Suasana diskusi buku yang diikuti kalangan anak muda di Kampung Buku, Jl Sultan Adam, Banjarmasin.

Disebutkan, nilai dari konsep Realisme Revolusioner adalah semangat kerakyatan dalam menentang penindasan pada masa itu.

“Di lingkup Sanggar Bumi Tarung (SBT), Pak Misbach dan kawan-kawanlah yang menginisiasi konsep dan istilah Realisme Revolusioner, karena Realisme Sosialis mereka anggap tidak cukup,” ujarnya.

SBT menginginkan perubahan yang nyata pada bangsa. Dan Realisme Revolusioner menjadi aliran khas seni rupa Indonesia yang diusung SBT.

Di bab 3 dalam buku, sebut Hajri, terdapat gagasan Misbach Tamrin yang membagi tiga aliran, yaitu Realisme Sosialis, Realisme Kritis, dan Realisme Revolusioner.

“Dan Revolusi Revolusioner ini mengusung konsep 1-5-1 yang populer itu,” sebutnya. Satu di depan adalah politik sebagai panglima, dan satu di belakang turba (turun ke bawah). Sedangkan lima di tengah itu hal yang ideal menyangkut seni rupa seperti soal mutu atau kualitas.

Hajri mengatakan sosok Amrus dalam SBT sebagai inspirator bagi kawanan seniman seni rupa. Sedangkan Misbach sebagai salah atau pemikirnya. Sementara Pekik adalah yang kemudian paling melejit namanya lewat karya Berburu Celeng.@

Facebook Comments