PROLOG

Malam itu, suara tetes hujan terdengar seperti logam anak panah yang menghunjam di atas atap. Menghunus layaknya pedang. Menggores urat jantung. Menyayat ulu hati. Memekakkan gendang telinga. Di balik jendela kamar, aku menatap jalanan basah. Mataku lebam karena seharian menangis. Kepergian Ayah begitu cepat. Mendadak. Begitu tiba-tiba. Seolahnya bongkahan hatiku terhempas dari tebing paling tinggi hingga ke dasar laut. Resmi sudah Aku menjadi yatim piatu.

Aku masih kecil saat peristiwa itu terjadi. Aku tak pernah percaya dengan tanda-tanda atau firasat-firasat yang sering melintas dalam bentuk bayang-bayang pikiran. Dalam penglihatan, dalam bisikan-bisikan yang sering terdengar saat aku menatap ke langit malam. Seperti bayangan Ayah yang bangun dari jasadnya, memelukku dengan erat. Dan mengusap dahiku dengan salawat. Senyumnya seperti perahu perak kerajaan surga yang pernah kulihat dalam mimpi-mimpi di sekolah Ibtida.

Kata Ustadz Zakir, Ayahku, Ahmad Basir, seorang Kasyaf. Manusia yang telah dipilih Tuhan untuk menjadi tidak biasa. Semenjak kematian Ibu usai kelahiranku, cahaya matanya berubah. Entah tersebab apa, wajahnya memutih seperti melihat hal-hal yang tak pernah terlihat oleh kasat mata. Penglihatannya seperti menembus tujuh puluh ribu dinding penghalang antara manusia dengan Tuhan. Matanya melihat gerak-gerik iblis dan setan yang biasa menyimpul pikiran-pikiran manusia di sekitarnya. Dia mampu melihat jin-jin dan makhluk halus yang berkeliaran di rumah-rumah penduduk, di sawah-sawah, di pasar, di jalanan, di bawah-bawah pohon, bahkan di puskesmas desa. Sampai-sampai, Ayahku dikira gangguan jiwa. Ia jarang sekali bergaul dengan tetangga. Hari-harinya dihabiskan membajak sawah, memasak untuk kami makan, tidur, bangun, dan kembali mengulangnya setiap hari. Orang-orang bergunjing tentang pribadinya yang dingin, namun tak pernah ia hiraukan. Ayah, menjadi sedikit bicara. Bahkan, setelah bayang-bayang kematian Ayah muncul dalam pikiran, ia lebih sering di kamar daripada berkumpul denganku.

Pada akhirnya, bayangan itu menjadi nyata. Tubuh kecilku yang baru berumur 6 tahun kala itu memandikan jenazahnya di atas dua pelepah pisang. Di antara orang-orang Kampung, Ustadz Zakirlah yang kuingat tak lepas menuntun tanganku. Memberikan segayung air untuk disiram ke ujung ubun-ubun Ayah yang terbaring kaku. Ke dadanya yang beku, sampai kuku-kuku kakinya yang biru. Sedangkan aku melakukannya dengan sangat lugu.

Kemudian, kucium kepalanya saat terbungkus kafan berbau melati. Saat itu, saat terbujur kaku, sunggingan senyuman di wajahnya masih terekam jelas dalam ingatan. Senyuman seorang hamba yang rindu akan bertemu dengan kekasih. Jenazah Ayah diiring-iringi zikir menuju liang lahat.

Semenjak kematian Ayah, aku tak lagi tinggal di rumah. Rumahku yang hampir roboh telah kosong. Aku dibawa Ustadz Zakir untuk tinggal di rumahnya, di belakang gedung sekolah Madrasah Ibtidaiyah Nurul Iman, di pojok Pantai Batu Lima, Desa Kuala Tambangan.

Pada suatu malam, hujan gerimis. Tetesan air langit di atas atap rumah Ustadz berbaris rapi. Turun satu-persatu layaknya prajurit di dinding-dinding gedung tinggi. Aku melihat tetesan air itu di dinding kamar saat berbaring, mendengarkan cerita-cerita sufi yang keluar dari bibir Ustadz Zakir yang juga rebahan di sebelahku. Dia menceritakan perjuangan para sahabat saat bersama rasulullah. Fitnah-fitnah dan derita yang dilemparkan kaum kafir terhadap pengikut Nabi Muhammad. Kemudian, betapa mengangumkan orang-orang soleh zaman dulu dalam memahami ilmu. Mendapatkan ilham, hingga dibukakan hijabnya untuk melihat Tuhan.

“Guru, Bagaimanakah Tuhan itu?” bibir kecilku bertanya dengan cedel. Aku lebih akrab memanggilnya dengan sebutan Guru. Ustadz Zakir memandangku tercengang. Aku tahu ia kebingungan menjawab bahkan memaparkan jawaban dari pertanyaanku.

