SEDERET lukisan dalam pameran tunggal karya Innasya Pritama Tania Dewi, perempuan kelahiran 2003 itu terpajang secara perdana di Dharma Coffee, Komplek DPR, Jalan Pramuka, Kota Banjarmasin.

Dengan mengusung tema: Senandika Perempuan, sebanyak 17 karya seni rupa yang mempengaruhi kehidupannya hingga sekarang. Di antaranya, yaitu Banjarmasin, Gaun Pendusta, Keluh Cerita, Solitude, Abhipraya dan Apti Nan Sembagi Arutala.

Ada 2 lukisan yang menarik di dalam pamerannya, adalah pertama berjudul Banjirmasin yang merupakan karya Innasya Tania untuk dipersembahkan ke film dokumenter Banjirmasin; Suara dari Selatan (SdS), kemudian terakhir dia menunjukan sebuah karya yang spesial dan penting baginya, yaitu berjudul Apti Nan Sembagi Arutala. Sosok sang guru yang membimbing kehidupannya selama ini.

“Ini merupakan pameran tunggal pertama saya. Hingga digelarnya kegiatan ini, saya tak dapat bisa berkata apa-apa lagi dan intinya, berterimakasih sekali,” ucap Innasya Tania kepada Asyikasyik.com, Kamis (12/1/2023).

Tema yang diangkat, Tania menjelaskan bahwa makna senandika itu sendiri adalah kata bathin. Dengan terfokus pada sosok perempuan, dia mengibaratkan semua karya lukisnya kini terwujud atas pergolakan hidupnya selama ini.

“Saya melukis. Tiap menggoreskan kuas ke kanvasnya, semua dari kata hati dan perasaan yang mendalam,” ungkap Tania, penuh haru.

Dalam kesempatan itu, Tania memperlihatkan satu karya seni rupa yang tertutup dengan kain putih. Ditengah acara, dia mengungkapkan bahwa karya itu sangat spesial dan penuh arti baginya tersendiri. “Ini adalah karya lukisan yang utama dan sangat berkesan,” ujarnya.

Dalam hitungan waktu, Tania membuka sehelai kain putih yang menutupi kanvas tersebut. Lantas terbuka bahwa lukisan itu menggambarkan sosok sang guru Sekolah Menengah Pertama (SMP) yang telah mendorongnya menjadi perempuan kuat dan berbakat.

“Di dalam lukisan ini, ada sosok perempuan yang terlihat berjilbab dan satunya, tidak. Ini menggambarkan diri saya sendiri dengan sang idola saya, yakni Ms Aminah,” ungkap dia.

Di tengah acara itu, Tania menegaskan bukan sosok ibundanya melainkan sang guru SMP yang selama ini mendorongnya sampai berprestasi. Kala itu, sang guru pernah mendapati Tania pingsan berkali-kali karena tidak sarapan pagi, sehingga membuat Ms Aminah turut memberikan perhatian lebih kepadanya.

“Singkat cerita, Ms Aminahlah yang membangkitkan semangat saya selama ini. Beliau pernah menjabat kepala sekolah di SMP, kemudian tak lama dipindah (mutasi) cuma tiga bulan saja,” cerita Tania.

Sontak, Tania pun kaget karena sang guru yang selama ini memotivasinya pergi begitu saja. Kendati demikian, mereka tetap berhubungan lewat gawainya untuk berkomunikasi agar mengetahui perkembangan Tania dalam proses berkarya. “Bahkan, dahulunya saya takut untuk membuat lukisan karena dilarang keluarga,” ujarnya.

Alasannya, Tania dituntut agar maju dalam dunia akademik dan berfokus pada pembelajaran saja. Suatu ketika sang guru mendapati Tania sedang melukis di kelasnya, tentu membuat Ms Aminah terpukau dengan karyanya tersebut.

Tania beranggapan salah bahwa Ms Aminah malah mendukungnya. Bahkan, dia melihat sang guru selalu mendorong karena melihat potensi di dalam dirinya sendiri. Hingga akhirnya, dia pun termotivasi dan memiliki keyakinan dalam menjalani bakatnya dibidang seni rupa.

Kurator Senandika Perempuan, Rizky Amrullah Setiawan menyampaikan bahwa awalnya Tania merasa tidak pede. Sebagai pelukis pemula, menurutnya sangat penting untuk memanfaatkan momentum seperti ini agar terus mendorongnya ke arah lebih baik lagi.

“Untuk menyelenggarakan pameran tunggal, pasti ada kekurangannya tersendiri. Baik senior maupun junior, pasti ada keraguan untuk memulainya,” jelas Iki, sapaan akrabnya.

Dengan ragam karya ini, Rizky pun melihat keindahan yang memukau dibalik kekaryaannya tersebut. Menurutnya, nampak manis jika dilihat secara seksama yang artinya enak dipandang dan mudah dimengerti.

“Walaupun, saya melihat banyak lukisan-lukisan Tania ini bentuk karyanya masih tahap belajar atau pemula. Dan teringat yang disampaikan oleh Rokhyat, pelukis Kalimantan Selatan bahwa saya juga sempat tidak pede. Kalau lukisan pertama itu memang dipandang biasa saja tetapi bakal jadi penawar untuk karya selanjutnya,” [email protected]

Facebook Comments