tulisan sebelumnya sila klik https://asyikasyik.com/saat-aku-gigil-membaca-tubuh-sendiri-1/

Iberamsyah Barbary apakah ada rekayasa orang gila? Menafikan risalah-risalah diri untuk membaca diri. Melipat kesabaran dan gegas melipat kesabaran dalam mengarungi lakon semesta. Saya belum menemui hukum kausalitas yang bermartabat di sana selain qadar waktu yang digariskan.

Isnaini Shaleh laba-laba bersarang di kepalaku. Mereka menyeru nama guru yang menyuruhku mengisi google form daftar hadir yang dialamatkan kemarin pagi. Sementara gawai menjadi etape yang melarangku mengenal kebiasaan. Bolehkah saya meminta nomor pribadi, Pa Guru?  Untuk sekedar mengirimi gambar kelas, pojok ruang yang mengantarkan kisah-kisah dua tahun lalu.

Jamal T. Suryanata di mana cerita tentang cinta itu kau lesatkan? kala kau memahat ketiadaan dan aku menjelma penulis kematian. Bukankah suara-suara saling menelan? Tatkala keserakahan, kesewenangan, ketakadilan, kemunafikan hanya kau pertanyakan pada dogma dan teori-teori. Saya senantiasa mendongak, menghadang ketakziman di sela kisah yang terlanjur kau tulis pada paragraf ketiga luka dunia.

Maria Roeslie iya, saya akhirnya harus menunda segala keinginan. Mengemas janji-janji para kolega yang terjegal. Berita kematian yang melangkahi prediksi ilmuwan telah ditulis tiga ratus tahun lalu. Saya lupa meneruskannya sebagaimana risalah kupu-kupu yang gagal bermetamorfosa.

Muhammad Daffa bila tubuhmu sedang sengkarut. Biarlah air menukilkan alir ke liang tenggorokanmu untuk menanak kisah yang kau tulis lewat tualang. Kembara tak selalu menyanyikan aubade, bukan? Saat arwah-arwah mencium leher puisi. Saya masih menahan kegembiraan untuk menyalin senyum yang kedinginan saat hujan membacakan puisimu, Daf.

M. Johansyah salam takzim ya arwahi. Engkau telah dulu melihat ke telaga hati. Menukar sejuta tanya dengan jawaban yang kau sebut pendulum. Pa Johan yang baik, semoga di sana kata-kata menemukan rumahnya. Saya hanya bisa mengirimkan surat-surat dalam lafaz yang tertahan. Al Fatihah.

Muhammad Rizky Ad’ha apakah hari ini kau masih merasa jarak adalah kuartal waktu yang berbatas? Bila sekat adalah pisah yang kau sebut pemisah berjarak, maka ruang liyan dalam bayang maya berbelas daring bisa kau sebut azal yang dikirimkanNya? Kau rindu yang sebelumnya telah lalu, kau rindu sekolah, kau menyeru batas. Sini, kau lihat tanganku melambai di antara daring dan luring, ah!

Noor Halimah saya membaca puisimu seperti mengalihkan duka ke dalam kantor. Sementara drama, dunia telah mengubah jalan yang disiapkan manusia. Tak ada air mata yang kusimpan dalam genggaman. Hanya perawat yang melihatku menunduk, mengenang jalan pulang yang kau lerai dalam langkah puisi.

Noor Sa’adah, jarak tak pernah melangkahkan rindu dalam raga yang berbatas. Mungkin, batas akan sama dengan pisah. Saat portal ruang yang kasat terlihat jamak. Saya membaca batas yang di luar jarak. Bila hubungan antar manusia adalah dunia yang mewarisi  senyum, bebaskan langitmu untuk memeluk keadaan. Karena setiap kisah, tak selamanya indah untuk dijalani. Karena bumi tidak sedang menangis.

Nurul Hidayah saya menyimak petitih dalam tulisanmu. Virus diseru-seru dalam kuyup kata-kata. Adakah akselerasi kebiasaan baru bisa ditukar dengan keseimbangan alam yang tandang perlimapuluh tahunan? Semoga kita baik-baik saja menghadapi jalan Tuhan.

Facebook Comments