Hudan menjelaskan, tujuan dari ‘pengawinan’ event Banjarbaru Tempo Doeloe dengan Festival Literasi ini merupakan gagasan dari Wali Kota Banjarbaru, Aditya Mufti Ariffin. Niatnya, kata penyair asal kota idaman ini adalah untuk mengangkat lebih tinggi lagi marwah Kota Banjarbaru yang sejak tahun 50’an silam, yang digadang-gadang jadi Ibu Kota Provinsi Kalimantan (sekarang Kalimantan Selatan).

Event Banjarbaru Tempo Doeloe bakal diisi dengan fashion show jadul, kontes motor dan mobil antik, kontes foto dan video vintage, kontes break dance, parade motor antik dan charity, tribute malay song, dan parade dangdut melayu.

Selain itu ada kolaborasi apik dari Tempo Doeloe dan Festival Literasi yakni Talkshow Mengenal Tokoh-tokoh di Banjarbaru.

Diketahui bahwa Balai Kota Banjarbaru sekarang dibangun sekitar tahun 1956. Bangunan bernuasna kolonial Belanda itu merupakan hasil sentuhan tangan dingin arsitektur bernama Van der Pijl. Dalam membangun kota idaman itu, dia menggandeng seorang kontraktor pemborong bernama Raden Pandji (R.P) Soeparto yang sekarang namanya diabadikan menjadi nama jalan di samping Balai Kota Banjarbaru.

Kemudian, sosok Haji Idak merupakan tokoh pertanian yang telah menerima anugerah Kalpataru sebagai kategori perintis lingkungan pada 1987. Dia berhasil mengembangkan teknologi pengairan di lahan rawa/gambut, termasuk upaya dalam merintis usaha tani terpadu yang terdiri dari pertanian, perikanan dan pembibitan buah.

Dengan itu, Hudan menyebut konsep bangunan Balai Kota Banjarbaru itu telah di setting dengan baik oleh Founding Fathers, seperti dr. Murdjani, kemudian diteruskan oleh RTA Milono dan menunjuk Van der Pijl sebagai perancangnya pada 1953.

“Karena berkolaborasi dengan event Banjarbaru Tempoe Doeloe maka akan diisi juga dengan kegiatan lomba baca puisi dalam mengenang tokoh sastra yang sudah wafat yakni Eza Thabry Husano, Hamami Adaby dan M Rifani Djamhari. Tiga karya penyair itu akan jadi bahan lomba kita,” tuturnya. Giat lomba itu akan dogeber pada 27/10 mendatang.@

Facebook Comments