Tuhan memperlihatkan kepadamu hal gaib namun bisa saja menutup kemampuanmu akan menyadari rahasia dalam dirimu sendiri. Penglihatanmu bisa menjadi fitnah yang menjerumuskanmu dalam kesesatan. Tanpa pembimbing yang mursyid, kemampuamu bisa menjadi hijab tebal. Maka dari itu, aku tak bosan mencekokimu pelajaran akhlak agar kau tak sombong. Karena kutahu kau tumbuh menjadi seorang pemuda yang keras kepala.

Aku tidak ingin kau menjadi seorang kasyaf yang justru mengangungkannya lantas menceritakan ke seantero alam atas pengalaman batinmu itu. Jangan sampai kau merasa bangga saat menermia pujian. Sebab banyak pendosa besar tenggelam atas kesalahan, lalu mendadak naik derajatnya karena taubat menyadari kesalahan. Sebaliknya, jika kau mulai bergaul dengan gemerlap dunia, takabur dalam menerima kasyaf, maka hanya Ia sang penguasa yang lebih tahu perihal hambanya. Sesungguhnya, Tuhan itu berada di sisi prasangka hamba, Val. Janganlah pernah berprasangka buruk kepada Tuhan. Dan janganlah kau lazimi memikirkan zat Tuhan, melainkan pikirkan dan syukuri nikmat-nikmat yang telah diberikan Tuhan kepadamu.

Sampaikan salamku pada Guru Ramlan, dan pergilah ke Martapura mencari kakekmu. Dia masih hidup.

***

Surat itu kulipat lalu kusimpan ke dalam tas ransel pemberian Ustadz Zakir. Apakah ini berarti kepergianku telah direncanakan? Jauh di palung hati yang paling dalam. Aku bersyukur jika benar dilahirkan dari rahim seorang darah bangsawan bahkan sultan, dan pula keturunan seorang faqih, seorang waliullah. Tapi bukankah ini menjadi pembeda dari yang lain. Yang kubingungkan adalah, mengapa kakekku yang dikatakan Ustadz Zakir dalam suratnya harus memberikan amanah demikian. Aneh sekali.

***

BERSAMBUNG

Facebook Comments