Jokowi, demi melihat kiai mereka dijadikan cawapres, bisa saja mikir ulang untuk milih Pak Prabowo.

Di sinilah ujiannya, apakah mereka yang sebelumnya ngotot ganti presiden tetap istiqomah atau malah berbalik arah.

Namun apabila melihat perseteruan “cebong” dan “kampret” sejauh ini, yakin saja bahwa siapapun cawapres Jokowi, mereka akan tetap konsisten dengan pilihannya. Nah, tentu saja lain halnya dengan mereka yang “abu-abu”, bukan “cebong” bukan “kampret”, atau belum menentukan pilihan. Suara-suara dari kelompok inilah, terutama dari umat muslim, yang diharapkan dapat diraup pasangan Jokowi-Ma’ruf.

Pelbagai spekulasi dan analisa juga sudah bertebaran di fesbuk dan twitter menyambut diumumkannya Ma’ruf Amin sebagai cawapres Jokowi. Komentarnya macam-macam. Ada yang kecewa, ada yang pasrah dalam artian tetap pilih Jokowi siapapun cawapresnya, dan yang pengen presiden baru sudah pasti komentarnya nyinggung-nyinggung gitu—bahkan andai bukan Ma’ruf pun cawapresnya, pasti mereka tetap konsisten begitu.

Begini nih sebagian komentar netizen di fesbuk dan twitter.

“Jokowi berpasangan sama tessi srimulat pun bakal tetep saya dukung…!” kicau @meow_leader.

— Ya, salut. Yang penting Jokowi, tak penting siapa wakilnya.

“Aduh jangan maaruf amin donk pak.. udah tua gitu,” kicau @abdullahsumber.

— Ya, Ma’ruf emang sudah sepuh. Mungkin, kalau jadi, bisa tercatat sebagai wakil presiden tertua di dunia.

“Saya bisa memahami alasan Jokowi memilih kiai Ma’ruf Amin. Yang tidak saya pahami adalah: kiai Ma’ruf bersedia,” tulis fesbuk Abdul Gaffar Karim.

 — Paham aja sebenarnya, tapi mungkin takut salah dan takut dosa.

Yeah, kalian bisa menemukan hal-hal yang lebih lucu dan asyik lagi dari itu. Juga termasuk mengapa Mahfud MD seolah-olah di-pehape, padahal banyak yang berharap beliau yang dipilih Jokowi.

Dan, menjelang puncak malam, 23.30 WIB, Kamis (9/10), juga masih malam Jumat Pahing, Prabowo Subianto pun mengumumkan Sandiaga Uno sebagai cawapresnya– jauh lebih muda dari cawapres Jokowi. Sandiaga Uno 49 tahun, Ma’aruf Amin 75 tahun. (maafkan, karena tulisan ini mau dipublish segera, analisa dan komentar pasangan Prabowo-Sandi, saya silakan Anda-Anda saja).

Jadi, lengkaplah sudah dua pasang calon Capres-Cawapres untuk bertarung dalam Pemilihan Presiden pada 2019 nanti. Selanjutnya, mari kita nikmati analisa, status-status, dan komen-komen di dunia maya yang pasti sangat sibuk di hari-hari ke depan mengomentari momen sejarah di malam Jumat Pahing ini. Tapi yang penting dan jangan lupa, bawa santai aja…@

Facebook Comments