Burung-burung murai terbang. Tabahlah hati
mereka. Musim kawin menolaknya, kasih
membentaknya dan cinta membunuhnya
dengan teramat mengerikan!

Tabahlah hati mereka;
membawa luka dan kegagalan asmara.


Tempat Masa Lalu

Seperti aku: ingin pertemuan itu kembali,
ingin sepasang mata bercahaya lebih terang.

Aku mengenangmu di wajahku,
di wajah-wajah puisi.

Aku ukir kau di atas batu, di dinding kayu
roboh, di antara jejak kaki binatang terluka.

Aku mengenangmu: masa lalu yang biru;
tersumbat darah hitam di wajahku.


Kota Mati

(tak ada apa di sini, monster-monster mimpi
tinggal di surga. tak ada apa di sini, hantu-hantu
kesepian: siang malam.)

Kota penuh sejarah, ditinggal pembicaraan!
Orang-orang membosankan itu, teriak: serban
menutup muka.
Kalau aku berumur seratus tahun, jangan kubur
aku dalam tanah di sini, kalau tinggal sebentar,
jasadku miliki orang tua.

Wahai para arwah sang pembangun kota,
ke mana kau lari, jangan tinggal aku, bawa aku
ke tempat paling sedihmu!
Siksa-siksa ini, tiada kuat kutahan lagi, rambut-rambutku
rontok; mencari jalan di lorong kota mati: tidak ada
siapa, tidak temukan apa,
di sini, di kotaku yang lama terbaring tanpa nyawa.

Facebook Comments