Demi menepati janji kepada ibunya, Juan Preciado mendatangi kota yang tak pernah terbayangkan dalam kepalanya demi mencari sang ayah, Pedro Paramo. Boro-boro ketemu dengan kota yang penuh nostalgia kebahagiaan, ia malah mendapati Comala, kota yang gersang ditinggalkan, dan tak hanya itu, kota yang dipenuhi bayang-bayang gumaman, kisah yang muram, serta lubang-lubang tipis antara hidup dan yang mati. Dan Juan, tak bisa pergi kemana-mana. Ia malah terjebak untuk menyaksikan orang-orang mati itu bercengkrama, berbicara, seperti hidup, dengan mata kepalanya.

“Bacaan lu berat juga, ya, Wi!”

Pratiwi Juliani (PJ) tertawa, menampilkan giginya yang rapi sembari mengibaskan rambut panjang pirang ke kanan. Itu setelah saya tanyakan buku apa yang terakhir ia baca.

Ketika itu, saya baru ngeh warna taplak senada dengan kemejanya yang putih bersih, dan kursi memerah seperti kemeja yang saya kenakan. Sudah kayak bendera saja.

Saya sempat menawarkan bahasa apa yang mesti dipakai saat interview, dia bilang terserah saya. Maka, saya putuskan berbahasa ala-ala Jakarta biar terlihat meyakinkan oleh Tiara bahwa kami sungguh-sungguhan sedang wawancara.

Sebagai penulis, tentu saja, PJ memuat banyak info dan bahan bacaan dari perempuan sebayanya yang tidak menulis sama sekali. Ditambah lagi, PJ juga mengelola toko buku dan mengirimkannya ke beberapa pembeli online melalui Jules Dunn.

Sebelum di Ubud, saya sudah bertemu dengannya beberapa kali di Banua. Pertama di tempat fitnesnya Aliman, Kandangan. Lalu di Aruh Sastra saat menerima penghargaan. Dan beberapa kali di Bali, dan kali ini persis di Indus Restaurant. Pratiwi Juliani menjadi speaker pada Main Program: UWRF18 Emerging Writers, Book Launch: UWRF18 Bilingual Anthology, dan Children & Youth: In Memory Of My Feelings.

Kami mendiskusikan banyak sekali hal terkait proses keratifnya dalam menulis. Termasuk apa saja yang telah ia baca. Saya memintanya menandatangani buku Atraksi Luma-lumba yang langsung saya beli ditempat. Lalu, apa trik yang mungkin bisa menjadi tips kegigihannya dalam menyelesaikan kumpulan cerita.

“Saya kira, menulis itu mudah jika kamu sudah punya bahannya di kepala. Kumpulan Cerita dalam Atraksi Lumba-lumba adalah apa yang saya lihat sejak saya kecil hingga saat ini. Itu bisa jadi situasi lingkungan yang memengaruhi pemikiran atau cara bergaul kita dengan orang-orang,” katanya.

Meski begitu, PJ meyakinkan bukunya tersebut tidak terlalu banyak memuat pengalaman pribadi terkecuali penokohan yang dibuatnya. Diakuinya, selama ia berkarier baik dalam bussines project atau hal yang terkait dengan dunia buku, sosok ayah tetap menjadi sang inspirasinya.

“Seorang ayah yang suka pergi berburu dari tokoh di dalam buku, sedikit banyak saya ambil dari sifat ayah. Hanya saja saya mengambil fragmen-fragmen dari beberapa orang lain yang saya temui. Banyak hal di sekitar yang menginspirasi,” jelasnya.

PJ menyebutkan, keluarga juga menjadi kekuatan untuk memengaruhi cara berpikir bahkan mengangkat cerita dalam keluarga itu sendiri menjadi sebuah cerita yang bermakna.

Seberapa banyak toko buku membantu segala aktivitas PJ dalam berkarier di dunia kepenulisan?

“Sebenarnya mengelola toko buku tidak hanya membantu dalam dunia kepenulisan, tapi juga dengan toko buku mempertemukan saya dengan banyak orang. Bertemu dengan banyak orang memberikan pengalaman yang berbeda-beda. Pada bagian ini lah saya rasa proses kreatif dan non kreatif itu bercerita. Itulah poinnya. Dan bagi saya, hal itu merupakan sebuah jalan. Semua bisa saja melakukan apa yang saya jalani seperti memunyai toko buku yang sama, misalnya.”

Meski dijawab demikian, saya bilang, ada something different dalam caranya mengelola suatu usaha atau mengelola branding personalnya. PJ tampak ragu menjawab. Dia pikir, saya yang sedang mengamatinya di media sosial dalam beberapa waktu terakhir.

“Mungkin begini… Ya Nan, ada bagian terpenting yang orang lain sedikit sekali melakukan yang yang lakukan. Mengobservasi siapa pun yang saya temui. Termasuk pembeli toko buku saya, pembaca akun media sosial, dan juga siapa yang mewawancarai saya,” ungkapnya dengan tatapan mata seolah ingin menjungkirbalikkan dengan tatapan Gerhana. (generasi 90’an pasti ingat ini, damn!)

Saya buru-buru menyelesaikan pertanyaan itu. Lantas mengalihkan topik soal kebiasaannya dalam membaca buku. Apakah dia memunyai target seperti penulis-penulis pro lainnya, semisal harus menghabiskan puluhan buku dalam seminggu.

“Gak ada. Saya punya masa sendiri untuk membaca. Jika saya akan menulis, saya tidak akan membaca apa pun karena saya tidak ingin tulisan saya terdistraksi dengan apa yang dibaca. Saya memunyai waktu khusus untuk itu semua. Bisa saja satu bulan penuh, liburan, saya membaca dan terus membaca apa saja tanpa melakukan kegiatan yang mengganggu. Di waktu lain, saya akan menulis, dan menulis saja!”

PJ menghabiskan kesehariannya yang sekarang berbisnis lebih mandiri. Termasuk toko buku, yang katanya juga bagian dari bisnis. PJ cukup lama melakukan hal umum seperti kebanyakan di rumah bersama ibu kesayangannya dan sesekali jalan-jalan.

“Keluarga tentu menjadi hal yang terpenting. Saya hidup dalam lingkungan keluarga yang terbuka dan sangat demokratis saya kira. Mereka menyusun diri kita dari hal-hal yang tidak sama sampai kesepakatan dalam pemikiran. Mengatur keluarga itu kadang sama dengan mengatur sebuah negara kecil. Kadang banyak kepentingan bagi masing-masing pihak, tinggal lagi bagimana kita mengkoordinasikan agar tidak saling berbenturan,” kata PJ.

“Tapi, kan, lu belum berumahtangga, Wi!”

“Gw akan segera menikah, lu tunggu aja kabarnya!”

Dan kami pun saling tertawa. Tiara Mahardika menatap kami seolah berbicara ada apa dengan berdua ini seperti bercanda saja isinya, mentang-mentang dari daerah yang sama. Saya berpamitan, PJ menahan saya untuk tidak segera meninggalkan Indus Restaurant.

“Mending kita makan dulu dan membicarakan hal lain di luar urusan kepenulisan!”

Saya setuju saja. Sore itu Ubud sedang cerah. Sebentar lagi tema Jagadhita dibicarakan dalam program lain sebagai penutup acaranya. Malamnya ada Ending Party yang menghebohkan. Di sudut lain pada Media Interview Only, Dee sedang melayani sejumlah jurnalis lain dalam sesi wawancara.

 

 

Facebook Comments