“Muhammad Nouval. Aku sangat yakin kepada Allah. Pun keyakinanku ini kuharap tidak berubah. Dalam jangka waktu yang tak bisa dikira-kira, kau akan mewarisi segala ilmu-ilmu yang dimiliki seorang ulama Kasyaf. Namun, tidak seperti ayahmu dulu yang mendapatkan tersebab dipilih langsung oleh Allah. Bagiku, ayahmu seorang lelaki pilihan yang mendapatkan Ilmu Laduni. Berbeda dengan kau nantinya. Dengan usaha, doa, dan ilmu-ilmu yang kau tuntut kelak. Tentu, kau akan mengerti,” matanya memandang langit-langit yang berlubang saat berbaring di atas kasur.

Aku tak akan pernah tahu jika nantinya kemampuan yang ada padaku ini bakal menyusahkan. Membuatku risih karena selalu dijadikan pembeda dari kawan-kawanku di sekolah. Namun, ia bersyukur karena aku dilahirkan dari seorang yang abrar. Ketampanan seorang bangsawan pun, katanya, diwariskan kepadaku semenjak aku kecil. Heran, apakah hanya aku yang merasa seperti itu atau ada sesuatu lain yang mengganjal dalam kepala. Ah, aku sempat tidak terima dengan ketidakwarasan yang dianggap Ustadz Zakir sebagai anugerah. Bagiku, ini adalah musibah.

Aku memandang Ustad Zakir yang tidak muda. Namun tak juga seperti seorang lelaki paruh baya. Dia seorang lelaki yang begitu sayang kepadaku meski terkadang aku menilainya begitu berlebihan. Dia adalah sahabat seperguruan Ayah. Dialah satu-satunya ulama yang mengajarkan ilmu agama terutama ilmu akhlak ke sekalian penduduk di desa kami. Semenjak awal tinggal di rumahnya, ia mencekoki aku dengan pelajaran akhlak. Cerita para para Nabi dan Rasul, para sahabat, para waliullah, dan ulama di masa lalu. Katanya lagi, cerita-cerita itu sebagai bekalku nanti ketika dewasa. Di mana aku akan mendapatkan rentetan fitnah dan ujian iman. Mungkin tanpa sejarah, aku telah terjerumus dalam lingkaran hitam.

Ustadz Zakir adalah alumnus di salah satu pesantren, di Kota Martapura. Ia mengharapkan hal yang sama jika nanti aku lulus dari sekolahnya, di Madrasah Ibtidaiyah Nurul Iman, aku menuntut ilmu kembali. Melanjutkan di pesantren yang dulu menjadi sekolahnya.

Tiba-tiba di satu malam, setelah aku cukup berakal untuk memahami ilmu tasawuf, dia menceritakan perihal kelahiranku.

“Ingatkah kau sewaktu dilahirkan, Val? Waktu itu, malam begitu gelap pekat. Ombak dan riuh buih laut seperti raksasa. Kampung Kuala Tambangan dilanda sebuah badai yang begitu sombong. Sampai-sampai angin laut dari Pantai Batu Lima menghantam rumah-rumah warga. Beberapa di antaranya roboh. Orang-orang bingung harus membantu siapa sedangkan keluarganya di rumah kalang kabut mencari keselamatan. Angin ribut itu berlalu-lalang datang dan pergi tak beraturan. Sontak terdengar suara tangisan bayi di sebelah rumah. Aku bersama adikku, tinggal di rumah yang jaraknnya tak jauh dari rumahmu.

Aku segera mendatangi Ayahmu yang diluar kamar tampak gelisah menanti suara tangis seorang bayi dari balik tirai kain. Ia sangat mengharapkan anaknya lahir menjadi seorang laki-laki yang tangguh dan mewariskan segala ilmu serta keistimewaaannya. Saat cahaya fajar menyingkap, adzan subuh berkumandang, angin-angin yang telah memporak-porandakan ranting-ranting di bibir pantai lenyap. Tabir langit membuka cahaya bulan yang masih sempurna. Kau, dilahirkan sebelum waktunya, Nouval. Dari rahim Ibumu, yang tak lagi bernapas setelah itu,” suara Ustadz Zakir terdengar bergetar dan semakin pelan.

“Lantas, siapa Ibuku, wahai Guru?” tanyaku polos.

“Kelak kau akan ketahui. Di kota perantauanmu. Di sana, akan banyak ilmu dan tanda-tanda kebesaran yang akan membuktikan siapa dirimu sebenarnya. Kau akan dibimbingnya melalui pintu-pintu yang gelap sebelum kau menemukan pintu yang hakiki. Kau akan mengetahui perihal yang sebelumnya tak pernah kau ketahui. Bahkan, kau akan menemukan cinta saat hatimu mulai surut. Bismikallahuma ahya wabismika amut.” Tutupnya seraya memejamkan mata.

Padahal aku tahu, ia tak ingin aku bertanya kembali tentang cinta itu. Dan kelak kuketahui nanti, ada seorang wanita di Martapura, gudang ilmu yang kunikmati, yang membuatnya saat ini tak mampu beralih hati.

***

BERSAMBUNG

Facebook Comments