Rinai air mata membasah di pipi. Setelah jenazahnya tiba di Indonesia, beberapa warga, kapolri, gubernur, bahkan orang-orang baik berada di sisi guru kita, ustaz, ulama, panutan, bapak kesayangan, abang, tokoh, untuk mendoakan dan saling mendoakan. Beliau berpulang, jenazahnya telah dimakamkan dan disaksikan ribuan orang. Kita kehilangan lagi seorang. Seorang yang tak berbanding meski seribu orang bersanding.

Meski pada awalnya keglisahan ini begitu menyiksa. Saat saya menganggap semua yang saya tulis hanya sia-sia. Ternyata malah tidak ampuh mengobati rasa duka. Menulis atau tidak menulis bagi saya sama saja. Parahnya, ketika saya tidak menuliskan kegelisahan ini, huruf demi hurufnya terasa menggerogoti ruang kepala dan memaksa agar mereka-mereka ditumpahkan saja.

ilustrasi based on photo Herman Liputan 6: Situasi Massa di Tanah Abang

Malam sebelumnya, di tempat lain, di belahan yang sama, beberapa infrastruktur negara di ibukota hancur, dirusak pihak ketiga yang hatinya mungkin jahat, atau orang-orang polos yang disuruh orang jahat. Debar jantung berdegup cepat. Harap cemas menyelimuti tiap urat. Para petugas bersalawat. Tidak ada niat lain selain menjaga kedaulatan umat.

Tengah malamnya, para birokrat sedang bergumul bagaimana menghadapi situasi yang kian gawat. Tiga media sosial ternama wafat. Dibatasi penggunaannya oleh menteri komunikasi yang terhormat. VPN pun ngadat. Pebisnis online mengeluh sana-sini didampingi para pegiat yang ketergantungan dengan media sosial kelas ahad.

Padahal, sore harinya, para pengunjuk rasa yang berada di depan gedung Bawaslu selo-selo saja. Mereka berkumpul berbuka bersama saling berdiskusi dan bercanda dengan pihak aparat. Menjelang berbuka mereka saling bersalaman dan berpelukan. Yang padahal, semua berakhir baik-baik saja. Ternyata orang orang baik memang sedang diadu domba. Tapi, ada yang tidak menyadarinya.

***

Oke brader, anggap saja semua ini sudah selesai ya. Ribut-ribut kita di Indonesia ini tak lebih adalah ribut politik. Kita, yang didominasi pengguna sosial media aktif adalah orang-orang yang gegar budaya demokrasi. Yang menerima produk luar negeri tersebut terlalu prematur. Gak keliru, sih, tapi bisa membuat orang yang terlampau pintar gak nyadar, kalau dia sedang belajar. Belajar menerima Negara yang sedang berdemokrasi tapi umurnya belum bisa dikatakan senior. Demokrasi di negara kita seolah masih kemarin sore.

Mari membuka pola pikir, jangan cepat-cepat merubah. Cukup dalam fase sadar, bahwa semua informasi yang dipaparkan belum tentu benar. Apa pun, anything. Baik dari kubu pemerintah, oposisi, atau non pemerintah. Apa saja. Tidak bisakah kita bersikap tenang dulu, guys? menahannnya beberapa waktu sebelum mengambil keputusan terhadap situasi yang kini melanda Negara kita tercinta.

Saya, dan anda, para pembaca yang mulia, tentu mengharapkan setelah semua ini berlalu, kita, negara, keluarga, dan semua yang sedang berjalan, akan baik-baik saja. Saya meyakini kepada anda para pembaca bukanlah orang-orang yang senang akan segala bentuk kerusakan dan kerusuhan. Peringatan-peringatan Mei 98 dan Mei-mei lainnya yang biasa kita ketahui dari media adalah sebagai upaya agar kita mengingat, untuk tidak lagi mengulang.

Setelah internet kita kembali kepada jalannya, mulailah merenung. Ternyata, semua baik-baik saja. Sesuatu yang meresahkan tidak datang dari luar, melainkan dalam diri pribadi. Ada orang-orang yang mesti ditampar dulu baru ia sadar, dan ada yang perlu “dimatikan” dulu, baru ia menyesal. Termasuk manusia yang manakah kita? Gak perlu pakai jawaban “lu aja kali gue nggak!” @

Facebook Comments