PERBEDAAN dalam keyakinan (agama) bukanlah halangan dalam hubungan sosial antar pemeluknya. Dan media untuk kebersamaan dan perdamaian itu bisa dalam bentuk apa saja, tak terkecuali makanan (kuliner). Itulah pesan yang ingin disampaikan dalam film “Dialog Kuliner” (2021) produksi Lembaga Kajian Keislaman dan Kemasyarakatan (LK3) yang pada Senin (13/12/2021) diputar di aula Fakultas Ushuluddin Adab dan Dakwah (FUAD) IAIN Palangka Raya.

“Film ini menunjukkan kepada kita bagaimana modernasi beragama itu terjadi. Bahwa hubungan antar pemeluknya terjalin dalam sebuah komunitas atau kelompok kuliner. Dan film ini tidak bermain pada simbol-simbol agama, namun ditunjukkan langsung dalam hubungan antara tokohnya yang berbeda keyakinan,” ujar Dr. Desi Erawati, M.Ag, dekan FUAD IAIN Palangka Raya, usai pemutaran film yang disaksikan bersama puluhan mahasiswa.

Desi juga memberikan apresiasi kepada LK3 yang telah memproduksi film “Dialog Kuliner” sebagai media kampanye perdamaian. “LK3 telah memberikan satu tawaran bagaimana kampanye perdamaian melalui literasi digital. Keberagamaan dan kebersamaan sangat terlihat sekali dalam film ini,” ujarnya.

Sementara Dr. Darius Dubut, tokoh pegiat pluralism Palangka Raya, menyambut baik dan positif terhadap film “Dialog Kuliner”. Menurutnya, film ini berhasil memperlihatkan bagaimana perbedaan itu bisa dipertemukan dalam sebuah aktivitas, yang dalam hal ini adalah kuliner.

“Aspek antar iman dan aspek kuliner yang diperlihat dalam film ini semuanya bermuara pada cinta kasih. Cinta kasihlah yang mempertemukan atau membuat mereka yang berbeda keyakinan bisa saling menghargai dan mengasihi,” ucapnya.

Dialog Kuliner yang disutradarai Ade dari Alemo Film dengan penulis naskah Sandi Firly yang dikenal sebagai penulis cerpen dan novel, menceritakan sebuah kelompok memasak yang terdiri dari para ibu-ibu berbeda iman.

Bermula dari meja makan sebuah keluarga mapan Ibu Lina, yang di tengah sarapan pagi itu mendengarkan berita di televisi tentang kesulitan ekonomi dan banyaknya pengangguran akibat pandemi. Ibu Lina yang masakannya dipuji sang suami sangat enak, kemudian berinisiatif ingin membentuk sebuah kelompok memasak.

Setelah membuat pengumuman melalui media sosial, berdatanganlah para ibu-ibu yang turut bergabung dengan Ibu Lina dalam kegiatan memasak itu. Dan kebetulan ibu-ibu itu dari latar keyakinan dan suku yang berbeda, ada Taci dari warga Tionghoa, juga Kadek dari Hindu-Bali.

“Seperti makanan-makanan ini, tidak ada satu pun di antara mereka yang merasa paling enak dan istimewa. Semuanya sama di atas meja makan ini,” ucap Ibu Lina menyiratkan keberagamaan antar mereka.

Namun kemudian, keberadaan kelompok kuliner Ibu Lina ini  dicurigai oleh Ibu Joni, tetangganya yang menaruh curiga karena seringkali mudah termakan isu-isu di media sosial. Ibu Joni melaporkan aktivitas komunitas kuliner Ibu Lina kepada ketua RT dengan penuh prasangka. Sampai akhirnya Ibu Joni sadar, ketika mendatangi langsung bersama ketua RT, ternyata aktivitas kuliner Ibu Lina bersama kelompoknya adalah dalam upaya mengembangkan usaha ibu-ibu di tengah sulitnya ekonomi akibat pandemi. Film ditutup dengan ikutnya Ibu Joni dalam kelompok kuliner Ibu Lina.

Film ini juga dibumbui sedikit romansa, yakni ketertarikan Arul anak band terhadap May. Keduanya adalah anak dari ibu-ibu yang ikut kelompok kuliner. Juga ada isu transgender dengan hadirnya Betty, yang turut bergabung dalam kelompok memasak itu.

“Ide film ini sebenarnya terinspirasi dari program LK3 di mana salah satunya adalah pemberdayaan para perempuan dan ibu-ibu di bidang kuliner. Saat ini sudah ada ratusan ibu-ibu dan UMKM yang dibina oleh LK3,” ujar Noorhalis Majid, aktivis LK3 yang juga hadir dalam diskusi bersama Direktur LK3 Abdani Sholihin.

Dipilihnya kuliner sebagai media kampanye untuk toleransi beragama, ujar Majid, karena lewat makanan ini dapat menunjukkan sejauh mana tingkat kepercayaan seseorang terhadap orang yang berlainan iman. “Kita seringkali menaruh curiga terhadap masakan yang dibikin oleh orang yang berbeda agama. Nah, apabila mampu menghadirkan keyakinan bahwa makanan yang diolah itu, baik oleh yang membuatnya maupun yang akan memakannya adalah halal dan baik, maka dari situlah tumbuh saling percaya dan menghargai,” cetus Majid.

Sementara Sandi Firly, selaku penulis naskah, menyebutkan film ini merupakan keterlibatan pertamanya dalam pembuatan film. Sebelum menulis naskah, Sandi banyak melakukan diskusi dengan LK3 terkait kegiatan kuliner.

Menanggapi pertanyaan seorang mahasiswa terkait dalam penulisaan naskah, Sandi mengaku pada dasarnya tidak banyak kesulitan dalam penulisan. “Saya hanya berupaya bagaimana pesan yang hendak disampaikan bisa diterima para audiens, dan secara cerita menarik dan menghibur. Karenanya saya juga memasukkan sedikit unsur percintaan dan komedi,” ucapnya.

Film “Dialog Kuliner” ini sebelumnya juga sudah diputar di beberapa tempat, di antaranya di RRI Banjarmasin dan di kelompok komunitas di Kotabaru. Dan direncanakan kembali akan diputar di beberapa tempat lainnya seperti Barabai dan Kandangan.@

Facebook Comments