BPDASHL Barito "AYO MENANAM"


KE DALAM IBU

Ke rahim ibu
Aku tulis puisi yang belum sempat ditulis
Kata-kata menjelma riwayat yang lapang
Namamu adalah seberkas perayaan
Menyobek langkah hujan

Ke rahim ibu
Aku tulis puisi yang tak sempat mencatat masa lalu
Kata-kata adalah riwayat yang lapang
Ia tak butuh nama
Dari namamu, seberkas perayaan
Yang tak ingin menghitung langkah jeda
Dari hujan yang bernarasi tentang malam

Surabaya, Mei 2019

 

YANG MERIMBUN DARI NAMAMU

Aku mencatat seluruh yang mengisahkan perih masa lalu dari ingatanmu
Jalan panjang cinta membelukar kelana lama seorang kelasi yang terbuang
Dari perayaan mimpi yang tak pernah cukup menafsir jejak-jejak tunai sepotong malam

Aku menulis segala yang kau sebut ibu—haru dan penuh renyai masa lalu
Ingatanmu membentang jalan yang panjang dari tempuh kata-kataku
Kita akan sambut yang merayakan namamu berulang-ulang kali
Hingga sepotong malam tak lagi tandas di dasar sungai dalam keheningan dirimu
Dan setiap yang terbuai mimpi akan kembali
Dari namamu yang rimbun, ditulis narasi hutan sepenuh cemas

Surabaya, Mei 2019


RUMAH HUTAN

Sungguh pun tak kita kenal sepasang manusia yang terlempar dari nirwana, tapi ada juga kita baca dosa di dalam tubuh yang bermetamorfosa menjadi hijau—nyalanya mengingatkanku pada rimba yang lama mengubur dirinya dalam ceruk dendam berlapis. Sunyi telah jadi bahasa yang asali—sebelum kau hablurkan dendam yang membentuk siklus dalam dirimu
Apa yang kita baca? Lengkung malam, sepotong bulan, perempuan yang bermula
Dari puisi-puisi seorang penyair satire
Di hadapan ingatan yang menanak kisah

Ataukah luka
Hanya luka
Menulis dendam
Sebagai nubuat
Yang tak termaktub
Dalam tidur panjang kita

Surabaya, Mei 2019


TRILOGI HUTAN

//
Lelaki itu menanam malam
Pada matanya, dendam ranum serupa apel yang dikupas
Dan seketika ia terbayang segala yang tercatat
Di keheningan Eden

//
Malam-malamnya menjelma barisan hutan
Rimba yang menuntaskan cemas
Masa lalu telah ditakar dari langkah yang lama bermula
Dari keheningan doa, kata-kata tiada arti jika sekadar menyulam bunyi

Serupa penyair yang menyembunyikan bahasa cinta ke dalam ceruk sunyi

//
Sudah berapa musim dicatat
Kau masih saja menuliskan hutan
Sebagai rumah pertama
Dalam sajak-sajak yang mencawiskan wangi risalah
: narasi purba yang bermula dari nama-nama benda

Surabaya, Mei 2019

 

RIMBA YANG KEHILANGAN NAMA

Ia bertanya padaku, kau bermula dari ketiadaan?
Aku narasi yang lama cemas, menulis mimpi
Di kening-kening pohon, memakmurkan malam yang labil

Telah lama luka ditanam
Dalam diriku
Sungai hanya riwayat yang terbujur
Lelah menuliskan keluh
Kepada tanah yang terbungkam

Tak ada perih
Menuliskan kisahnya
Di jantung hutan
Para moyang telah lama padam

Mereka hanya tertanam
Dalam abad yang bersalin
Dari ingatan lama
Kampung-kampung yang terbunuh

Surabaya, Mei 2019

Facebook Comments