MASA remaja adalah masa yang tanggung sekaligus labil, saya bilang begitu karena saya sedang mengalaminya. Maka dari itu, tulisan ini sedikit-banyak lebih mendekati realitas dibandingkan tulisan-tulisan mengenai remaja yang ditulis oleh bapak-bapak generasi milenial ke atas.

Saya adalah saksi anak-anak perempuan yang bergerombol, memakai lipstik tebal sekaligus bedak yang tak kira-kira untuk ukuran wajah manusia. Ada pula anak-anak lelaki yang konon kegantengannya bisa meningkat jika knalpot sepeda motornya dirombak.

Saya juga saksi mereka yang mulai mengenal dunia politik dan mendiskusikannya di bawah atap sekolah. Memang saya belum cukup umur untuk ikut nyoblos tahun ini, hanya lewat beberapa hari setelah pemilihan baru saya tujuh belas tahun. Tapi dengan senang hati, saya biasa ikut bincang politik ala abg labil bersama beberapa teman.

Tentu saja politik bukan hal asing dalam kehidupan kami, terlebih di sepanjang jalan poster caleg–maupun capres–memenuhi ruang publik. Hal yang kemudian menjadi asing adalah ‘cara menyikapi politik dengan baik dan benar’.

Kesadaran politik tidaklah kurang, karena bagaimanapun setiap hari di depan mata kami biasanya wajah-wajah asing calon pejabat akan numpang lewat untuk satu sampai dua bulan sebelum pemilihan. Selain itu, KPU sempat berkunjung ke sekolah dan memberikan penyuluhan serta tetek bengek pemilu nanti April.

“Bagaimana cara memilih caleg yang baik dan benar?” begitu pertanyaan yang terlontar.

Ini menjadi polemik, karena kurangnya inovasi dari para caleg yang stagnan dengan cara mengiklankan diri serta logo partai tidak selalu menarik. Target pemilih sudah bergeser, dan hal paling memungkinkan untuk para calon legislatif tahun ini memenangkan suara adalah dengan iklan digital.

Tanpa inovasi-inovasi segar, pemilihan tidak akan menjadi pesta demokrasi yang meriah oleh warna-warni baru. Pemilih akan kesulitan menimbang mana yang layak pilih karena teknik kampanye yang dilakukan sama-sama kurang menarik minat.

Di zaman yang disebut-sebut sebagai era hiper-konektivitas ini kampanye menjadi lebih mudah dilakukan melalui internet dan menggaet pemilih dengan mudah berkat adanya para ahli pemasaran digital. Para pemilih muda seperti kami jauh lebih familiar dengan layar ponsel dibandingkan tiang listrik, jauh lebih suka menonton orasi yang disiarkan langsung lewat instagram dibandingkan kampanye berpanas-panas ria di lapangan terik.

Karena seperti mengutip esai Antonia Case berjudul ‘The Last Laugh’ “Setelah gelombang hiruk pikuk menerjang lewat dunia digital, dunia diluar jaringan internet menjadi jauh lebih sunyi. Tempat-tempat ketemuan di dunia nyata kosong dan jumlahnya merosot.”

Bahkan lewat esainya itu, Antonia mengatakan sebentar lagi kita akan masuk ke dalam dunia di mana tertawa tidak lagi semeriah dulu. Menertawakan tulisan lucu seseorang di facebook misalnya, hanya butuh satu klik, tahan, pilih gambar bulatan kuning tertawa, dan voila! Orang akan menganggap anda tertawa beneran, walau mungkin sebetulnya tidak.

Nah, begitu juga dengan politik. Generasi Z, anak-anak SMA, mahasiswa dan sekitarnya, yang baru saja punya hak pilih tahun ini tidak bisa dipungkiri online selama berjam-jam dalam sehari. Tidak ada yang bisa mencegahnya, apalagi berusaha membuat mereka terdistraksi dengan poster di pinggir jalan.

Maka yang perlu dilakukan oleh para kandidat caleg yang mungkin masih ketergantungan dengan cara tradisional–membagikan stiker, poster dan kalender–adalah move on dan bergerak bersama dalam semaraknya dunia digital. Seorang caleg yang membagi-bagikan kutipan lucu lewat laman facebooknya akan dengan mudah dijangkau oleh calon pemilih, apalagi dengan berbagai fitur iklan yang benar-benar mengantarkan kampanye langsung sepuluh cm ke depan mata masyarakat.

Nurhadi-Aldo misalnya, capres fiktif yang sempat meledak dan viral di media sosial itu tidak memiliki apa-apa di dunia nyata. Tidak ada baliho, tidak ada stiker atau bahkan melakukan hal-hal konyol di tengah lapangan desa. Mereka lahir di internet, meledakkan dunia nyata dan dunia maya secara bersamaan.

Dibandingkan menumpuk poster kampanye di atas iklan sedot wc dan membentuk kolase di tiang listrik, lebih baik menyewa ilustrator untuk menggambarkan mereka secara profesional, membuat akun instagram kemudian mengunggah foto-foto di sana. Setidaknya, masyarakat kini jauh lebih banyak menghabiskan waktu di depan layar ponsel dibandingkan menatap fokus tiang listrik dan baliho di jalanan.

Jika memang target sasaran adalah kaum Generasi Z, salah kaprah jika masih menganggap remeh industri digital. Internet adalah lubuk ikan gurame gemuk-gemuk, sekali membuat postingan lucu atau kutipan bijak misal, bisa dibagikan ratusan kali dan sang calon tinggal duduk manis menyaksikan jumlah calon pemilih yang meningkat.

Akhirnya, ujung diskusi politik bersama kawan-kawan itu usai saat bel berbunyi dan diakhiri oleh celetukan dari ujung meja “Yang kelak mengadakan turnamen game online dan giveaway pulsa plus kuota pasti harus jadi pilihan!”

Nah, loh!@

Facebook Comments