Milad Kesultanan Banjar ke-516 yang digelar pada Minggu (13/6/2021) berlangsung sederhana dan terbatas di Ballroom Hotel Rattan In Banjarmasin. Ada 34 tokoh yang menerima gelar agung dari Sultan H. Khairul Saleh Al-Mu’tashim Billah. Penerima gelar agung adalah mereka yang berdedikasi menjadi figur inspiratif dan memberikan kontribusi kepada masyarakat luas dalam mengembangkan syiar islam, pengembangan pendidikan, melestarikan dan merawat lingkungan, menjaga adat istiadat Banjar, dan merawat kerukunan antar etnis, sosial, serta masyarakat.


– Alim Ulama (Tuan Guru Besar dan Datu Puspawana Hikmadiraja) diberikan kepada: TGB KH. Zarkasy Hasbi, Lc
– Akademisi (Cendikia) diberikan kepada Mansyur, Abdurrahim Al-Audah, Humaidy
– Pegiat dan Pemerhati Seni Budaya (Astaprana) diberikan kepada Hamdan Eko Benyamine, Hendra Royadi, Gusti Erhandy Rakhmatullah, Muhammad Tommy Wijaya, Lupi Anderani, Rudi Nugraha, Ismail dan Kasmudin.
– Kuliner (Astakona) diberikan kepada Aulia Abdi dan Agus Gazali Rahman.
– Lingkungan (Puspawana) diberikan kepada Kosim, Hasan Zainuddin, dan Zulva Asma Vikra.
– Kedaruratan dan Penanggulangan Kebencanaan (Jagabana) diberikan kepada Muhammad Faisal Hariyadi dan Untung Nur.

Selain itu Gelar Pangeran Kesultanan Banjar diberikan kepada; Syachsan Sarkawi, Drs. H. Gusti Noor Maulana, Gusti Rakhmat Samudera, SH, Gusti Muhammad Erwin Arifin, dan Gusti Mastur. Sedang penerima gelar Pangeran Syarif diberikan kepada Habib Abdurrahman Bahasyim dan Habib Abdul Qadir Ba’agil.

Anugerah Keagungan diberikan kepada Prof. DR. Sutarto Hadi, Prof. DR. Ersis Warmansyah Abbas, Setia Budhi Ph.D, Prof. DR. Masyitah Umar, DR. Gusti Muzainah, Prof. DR. Ahmad Alim Bahri, dan Hasnuryadi Sulaiman.

TEPATKAH SUDAH PENAMAAN BIDANG ANUGERAH KESULTANAN BANJAR?

Peringatan milad Kesultanan Banjar ke-516 menjadi momentum penting untuk menggolakkan panji tradisi dan budaya di era milenial. Hal ini menjadi tantangan tersendiri di tengah arus zaman yang adaptif dengan digital. Tentu peranan 34 tokoh terpilih menjadi fondasi yang diharapkan bisa menajamkan marwah kebanjaran dalam berbagai lini kehidupan.

Menyimak penganugerahan yang berlangsung sepekan lalu, rasanya perlu mengoreksi pihak penyelia dalam menentukan penerima Anugerah Astaprana khususnya bidang sastra.

Sastra notabene dengan teks, buku-buku, dan aktivitas keberaksaraan. Tidak semua orang yang menulis disebut sastrawan, atau tidak semua penulis buku-buku lantas menjadi sastrawan. Gelar sastrawan mengalami tarik ulur manakala penyebut dan lingkungan tidak memahami lumrah pemakaian kata sastrawan mesti digunakan atau disebut untuk siapa.

Memahami istilah sastra tidak seperti membuka kamus KBBI. Penyastra atau sastrawan adalah mereka yang istiqomah di ranah aksara, tidak hanya menuangkan ide kritis dalam karya, tetapi membaurkan dirinya untuk khidmat memasyarakatkan sastra.

Delapan penerima Anugerah Astaprana adalah orang-orang yang tepat. Mereka telah memberikan energi dan sumbangsih positif yang sangat berdampak bagi masyarakat. Untuk ke depannya tim penyelia kiranya mesti menambah satu bidang lagi yaitu Seni Pertunjukan bagi yang telah berjasa memasyarakatkan budaya Banjar di atas panggung lewat balutan tari, musikalisasi puisi, dramatisasi puisi, dan sebagainya. @

Facebook Comments